IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

Aksi Demonstrasi, Obligasi Indonesia Terkena Tekanan Jual

By Aurelia 37 mins ago Ekonomi
Image source: AP/ nasional.kompas.com
SHARE

[Medan | 28 Agustus 2026] Pasar surat utang Indonesia menghadapi tekanan jual pada perdagangan Kamis (27/8/2026), seiring investor mencermati aksi demonstrasi di Gedung DPR/MPR. Tekanan tersebut tercermin dari kenaikan yield di sebagian besar tenor, yang menunjukkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap aset domestik.

Melansir data Bloomberg, yield SBN tenor acuan 10 tahun naik paling tinggi sebesar 5 basis poin (bps) menjadi 7,10%. Kenaikan juga terjadi pada tenor 3 tahun sebesar 3,8 bps menjadi 6,72%, tenor 9 tahun naik 3,4 bps menjadi 7,04%, dan tenor 6 tahun naik 2,5 bps menjadi 6,97%. Sementara itu, yield tenor 4 tahun, 5 tahun, 7 tahun, dan 8 tahun masing-masing meningkat 1,9 bps, 1,2 bps, 1,8 bps, dan 1,9 bps.

Di sisi lain, tekanan pada tenor panjang relatif lebih terbatas. Yield tenor 12 tahun turun 0,6 bps menjadi 7,08%, tenor 13 tahun turun 1,5 bps menjadi 7,28%, sedangkan tenor 18 tahun tidak berubah di 7,26%.

Demo Tingkatkan Risiko Politik

Pergerakan tersebut menunjukkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap potensi gejolak sosial. Pasar mencermati apakah aksi demonstrasi kali ini dapat berkembang menjadi gangguan yang lebih luas terhadap stabilitas politik dan aktivitas ekonomi, terutama dengan adanya memori terhadap rangkaian demonstrasi pada Agustus 2025.

Namun, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas Lionel Priyadi menilai kondisi saat ini berbeda dibandingkan tahun lalu. Pada periode tersebut, demonstrasi berlangsung ketika Bank Indonesia masih berada dalam siklus penurunan suku bunga sehingga tekanan terhadap pasar obligasi relatif lebih terbatas.

Kondisi saat ini dinilai lebih menantang karena ruang pelonggaran moneter tidak sebesar sebelumnya. Bahkan, BI Rate telah meningkat 100 bps sepanjang tahun. “Kemungkinan kenaikan BI Rate lebih lanjut akibat faktor defisit neraca dagang dan neraca berjalan berpeluang memperkuat sentimen bearish bila demonstrasi hari ini tidak ditangani dengan baik,” kata Lionel dalam catatannya.

Rupiah Ikut Tertekan

Risiko terhadap pasar obligasi juga diperkuat oleh pergerakan Rupiah. Pada Kamis (27/8/2026) pukul 10.57 WIB, Rupiah melemah 0,3% ke Rp17.766/US$. Pelemahan Rupiah menjadi perhatian karena tekanan terhadap nilai tukar dapat mempersempit ruang BI untuk melonggarkan kebijakan moneter. Apabila tekanan eksternal dan defisit transaksi berjalan semakin besar, pasar dapat kembali meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga, yang pada akhirnya memberikan tekanan tambahan terhadap harga SBN.

Likuiditas Masih Jadi Penahan

Meski sentimen jangka pendek cenderung bearish, terdapat sejumlah faktor yang dapat membatasi tekanan di pasar SBN. Salah satunya adalah kondisi likuiditas domestik. Lionel mengatakan rencana BI mengurangi frekuensi lelang SRBI menjadi dua pekan sekali berpotensi membuat lebih banyak dana tersedia untuk masuk ke pasar surat utang. Kondisi tersebut semakin didukung oleh posisi kepemilikan SBN oleh perbankan yang masih relatif rendah, sehingga terdapat ruang bagi bank untuk meningkatkan eksposurnya terhadap surat utang pemerintah.

Dengan kata lain, meskipun investor asing lebih berhati-hati, permintaan domestik masih berpotensi menjadi penyangga pasar SBN apabila kondisi likuiditas tetap longgar.

Outlook SBN

Dalam jangka pendek, pasar SBN masih berpotensi menghadapi tekanan selama ketidakpastian politik dan pergerakan Rupiah belum mereda. Lionel memperkirakan yield SBN tenor 10 tahun bergerak di kisaran 7,05%-7,10%. Namun, tekanan tersebut belum tentu berlangsung panjang. Jika demonstrasi berjalan kondusif, tidak terjadi eskalasi, dan likuiditas domestik tetap terjaga, tekanan jual dapat kembali mereda.

Bagi investor, kondisi ini lebih tepat disikapi secara selektif daripada melakukan aksi jual secara agresif. Tenor pendek-menengah dapat menjadi pilihan untuk menjaga risiko durasi, sementara investor dengan horizon lebih panjang dapat mulai mencermati peluang akumulasi apabila yield kembali naik mendekati area 7,10%. Katalis berikutnya tetap berasal dari stabilitas Rupiah, arah kebijakan BI, likuiditas domestik, serta perkembangan pasar US Treasury.

 

You Might Also Like

DPR Targetkan RUU Perampasan Aset Disahkan Desember 2026

Jelang Pidato Warsh, Yield Obligasi AS Kembali Naik

Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur BI, Kemana Arah Suku Bunga?

DSI Siapkan Margin Fee Untuk Ekspor Batubara, Sawit dan Ferroalloy

Inflasi Inti PCE Capai 3,3%, The Fed Bakal Naikkan Suku Bunga?

TAGGED: obligasi indonesia
Aurelia August 28, 2026 August 28, 2026
Previous Article Jelang Pidato Warsh, Yield Obligasi AS Kembali Naik
Next Article DPR Targetkan RUU Perampasan Aset Disahkan Desember 2026
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Mentari Greenwich B7-8, Jl. Letda Sujono No.64, Bandar Selamat, Kec. Medan Tembung, Kota Medan, Sumatera Utara 20223
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?