[Medan | 27 Juli 2026] Pelaku pasar global akan mengalihkan perhatian pada dua bank sentral utama dunia pekan ini, yakni Federal Reserve (The Fed) dan Bank of Japan (BoJ), yang dijadwalkan mengumumkan hasil rapat kebijakan moneternya hanya berselang dua hari. Mayoritas ekonom memperkirakan kedua bank sentral akan mempertahankan suku bunga acuannya, meski pasar masih mewaspadai nada pernyataan (forward guidance) yang akan disampaikan.
Keputusan tersebut dinilai akan menjadi penentu arah pergerakan dolar AS, yen Jepang, imbal hasil obligasi global, hingga arus modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
Pasar Masih Berspekulasi The Fed Bisa Kembali Hawkish
The Fed diperkirakan kembali mempertahankan Fed Funds Rate di kisaran 3,50%-3,75%, yang berarti menjadi kali kelima berturut-turut sejak Desember 2025 tidak mengubah suku bunga. Meski demikian, ekspektasi pasar sempat berubah dalam beberapa pekan terakhir. Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Juli sempat meningkat hingga sekitar 38%, terutama setelah lonjakan harga minyak dunia yang kembali menembus US$100 per barel akibat meningkatnya konflik di Timur Tengah.
Harga energi yang lebih tinggi dikhawatirkan kembali mendorong inflasi Amerika Serikat sehingga dapat memaksa The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Namun, data inflasi Juni justru menunjukkan perlambatan. Inflasi bulanan tercatat turun 0,4%, sementara inflasi tahunan melandai menjadi 3,5% dari sebelumnya 4,2%. Kondisi tersebut membuat mayoritas pelaku pasar masih memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan pekan ini.
Fokus investor kini bukan hanya pada keputusan suku bunga, tetapi juga pada pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell mengenai prospek inflasi, kondisi ekonomi AS, serta peluang perubahan kebijakan pada pertemuan berikutnya.
Bank of Japan Diperkirakan Tetap Tahan Suku Bunga
Di Jepang, Bank of Japan juga diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan di level 1%. Meski demikian, perhatian pasar tertuju pada pelemahan nilai tukar yen yang sempat menyentuh level terendah dalam hampir empat dekade terhadap dolar AS.
Pemerintah Jepang telah beberapa kali menyampaikan kesiapan melakukan intervensi apabila pelemahan yen dinilai terlalu berlebihan. Oleh karena itu, investor akan mencermati apakah Gubernur BoJ Kazuo Ueda memberikan sinyal mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga pada beberapa bulan mendatang.
Apabila BoJ mulai membuka peluang normalisasi kebijakan moneter, penguatan yen berpotensi mengurangi arus dana keluar Jepang menuju aset berisiko di negara lain.
Dampaknya ke IHSG, Rupiah, dan Obligasi Indonesia
Bagi pasar keuangan Indonesia, keputusan The Fed dan BoJ berpotensi menjadi sentimen utama dalam jangka pendek. Apabila kedua bank sentral sama-sama mempertahankan suku bunga tanpa memberikan sinyal pengetatan lanjutan (hawkish), sentimen global cenderung lebih kondusif. Kondisi tersebut berpotensi mendorong aliran dana asing kembali masuk ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Bagi IHSG, kondisi tersebut dapat menjadi katalis positif karena ketidakpastian global berkurang sehingga minat investor terhadap aset berisiko meningkat. Di pasar obligasi, ekspektasi suku bunga global yang stabil dapat mendorong kenaikan harga Surat Berharga Negara (SBN), sehingga yield berpotensi turun seiring meningkatnya permintaan investor. Sementara itu, rupiah juga berpeluang menguat apabila tekanan dari dolar AS mereda dan arus modal asing kembali masuk ke pasar domestik.
Namun sebaliknya, apabila The Fed memberikan sinyal masih membuka peluang kenaikan suku bunga akibat risiko inflasi dari lonjakan harga minyak, maka dolar AS berpotensi kembali menguat. Kondisi tersebut dapat memicu tekanan terhadap rupiah, mendorong kenaikan yield obligasi, serta meningkatkan aksi profit taking di pasar saham Indonesia.
Secara keseluruhan, pasar saat ini lebih menunggu arah kebijakan ke depan dibanding keputusan suku bunga itu sendiri. Nada pernyataan (forward guidance) dari The Fed maupun Bank of Japan akan menjadi faktor yang paling menentukan arah pergerakan pasar keuangan global dalam beberapa pekan mendatang.

