[Medan | 28 Agustus 2026] Pasar surat utang Indonesia menghadapi tekanan jual pada perdagangan Kamis (27/8/2026), seiring investor mencermati aksi demonstrasi di Gedung DPR/MPR. Tekanan tersebut tercermin dari kenaikan yield di sebagian besar tenor, yang menunjukkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap aset domestik.
Melansir data Bloomberg, yield SBN tenor acuan 10 tahun naik paling tinggi sebesar 5 basis poin (bps) menjadi 7,10%. Kenaikan juga terjadi pada tenor 3 tahun sebesar 3,8 bps menjadi 6,72%, tenor 9 tahun naik 3,4 bps menjadi 7,04%, dan tenor 6 tahun naik 2,5 bps menjadi 6,97%. Sementara itu, yield tenor 4 tahun, 5 tahun, 7 tahun, dan 8 tahun masing-masing meningkat 1,9 bps, 1,2 bps, 1,8 bps, dan 1,9 bps.
Di sisi lain, tekanan pada tenor panjang relatif lebih terbatas. Yield tenor 12 tahun turun 0,6 bps menjadi 7,08%, tenor 13 tahun turun 1,5 bps menjadi 7,28%, sedangkan tenor 18 tahun tidak berubah di 7,26%.
Demo Tingkatkan Risiko Politik
Pergerakan tersebut menunjukkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap potensi gejolak sosial. Pasar mencermati apakah aksi demonstrasi kali ini dapat berkembang menjadi gangguan yang lebih luas terhadap stabilitas politik dan aktivitas ekonomi, terutama dengan adanya memori terhadap rangkaian demonstrasi pada Agustus 2025.
Namun, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas Lionel Priyadi menilai kondisi saat ini berbeda dibandingkan tahun lalu. Pada periode tersebut, demonstrasi berlangsung ketika Bank Indonesia masih berada dalam siklus penurunan suku bunga sehingga tekanan terhadap pasar obligasi relatif lebih terbatas.
Kondisi saat ini dinilai lebih menantang karena ruang pelonggaran moneter tidak sebesar sebelumnya. Bahkan, BI Rate telah meningkat 100 bps sepanjang tahun. “Kemungkinan kenaikan BI Rate lebih lanjut akibat faktor defisit neraca dagang dan neraca berjalan berpeluang memperkuat sentimen bearish bila demonstrasi hari ini tidak ditangani dengan baik,” kata Lionel dalam catatannya.
Rupiah Ikut Tertekan
Risiko terhadap pasar obligasi juga diperkuat oleh pergerakan Rupiah. Pada Kamis (27/8/2026) pukul 10.57 WIB, Rupiah melemah 0,3% ke Rp17.766/US$. Pelemahan Rupiah menjadi perhatian karena tekanan terhadap nilai tukar dapat mempersempit ruang BI untuk melonggarkan kebijakan moneter. Apabila tekanan eksternal dan defisit transaksi berjalan semakin besar, pasar dapat kembali meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga, yang pada akhirnya memberikan tekanan tambahan terhadap harga SBN.
Likuiditas Masih Jadi Penahan
Meski sentimen jangka pendek cenderung bearish, terdapat sejumlah faktor yang dapat membatasi tekanan di pasar SBN. Salah satunya adalah kondisi likuiditas domestik. Lionel mengatakan rencana BI mengurangi frekuensi lelang SRBI menjadi dua pekan sekali berpotensi membuat lebih banyak dana tersedia untuk masuk ke pasar surat utang. Kondisi tersebut semakin didukung oleh posisi kepemilikan SBN oleh perbankan yang masih relatif rendah, sehingga terdapat ruang bagi bank untuk meningkatkan eksposurnya terhadap surat utang pemerintah.
Dengan kata lain, meskipun investor asing lebih berhati-hati, permintaan domestik masih berpotensi menjadi penyangga pasar SBN apabila kondisi likuiditas tetap longgar.
Outlook SBN
Dalam jangka pendek, pasar SBN masih berpotensi menghadapi tekanan selama ketidakpastian politik dan pergerakan Rupiah belum mereda. Lionel memperkirakan yield SBN tenor 10 tahun bergerak di kisaran 7,05%-7,10%. Namun, tekanan tersebut belum tentu berlangsung panjang. Jika demonstrasi berjalan kondusif, tidak terjadi eskalasi, dan likuiditas domestik tetap terjaga, tekanan jual dapat kembali mereda.
Bagi investor, kondisi ini lebih tepat disikapi secara selektif daripada melakukan aksi jual secara agresif. Tenor pendek-menengah dapat menjadi pilihan untuk menjaga risiko durasi, sementara investor dengan horizon lebih panjang dapat mulai mencermati peluang akumulasi apabila yield kembali naik mendekati area 7,10%. Katalis berikutnya tetap berasal dari stabilitas Rupiah, arah kebijakan BI, likuiditas domestik, serta perkembangan pasar US Treasury.

