[Medan | 28 Juli 2026] Pasar global tengah menantikan keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang akan diumumkan pada Rabu (29/7/2026). Berbeda dengan beberapa pertemuan sebelumnya, keputusan kali ini dinilai menjadi salah satu yang paling sulit diprediksi karena bank sentral AS dihadapkan pada dua kondisi yang saling bertolak belakang, yakni inflasi yang mulai melandai namun di sisi lain harga minyak kembali melonjak akibat konflik Timur Tengah.
Pelaku pasar saat ini masih memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga. Namun, peluang kenaikan suku bunga kembali meningkat dalam beberapa pekan terakhir sehingga membuat ketidakpastian pasar semakin tinggi.
Peluang The Fed Menahan Suku Bunga Masih Lebih Besar
Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang The Fed mempertahankan suku bunga berada di sekitar 62%, sedangkan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin mencapai sekitar 37%.
Probabilitas kenaikan tersebut meningkat tajam dibandingkan pertengahan Juli ketika peluang kenaikan hanya sekitar 12%. Perubahan ekspektasi tersebut terutama dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia yang kembali menembus US$100 per barel akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Meski demikian, data inflasi Amerika Serikat justru menunjukkan tren yang lebih baik. Inflasi inti (Core CPI) Juni melambat menjadi 2,6% dari sebelumnya 2,9%, sedangkan inflasi umum turun menjadi 3,5% dari 4,2%, didukung penurunan harga energi dan biaya perumahan. Kondisi tersebut membuat sebagian besar ekonom menilai The Fed masih memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga sambil menunggu data inflasi beberapa bulan ke depan.
Perdebatan Internal The Fed Masih Berlanjut
Perbedaan pandangan di internal The Fed juga diperkirakan kembali muncul pada rapat pekan ini. Sejumlah pejabat seperti Lisa Cook, Philip Jefferson, Chris Waller, dan Presiden The Fed New York John Williams cenderung mendukung mempertahankan suku bunga karena melihat inflasi mulai bergerak menuju target 2%.
Namun di sisi lain, Presiden Federal Reserve Dallas Lorie Logan menilai inflasi masih terlalu tinggi sehingga kenaikan suku bunga tetap diperlukan untuk memastikan tekanan harga benar-benar terkendali.
Mantan Presiden Federal Reserve Kansas City Esther George bahkan menilai peluang kenaikan maupun penahanan suku bunga saat ini hampir seimbang. Menurutnya, kenaikan sebesar 25 basis poin masih merupakan opsi yang realistis apabila The Fed ingin menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali.
Harga Minyak Jadi Faktor Penentu
Perkembangan konflik di Timur Tengah menjadi salah satu perhatian utama The Fed. Lonjakan harga minyak berpotensi kembali mendorong inflasi energi sehingga dapat menghambat proses penurunan inflasi yang selama beberapa bulan terakhir mulai terlihat.
Meski demikian, sejumlah ekonom menilai dampak kenaikan harga minyak terhadap inflasi inti kemungkinan tidak akan sebesar periode 2022–2023 karena konsumsi masyarakat mulai melambat dan permintaan domestik tidak sekuat sebelumnya.
Apabila harga minyak bertahan di atas US$100 per barel dalam waktu yang lama, risiko inflasi kembali meningkat akan semakin besar dan dapat memperkuat alasan The Fed untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya.
Ketua The Fed Baru Jadi Sorotan Pasar
Pertemuan kali ini juga menjadi perhatian karena dipimpin Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh. Berbeda dengan era sebelumnya yang cenderung memberikan petunjuk arah kebijakan jauh sebelum rapat, Warsh menginginkan komunikasi yang lebih terbatas sehingga pasar harus lebih banyak mengandalkan data ekonomi dibandingkan sinyal dari bank sentral. Karena itu, konferensi pers Warsh setelah keputusan suku bunga diperkirakan akan menjadi fokus utama investor untuk mencari petunjuk arah kebijakan moneter hingga akhir tahun.
Dampak ke Pasar Keuangan
Keputusan The Fed akan menjadi katalis utama bagi pasar global, termasuk Indonesia. Apabila The Fed mempertahankan suku bunga, ketidakpastian pasar diperkirakan berkurang sehingga sentimen terhadap aset berisiko cenderung membaik. IHSG berpeluang melanjutkan penguatan, terutama pada sektor perbankan, properti, dan saham-saham berorientasi domestik. Rupiah juga berpotensi menguat karena tekanan terhadap dolar AS berkurang, sementara harga obligasi pemerintah berpeluang naik sehingga yield SBN cenderung turun.
Sebaliknya, jika The Fed kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, dolar AS berpotensi menguat dan mendorong arus modal keluar (capital outflow) dari pasar negara berkembang. Kondisi tersebut dapat menekan IHSG, terutama sektor yang sensitif terhadap suku bunga seperti properti dan konsumer. Rupiah juga berpotensi melemah terhadap dolar AS, sedangkan pasar obligasi berisiko mengalami tekanan jual sehingga yield Surat Berharga Negara (SBN) cenderung naik.
Bagi investor, skenario The Fed menahan suku bunga akan lebih mendukung aset berisiko seperti saham dan obligasi. Namun apabila The Fed kembali menaikkan suku bunga, investor cenderung akan meningkatkan porsi aset defensif, menjaga likuiditas, serta lebih selektif dalam memilih saham maupun obligasi hingga arah kebijakan moneter menjadi lebih jelas.

