[Medan | 9 September 2026] Saham pertambangan tembaga kembali menjadi perhatian pasar setelah harga tembaga dunia mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Sentimen tersebut mendorong penguatan saham PT Amman Mineral International Tbk (AMMN) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dalam perdagangan Selasa (8/9/2026).
Kenaikan harga tembaga yang didukung ketatnya pasokan dan prospek permintaan jangka panjang membuat kedua emiten kembali dilirik investor, termasuk terlihat dari akumulasi sejumlah broker besar.
AMMN Melonjak 5,9%
Saham AMMN menguat 5,9% ke level Rp4.670 per saham pada perdagangan Selasa. Dalam tiga bulan terakhir, saham emiten tambang yang terafiliasi dengan Grup Salim dan keluarga Panigoro tersebut telah menguat sekitar 41,95%. Kenaikan ini menjadi pemulihan signifikan setelah AMMN sempat tertekan hingga Rp3.060 per saham akibat sentimen MSCI pada awal tahun.
Aktivitas akumulasi juga terlihat dari sejumlah broker. UBS Sekuritas Indonesia (AK) tercatat membeli sekitar 203,9 ribu lot saham AMMN dengan nilai bersih Rp92,9 miliar. Mandiri Sekuritas (CC) mengakumulasi 102,1 ribu lot senilai Rp46,6 miliar, sementara CLSA Sekuritas Indonesia (KZ) membeli sekitar 25 ribu lot senilai Rp11,6 miliar.
MDKA Ikut Menguat 8,33%
Sentimen positif juga mengangkat saham MDKA. Saham emiten tambang yang terafiliasi dengan Grup Saratoga dan Garibaldi “Boy” Thohir tersebut melonjak 8,33% menjadi Rp3.120 per saham. Dalam tiga bulan terakhir, MDKA telah menguat sekitar 21,4%, setelah sebelumnya sempat turun ke Rp2.420 per saham di tengah sentimen rebalancing indeks global.
Sejumlah broker asing turut tercatat melakukan pembelian. CLSA Sekuritas Indonesia (KZ) mengakumulasi sekitar 67,3 ribu lot dengan nilai Rp20,7 miliar, sementara CGS International Sekuritas Indonesia (YU) membeli 61,2 ribu lot senilai Rp18,3 miliar. UBS Sekuritas Indonesia (AK) juga membeli sekitar 44,8 ribu lot dengan nilai Rp14 miliar.
Harga Tembaga Tembus US$14.700
Penguatan saham tambang tersebut tidak terlepas dari reli harga tembaga. Harga logam merah tersebut telah menembus US$14.700 per ton, mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Kenaikan harga mencerminkan ketatnya pasokan dalam jangka pendek, sementara pasar juga mengantisipasi kemungkinan Amerika Serikat menerapkan tarif terhadap impor logam olahan.
Dalam jangka panjang, fundamental tembaga tetap ditopang ketidakseimbangan antara pasokan tambang yang terbatas dan permintaan yang terus meningkat. Pertumbuhan pusat data, energi terbarukan, kendaraan listrik, serta pembangunan jaringan listrik menjadi sejumlah sumber permintaan baru.
Pasokan Tambang Semakin Ketat
Kenaikan harga tembaga juga terjadi ketika pasokan tambang global menghadapi sejumlah gangguan. Produksi tembaga tambang dunia bahkan berpotensi mencatat penurunan tahunan pertama sejak 2017 apabila produksi tidak kembali pulih pada paruh kedua tahun ini. Gangguan produksi terjadi di sejumlah wilayah penghasil tembaga, sementara pembangunan tambang baru dan ekspansi tambang yang sudah ada membutuhkan waktu panjang.
Kondisi tersebut membuat pasar semakin sensitif terhadap setiap gangguan pasokan. Di sisi lain, harga yang tinggi memang dapat mendorong pengguna mencari material alternatif, tetapi tekanan tersebut sejauh ini belum cukup kuat untuk menghentikan reli tembaga.
China Perkuat Impor Tembaga
China sebagai konsumen tembaga terbesar dunia turut menjadi faktor penting dalam dinamika pasar. Pada awal tahun, impor tembaga olahan China meningkat ketika smelter domestik menghadapi keterbatasan konsentrat tembaga untuk diproses serta minimnya pasokan tembaga bekas atau scrap. Arus permintaan dari China tersebut semakin memperketat pasar fisik tembaga dan memperkuat momentum kenaikan harga yang sebelumnya sudah didorong oleh potensi tarif AS.
AMMN Pertimbangkan Dual Listing
Selain sentimen harga komoditas, AMMN juga memiliki potensi katalis dari rencana aksi korporasi. Amman Mineral dikabarkan tengah mempertimbangkan dual listing di Bursa Hong Kong dan disebut telah mulai mencari sejumlah bank untuk menangani rencana tersebut. Jika terealisasi, langkah ini akan mengikuti jejak emiten tambang sejenis, PT Merdeka Gold Resources, yang sebelumnya berhasil menghimpun sekitar US$304 juta melalui penerbitan Hong Kong depositary receipts pada Juni lalu.
Dari sisi fundamental, AMMN juga menunjukkan perbaikan kinerja. Perseroan membukukan laba bersih sekitar US$160 juta pada kuartal I, berbalik dari rugi US$139 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Dengan harga tembaga yang masih berada di level tinggi, prospek kinerja emiten tambang tembaga akan sangat bergantung pada keberlanjutan reli komoditas serta kemampuan perusahaan meningkatkan produksi di tengah kondisi pasokan global yang semakin ketat.

