[Medan | 31 Agustus 2026] Ketua Federal Reserve Kevin Warsh memberikan sinyal yang lebih hawkish mengenai arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS). Warsh menilai inflasi belum menunjukkan kemajuan yang cukup menuju target 2%, sehingga The Fed masih memiliki pekerjaan untuk memastikan tekanan harga kembali terkendali.
Pernyataan tersebut langsung mengubah ekspektasi pasar. Mengutip Bloomberg, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) 15-16 September 2026 meningkat menjadi sekitar 50%, dari sebelumnya sekitar 35% sebelum pidato Warsh di simposium ekonomi Jackson Hole.
Warsh Soroti Inflasi yang Masih Tinggi
Dalam pidatonya, Warsh menegaskan bahwa The Fed harus memastikan inflasi yang mendasari bergerak menuju target 2% dengan kecepatan yang memadai. Jika tidak, bank sentral masih perlu mengambil langkah untuk meredam tekanan harga. “Dengan standar saya, kita harus yakin bahwa inflasi yang mendasari bergerak menuju tujuan kita, yaitu 2%, secara jelas dan dengan kecepatan yang memadai. Jika tidak, kita masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan. Itulah tugas dan mandat kita,” ujar Warsh.
Inflasi berdasarkan Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index tercatat mencapai 3,7% secara tahunan pada Juli 2026, masih jauh di atas target The Fed sebesar 2%. Warsh juga mencatat bahwa sekitar separuh komponen dalam keranjang barang dan jasa PCE masih mengalami kenaikan harga lebih dari 3% secara tahunan. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan inflasi yang mendasari belum sepenuhnya mereda.
Peluang Kenaikan Suku Bunga Tembus 50%
Sebelum pidato Warsh, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September berada di kisaran sepertiga atau sekitar 35%. Namun, setelah pernyataan tersebut, probabilitasnya meningkat menjadi sekitar 50%. Pasar bahkan memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada atau sebelum pertemuan Desember telah mencapai lebih dari 90%.
Suku bunga acuan The Fed saat ini berada di kisaran 3,50%-3,75% dan telah dipertahankan sejak Desember 2025. Pada pertemuan Juli 2026, tiga pejabat The Fed bahkan menyampaikan perbedaan pendapat terhadap keputusan mempertahankan suku bunga.
Data Inflasi dan Tenaga Kerja Jadi Penentu
Meski memberikan sinyal hawkish, Warsh tidak memberikan waktu spesifik mengenai kapan kenaikan suku bunga akan dilakukan. Ia juga menegaskan bahwa pidatonya bukan merupakan forward guidance yang secara spesifik dapat dijadikan acuan kebijakan.
Karena itu, pasar masih akan menunggu sejumlah data ekonomi penting sebelum FOMC September. Data inflasi AS untuk Agustus yang dijadwalkan dirilis pada 11 September akan menjadi salah satu indikator terpenting, hanya beberapa hari sebelum pertemuan FOMC.
Selain inflasi, investor akan mencermati data pengangguran dan pertumbuhan lapangan kerja. Apabila inflasi kembali meningkat sementara pasar tenaga kerja tetap kuat, tekanan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga akan semakin besar. Sebaliknya, pelemahan aktivitas ekonomi dan pasar tenaga kerja dapat menjadi alasan bagi The Fed untuk menahan suku bunga meskipun inflasi masih berada di atas target.
Tekanan Politik Ikut Membayangi
Keputusan The Fed untuk menaikkan suku bunga juga berpotensi menghadapi tekanan politik. Presiden AS Donald Trump berulang kali mendorong suku bunga yang lebih rendah dan sebelumnya mengkritik kepemimpinan The Fed karena dinilai terlalu lambat memangkas suku bunga.
Stephanie Roth, chief economist Wolfe Research, menilai pidato Warsh memberikan dasar yang cukup kuat bagi kenaikan suku bunga September. Namun, ia masih melihat peluangnya sedikit di bawah 50-50 karena terdapat faktor politik dan ketidakpastian data yang akan datang. Sementara itu, mantan Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Loretta Mester menilai Warsh telah memberikan alasan kuat bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga.
Dampak ke Rupiah dan SBN
Bagi pasar negara berkembang, sinyal hawkish dari The Fed berpotensi menjadi sentimen negatif. Kenaikan ekspektasi suku bunga AS dapat mendorong penguatan dolar AS dan meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dari sisi fixed income, yield US Treasury berpotensi bertahan tinggi apabila pasar semakin yakin bahwa The Fed akan kembali mengetatkan kebijakan. Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap SBN, terutama tenor panjang yang lebih sensitif terhadap perubahan yield global.
Dengan peluang kenaikan suku bunga September yang kini mendekati 50%, pasar akan memasuki periode wait and see hingga rilis data inflasi dan tenaga kerja AS. Kuncinya bukan lagi apakah Warsh hawkish, tetapi apakah data ekonomi berikutnya cukup kuat untuk mengubah sinyal tersebut menjadi kenaikan suku bunga yang benar-benar terjadi.

