IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

Jelang Pidato Warsh, Yield Obligasi AS Kembali Naik

By Aurelia 37 mins ago Ekonomi
Image source: AP/ foxbusiness.com
SHARE

[Medan | 28 Agustus 2026] Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) kembali naik tipis untuk hari kedua berturut-turut pada Kamis (27/8/2026), seiring investor bersiap menantikan pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di Jackson Hole pada Jumat (28/8/2026). Kenaikan yield terutama terjadi pada tenor panjang, mencerminkan kehati-hatian investor terhadap prospek inflasi dan fiskal AS.

Yield naik sekitar 1–2 basis poin di berbagai tenor, dengan Treasury 30 tahun naik ke 5,19%. Yield tenor panjang masih berada di bawah tekanan setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi sejak 2007. Kondisi tersebut membuat Departemen Keuangan AS meningkatkan pembelian kembali (buyback) surat utang berjangka panjang sebagai salah satu upaya menjaga kondisi pasar Treasury.

Pasar Menanti Sinyal Hawkish Warsh

Investor kini fokus pada apakah Warsh akan memberikan sinyal mengenai arah kebijakan moneter The Fed, terutama setelah data inflasi PCE terbaru menunjukkan tekanan harga masih tinggi. Sejumlah investor memperkirakan Warsh akan menyampaikan pandangan yang cenderung hawkish untuk menegaskan komitmen The Fed terhadap stabilitas harga.

Kepala Ekonom Apollo Global Management Torsten Slok mengatakan Warsh kemungkinan akan memberikan prospek ekonomi dengan nuansa hawkish ketika berbicara di Wyoming. Menurutnya, apabila Warsh tidak memberikan kejelasan mengenai kerangka kebijakan, risiko kenaikan yield jangka panjang akan semakin besar.

“Jika dia tidak memberikan panduan kerangka kebijakan apa pun, risikonya adalah yield jangka panjang akan bergerak jauh lebih tinggi,” kata Slok dalam wawancara dengan Bloomberg TV.

Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Mulai Berubah

Para pembuat kebijakan The Fed mempertahankan suku bunga federal funds pada kisaran 3,5%-3,75% dalam pertemuan terakhir. Pasar futures sebelumnya memperkirakan terdapat peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun.

Namun, aktivitas perdagangan pada Kamis menunjukkan sebagian investor mulai mengambil posisi yang lebih hati-hati terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Pembelian besar sekitar 45.000 kontrak federal funds futures Oktober mengindikasikan sebagian pelaku pasar memperkirakan tidak ada perubahan suku bunga hingga Desember.

Meski demikian, pasar masih memperhitungkan sekitar sepertiga peluang kenaikan 25 basis poin pada September. Artinya, ketidakpastian mengenai arah kebijakan The Fed masih cukup tinggi dan sangat bergantung pada sinyal yang diberikan Warsh.

Data Ekonomi Masih Jadi Penopang Yield

Kenaikan yield juga terjadi setelah data ekonomi AS menunjukkan klaim tunjangan pengangguran turun dibandingkan pekan sebelumnya. Data tersebut memberikan sinyal bahwa kondisi pasar tenaga kerja masih cukup kuat, sehingga memperkecil urgensi The Fed untuk segera melonggarkan kebijakan.

Di sisi lain, lelang Treasury US$44 miliar bertenor tujuh tahun mendapat permintaan yang solid. Namun, permintaan tersebut belum cukup untuk mendorong yield turun secara signifikan karena investor masih memperhitungkan risiko inflasi dan kebutuhan pembiayaan pemerintah AS.

Implikasi ke Pasar Indonesia

Pergerakan Treasury menjadi penting bagi pasar Indonesia karena kenaikan yield AS dapat meningkatkan daya tarik aset dolar dan memberikan tekanan terhadap aset emerging market, termasuk Rupiah dan SBN. Jika Warsh memberikan sinyal hawkish, yield Treasury berpotensi kembali naik dan mendorong investor asing untuk lebih selektif terhadap obligasi negara berkembang.

Sebaliknya, apabila Warsh memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga tidak menjadi skenario utama dan inflasi dinilai masih menuju target secara bertahap, yield Treasury berpotensi terkoreksi. Kondisi tersebut dapat memberikan ruang bagi Rupiah dan SBN untuk menguat.

Bagi investor SBN, tenor pendek-menengah relatif lebih defensif, sementara tenor panjang masih perlu dicermati karena sangat sensitif terhadap pergerakan Treasury dan ekspektasi suku bunga global. Dengan pidato Warsh menjadi katalis utama, pasar kemungkinan masih akan bergerak volatil hingga arah kebijakan The Fed semakin jelas.

 

You Might Also Like

DPR Targetkan RUU Perampasan Aset Disahkan Desember 2026

Aksi Demonstrasi, Obligasi Indonesia Terkena Tekanan Jual

Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur BI, Kemana Arah Suku Bunga?

DSI Siapkan Margin Fee Untuk Ekspor Batubara, Sawit dan Ferroalloy

Inflasi Inti PCE Capai 3,3%, The Fed Bakal Naikkan Suku Bunga?

TAGGED: pidato kevin warsh, suku bunga AS, The Fed
Aurelia August 28, 2026 August 28, 2026
Previous Article Morgan Stanley Borong Saham GOTO di Harga Rp 23, Ada Apa?
Next Article Aksi Demonstrasi, Obligasi Indonesia Terkena Tekanan Jual
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Mentari Greenwich B7-8, Jl. Letda Sujono No.64, Bandar Selamat, Kec. Medan Tembung, Kota Medan, Sumatera Utara 20223
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?