[Medan | 9 Juli 2026] Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Bahrain dan Kuwait. Serangan tersebut merupakan balasan atas operasi militer terbaru Washington terhadap Iran sekaligus memperbesar kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di kawasan.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Rabu (9/7/2026) mengumumkan telah melancarkan operasi gabungan yang menargetkan sejumlah fasilitas militer AS, termasuk Bandar Salman di Bahrain yang menjadi markas Armada Kelima Angkatan Laut AS serta Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait. IRGC juga mengklaim berhasil menembak jatuh sebuah drone pengintai MQ-9 milik AS yang disebut tengah memantau jalannya operasi tersebut.
Iran Balas Serangan Terbaru AS
Serangan Iran terjadi hanya sehari setelah Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) melancarkan gelombang serangan udara baru ke sejumlah target di Iran. Washington menyatakan operasi tersebut dilakukan sebagai respons atas serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz. Selain itu, AS juga mencabut izin umum yang sebelumnya memperbolehkan Iran mengekspor minyak mentah ke pasar internasional. CENTCOM menyebut lebih dari 60 kapal cepat milik IRGC menjadi sasaran operasi militer sebagai bagian dari upaya menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Bahrain dan Kuwait Siaga
Serangan Iran memicu sirene peringatan serangan udara di Bahrain dan Kuwait. Militer Kuwait menyatakan sistem pertahanan udaranya langsung diaktifkan untuk menghadapi rudal dan drone yang disebut berasal dari pihak musuh.
Sementara itu, Markas Pusat Khatam al-Anbiya selaku komando militer gabungan Iran mengecam operasi AS sebagai tindakan agresi dan menegaskan Teheran akan memberikan respons yang lebih keras apabila serangan kembali berlanjut.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf juga menuduh Washington telah melanggar kesepakatan gencatan senjata, baik melalui operasi militer maupun pencabutan izin ekspor minyak Iran.
Harga Minyak Kembali Melonjak
Meningkatnya ketegangan kembali mendorong kenaikan harga minyak dunia. Pencabutan izin ekspor minyak Iran oleh AS disertai kekhawatiran terganggunya lalu lintas energi di Selat Hormuz membuat harga minyak melonjak lebih dari 3% pada perdagangan sebelumnya. Pasar kini kembali mencermati potensi gangguan pasokan minyak global mengingat sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati jalur strategis tersebut.
Negosiasi Damai Masih Berjalan
Di tengah meningkatnya konflik, seorang pejabat AS mengatakan proses negosiasi menuju kesepakatan damai permanen dengan Iran masih terus berlangsung. Namun Iran menilai pencabutan izin ekspor minyak merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan sementara yang sebelumnya telah dicapai kedua negara.
Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan Teheran akan mengambil langkah apa pun yang diperlukan untuk melindungi kepentingan nasionalnya. Iran juga membantah bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz, meskipun sejumlah negara, termasuk Qatar, menuding Teheran berada di balik insiden tersebut.
Risiko Pasar Masih Tinggi
Para analis menilai Iran masih menggunakan pengaruhnya di Selat Hormuz sebagai alat tawar dalam negosiasi dengan Amerika Serikat. Selama ketidakpastian geopolitik masih berlangsung, pasar diperkirakan tetap dibayangi volatilitas tinggi, terutama pada harga minyak, pasar obligasi, dan aset-aset berisiko. Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan terhadap inflasi dan nilai tukar rupiah, sekaligus memperbesar risiko bagi defisit neraca migas apabila konflik terus bereskalasi.

