IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

AS-Iran Mulai Negosiasi Lagi, Harga Minyak Turun ke Bawah US$ 90 per Barel

By Aurelia 2 hours ago Ekonomi
Image source: AP/ wsj.com
SHARE

[Medan | 28 Juli 2026] Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Selasa (28/7/2026) setelah muncul sinyal bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali membuka jalur negosiasi. Pelaku pasar mulai berharap ketegangan di Timur Tengah dapat mereda sehingga risiko gangguan pasokan minyak global ikut berkurang.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent turun US$0,54 atau 0,6% menjadi US$87,82 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah US$0,66 atau 0,8% ke level US$81,95 per barel. Sebelumnya, kedua kontrak sempat menyentuh level terendah dalam lebih dari sepekan.

Harapan Diplomasi Redakan Ketegangan

Penurunan harga minyak dipicu pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengatakan bahwa pembicaraan dengan Iran berlangsung positif dan masih terbuka peluang tercapainya penyelesaian diplomatik.

Meski demikian, Trump menegaskan operasi militer dapat kembali dilanjutkan apabila proses negosiasi tidak menghasilkan kesepakatan. Iran juga memberikan sinyal serupa dengan menyatakan akan menghentikan serangan selama AS tidak kembali melakukan aksi militer. Harapan bahwa kedua negara memilih jalur diplomasi membuat pelaku pasar mulai mengurangi kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.

Ancaman di Jalur Pelayaran Masih Membayangi

Meski tensi mulai mereda, risiko terhadap jalur distribusi energi global belum sepenuhnya hilang. Kelompok Houthi di Yaman masih menjadi perhatian setelah sebelumnya mengancam lalu lintas kapal di Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur utama pengiriman minyak dunia selain Selat Hormuz.

Menteri Luar Negeri terpilih Yaman, Afrah al-Zouba, menilai Houthi berupaya memperluas pengaruhnya di Laut Merah dengan meniru strategi Iran dalam mengendalikan Selat Hormuz. Namun, sejumlah analis menilai kemampuan Houthi untuk memblokade jalur pelayaran secara penuh masih terbatas mengingat Arab Saudi diperkirakan akan terus melakukan operasi militer terhadap kelompok tersebut.

Permintaan Minyak Asia Masih Lemah

Selain faktor geopolitik, pelemahan harga minyak juga dipengaruhi oleh kondisi fundamental pasar. Analis Marex Edward Meir mengatakan permintaan minyak dari kawasan Asia masih relatif lemah sehingga membatasi kenaikan harga meskipun risiko geopolitik masih tinggi.

Sementara itu, Barclays melaporkan arus ekspor minyak melalui Selat Hormuz masih jauh di bawah kondisi normal. Pada pekan yang berakhir 24 Juli, ekspor minyak melalui jalur tersebut hanya mencapai sekitar 2,9 juta barel per hari, turun dari 5,9 juta barel per hari pada pekan sebelumnya.

Di sisi lain, investor juga menunggu data persediaan minyak mentah Amerika Serikat. Survei awal Reuters memperkirakan stok minyak mentah dan bensin AS menurun pada pekan lalu, sementara persediaan distilat diperkirakan meningkat.

Dampak ke Pasar

Turunnya harga minyak memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan karena mengurangi kekhawatiran inflasi global yang sebelumnya meningkat akibat lonjakan harga energi. Apabila harga minyak mampu bertahan di bawah US$90 per barel, tekanan terhadap bank sentral untuk kembali menaikkan suku bunga juga berpotensi berkurang.

Bagi Indonesia, kondisi ini dapat menjadi katalis positif bagi IHSG, terutama sektor-sektor yang sensitif terhadap biaya energi seperti transportasi, manufaktur, konsumsi, dan emiten dengan beban operasional tinggi. Sebaliknya, saham-saham sektor energi berpotensi mengalami tekanan akibat turunnya harga minyak.

Di pasar obligasi, meredanya kekhawatiran inflasi berpotensi meningkatkan minat investor terhadap Surat Berharga Negara (SBN), sehingga harga obligasi berpeluang menguat dan yield cenderung menurun.

Sementara itu, rupiah juga berpotensi memperoleh sentimen positif apabila harga minyak terus melemah karena dapat mengurangi tekanan impor energi Indonesia, memperbaiki ekspektasi defisit transaksi berjalan, serta meningkatkan minat investor terhadap aset-aset di pasar negara berkembang. Namun, arah pergerakan rupiah tetap akan dipengaruhi perkembangan negosiasi AS-Iran dan keputusan suku bunga The Fed yang dijadwalkan berlangsung pekan ini.

 

You Might Also Like

The Fed Diperkirakan Tahan Suku Bunga, Tapi Potensi Naik Masih Terbuka

BEI Rombak Indeks LQ45, IDX30 dan IDX80, Ini Daftar Terbarunya!

Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar Usai Gubernur BI Perry Warjiyo Mundur

Bursa Korea dan Jepang Terjun Bebas Hari Ini, Ada Apa?

Ketegangan AS-Iran Mereda, Bursa Asia Siap Menguat Lagi?

TAGGED: harga minyak, Iran-AS negosiasi
Aurelia July 28, 2026 July 28, 2026
Previous Article BEI Rombak Indeks LQ45, IDX30 dan IDX80, Ini Daftar Terbarunya!
Next Article The Fed Diperkirakan Tahan Suku Bunga, Tapi Potensi Naik Masih Terbuka
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Komplek CitraLand Gama City, Madison Avenue, Blok R6 No. 90, Deli Serdang, Sumatera Utara, Indonesia
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?