[Medan | 9 Juni 2026] Harga minyak dunia kembali melonjak pada perdagangan pasca penutupan pasar (post-settlement) Rabu (8/7/2026) setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan militer baru terhadap Iran. Eskalasi konflik semakin meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan kesepakatan gencatan senjata sementara dengan Iran telah berakhir.
Harga minyak mentah Brent naik ke US$79,28 per barel pada perdagangan setelah penutupan, setelah sebelumnya ditutup melonjak lebih dari 5% di level US$78,02 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat ke US$74,76 per barel, dari posisi penutupan sebelumnya di US$73,52 per barel.
Trump Nyatakan Gencatan Senjata Berakhir
Presiden Donald Trump mengatakan kesepakatan sementara yang sebelumnya disepakati dengan Iran tidak lagi berlaku. Meski demikian, Trump menegaskan pemerintahannya masih berupaya menghindari perang berskala penuh.
Pernyataan tersebut muncul hanya beberapa jam sebelum militer AS kembali melancarkan operasi terhadap sejumlah target di Iran.
Militer AS Lancarkan Serangan Baru
Komando Pusat Militer AS (U.S. Central Command/CENTCOM) mengonfirmasi telah memulai operasi militer baru dengan alasan menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.
Seorang pejabat AS kepada Reuters mengatakan operasi kali ini diperkirakan lebih besar dibandingkan serangan yang dilakukan sehari sebelumnya.
Media pemerintah Iran melaporkan ledakan terdengar di Bandar Abbas, Pulau Abu Musa, Bushehr, dan sejumlah wilayah lainnya, menandakan meluasnya area operasi militer.
Iran Balas Serang Pangkalan AS
Ketegangan semakin meningkat setelah Iran mengklaim telah menyerang sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait. Serangan tersebut kemudian dibalas oleh militer AS melalui operasi udara terhadap sasaran di wilayah Iran.
Konflik terbaru merupakan lanjutan dari ketegangan yang meningkat setelah Iran menyerang kapal-kapal dagang di Selat Hormuz. Sebagai respons, Washington juga mencabut pelonggaran sanksi yang sebelumnya mengizinkan penjualan minyak Iran ke pasar internasional.
Pasar Khawatir Gangguan Pasokan Minyak
Meningkatnya konflik kembali memicu kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi global. Sebelum konflik pecah, sekitar 20% pasokan minyak dunia dikirim melalui Selat Hormuz, menjadikannya salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia.
Otoritas maritim bahkan telah menaikkan tingkat ancaman keamanan di kawasan tersebut ke level “severe” setelah dua kapal tanker diserang pada Selasa.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar mulai kembali memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga minyak, mengingat setiap gangguan di Selat Hormuz berpotensi menghambat distribusi minyak dari negara-negara produsen utama di Timur Tengah.
Dampak ke Pasar Keuangan
Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global apabila konflik terus bereskalasi. Kondisi ini dapat memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral utama, terutama Federal Reserve, akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak berisiko menambah tekanan terhadap impor energi, memperlebar defisit neraca migas, serta meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Di pasar saham, sentimen ini berpotensi mendorong penguatan emiten energi dan komoditas, namun menjadi tekanan bagi sektor yang sensitif terhadap kenaikan biaya energi seperti transportasi, manufaktur, dan konsumsi.

