[Medan | 5 Mei 2026] Harga minyak dunia kembali melonjak tajam setelah eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Minyak Brent ditutup naik sekitar 5,8% ke US$114,44 per barel, sementara WTI menguat 4,4% ke US$106,42 per barel. Kenaikan ini mencerminkan peningkatan premi risiko geopolitik yang signifikan dalam waktu singkat.
Serangan di Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Pasokan
Ketegangan meningkat setelah Iran melancarkan serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz serta fasilitas energi di Uni Emirat Arab. Aksi ini terjadi di tengah upaya Donald Trump untuk membuka kembali jalur pelayaran menggunakan armada laut AS, yang justru memicu eskalasi lanjutan.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan LNG global, sehingga gangguan sekecil apa pun langsung berdampak pada keseimbangan pasar energi dunia.
Risiko Disrupsi Pasokan Global Meningkat
Serangan terhadap kapal dagang, termasuk milik Korea Selatan dan UEA, mempertegas risiko gangguan distribusi energi global. Militer Amerika Serikat dilaporkan merespons dengan menghancurkan aset militer Iran serta mencegat rudal dan drone.
Analis memperkirakan harga minyak akan tetap berada di atas US$100 per barel, bahkan berpotensi mendorong harga bensin AS ke US$5 per galon apabila tidak ada kesepakatan pembukaan kembali jalur pelayaran.
Respons OPEC+ dan Dinamika Produksi
Di tengah ketegangan, kelompok OPEC+ tetap berencana menaikkan produksi sebesar 188.000 barel per hari mulai Juni, meskipun langkah ini dinilai lebih bersifat simbolis dibandingkan dampak gangguan pasokan akibat konflik.

