[Medan | 27 Juli 2026] Harga minyak dunia jatuh lebih dari 5% pada perdagangan Senin (27/7/2026) setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran sama-sama menahan aksi militer selama dua hari terakhir. Meredanya eskalasi konflik di Timur Tengah memunculkan harapan bahwa kedua negara kembali membuka ruang diplomasi sehingga risiko gangguan pasokan energi global mulai berkurang.
Pada pukul 05.15 WIB, harga minyak mentah Brent untuk kontrak September 2026 turun 5,77% menjadi US$91,20 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 5,5% ke level US$84,40 per barel. Penurunan tersebut terjadi setelah reli tajam harga minyak dalam beberapa pekan terakhir yang dipicu kekhawatiran terhadap gangguan distribusi energi melalui Selat Hormuz dan Laut Merah.
AS dan Iran Sama-sama Menahan Serangan
Sentimen positif datang setelah Presiden AS Donald Trump memutuskan menghentikan sementara operasi militer terhadap Iran yang telah berlangsung selama hampir dua pekan. Keputusan tersebut diambil setelah para penasihat keamanan menyampaikan bahwa sebagian besar target militer yang telah direncanakan sebelumnya telah diserang. Selain itu, pemerintah AS juga mulai mempertimbangkan risiko menipisnya persediaan amunisi apabila operasi militer terus berlanjut.
Di sisi lain, Iran juga memberikan sinyal serupa. Seorang pejabat senior Iran mengatakan Teheran akan menghentikan serangan selama Amerika Serikat tidak kembali melancarkan serangan militer. Sikap tersebut menciptakan jeda pertama setelah hampir dua pekan kedua negara saling melancarkan serangan setiap malam.
Peluang Diplomasi Mulai Terbuka
Duta Besar Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Mike Waltz, mengatakan penghentian sementara operasi militer merupakan keputusan Presiden Trump untuk memberikan ruang bagi jalur diplomasi. Menurutnya, Washington masih membuka peluang penyelesaian konflik melalui negosiasi tanpa harus melanjutkan operasi militer berskala besar.
Meski demikian, pemerintah Iran masih bersikap hati-hati. Sejumlah pejabat Iran menilai penghentian serangan tersebut kemungkinan hanya bersifat sementara sehingga Teheran belum sepenuhnya percaya bahwa ketegangan benar-benar mereda.
Risiko Pasokan Minyak Mulai Berkurang
Selama beberapa pekan terakhir, harga minyak melonjak tajam karena pasar mengkhawatirkan terganggunya distribusi minyak melalui Selat Hormuz yang merupakan jalur sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Dengan berhentinya sementara operasi militer kedua negara, pelaku pasar mulai menilai risiko gangguan pasokan energi menjadi lebih rendah dibandingkan sebelumnya. Harapan tersebut mendorong investor melakukan aksi ambil untung setelah harga minyak sempat melonjak hingga mendekati US$100 per barel pada pekan lalu.
Dampaknya ke Pasar Keuangan
Turunnya harga minyak berpotensi menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan global. Harga energi yang lebih rendah dapat mengurangi tekanan inflasi sehingga memberikan ruang bagi bank sentral untuk tidak kembali memperketat kebijakan moneter. Kondisi tersebut umumnya mendukung pasar saham dan obligasi karena ekspektasi kenaikan suku bunga menjadi lebih rendah.
Bagi Indonesia, pelemahan harga minyak juga dapat membantu mengurangi tekanan terhadap neraca perdagangan migas, subsidi energi, serta inflasi domestik. Jika tren ini berlanjut, tekanan terhadap rupiah berpotensi mereda dan sentimen terhadap pasar obligasi maupun IHSG dapat membaik.
Meski demikian, investor masih akan mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Selama belum tercapai kesepakatan permanen antara AS dan Iran, risiko eskalasi konflik sewaktu-waktu masih dapat kembali mendorong volatilitas harga minyak dan pasar keuangan global.

