IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

Rupiah Tembus Rp 18.000 Lagi, BI Bakal Kembali Naikkan Suku Bunga?

By Aurelia 2 months ago Ekonomi
Image source: AP/ katadata.co.id
SHARE

[Medan | 9 Juni 2026] Nilai tukar rupiah kembali menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (8/7/2026), di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, naiknya imbal hasil obligasi AS, serta menjelang rilis risalah rapat Federal Reserve (FOMC Minutes).

Contents
Tekanan Global Kembali MenguatFaktor Domestik Masih Membebani RupiahApakah BI Akan Naikkan Suku Bunga Lagi?

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,19% ke level Rp18.014 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di Rp17.980 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, rupiah bahkan sempat menyentuh Rp18.018 per dolar AS. Pelemahan tersebut menjadikan rupiah kembali berada di atas level Rp18.000 setelah sempat menguat dalam beberapa hari terakhir.

Tekanan Global Kembali Menguat

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipicu kembali meningkatnya tensi geopolitik setelah Amerika Serikat melancarkan serangan baru terhadap Iran. Menurutnya, konflik tersebut memunculkan kembali kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global, terutama setelah muncul ancaman terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Di saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik sekitar 5,5 basis poin menjadi 4,525%, mencerminkan meningkatnya permintaan investor terhadap aset berdenominasi dolar AS.

Pelaku pasar juga mulai mengalihkan perhatian pada risalah rapat Federal Reserve (FOMC Minutes) yang dijadwalkan dirilis Kamis dini hari WIB. Dokumen tersebut diharapkan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed di bawah kepemimpinan Ketua Fed Kevin Warsh.

Faktor Domestik Masih Membebani Rupiah

Dari dalam negeri, sentimen turut dipengaruhi oleh realisasi defisit APBN semester I-2026 yang mencapai Rp196,5 triliun atau sekitar 0,76% terhadap PDB, lebih tinggi dibandingkan posisi Mei lalu.

Di sisi lain, Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa meningkat menjadi US$145,6 miliar pada akhir Juni 2026 dari US$144,9 miliar pada Mei. Meski demikian, posisi tersebut masih berada di kisaran level terendah dalam hampir dua tahun terakhir sehingga belum cukup kuat mengubah sentimen pasar terhadap rupiah.

Apakah BI Akan Naikkan Suku Bunga Lagi?

Kembalinya rupiah ke atas level Rp18.000 per dolar AS memang kembali memunculkan spekulasi bahwa Bank Indonesia berpotensi menaikkan suku bunga acuannya. Namun, kondisi saat ini dinilai belum separah tekanan yang terjadi pada Juni lalu. Meski demikian, arah pergerakannya mulai mengkhawatirkan karena pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan kenaikan harga minyak dunia akibat meningkatnya konflik di Timur Tengah.

Berbeda dengan kondisi pada Juni, BI kini memiliki satu keuntungan, yakni cadangan devisa yang kembali meningkat menjadi US$145,6 miliar. Tambahan cadangan devisa tersebut memberikan ruang bagi bank sentral untuk mempertahankan stabilitas rupiah melalui intervensi di pasar valas, baik di pasar spot maupun melalui instrumen Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), tanpa harus langsung menaikkan suku bunga.

Meski demikian, ruang tersebut bukan tanpa batas. Apabila dalam beberapa hari ke depan rupiah kembali melemah menuju kisaran Rp18.200 per dolar AS atau lebih, sementara harga minyak Brent terus naik hingga menembus US$85 per barel bahkan kembali ke kisaran US$90 per barel, tekanan terhadap inflasi dan stabilitas eksternal diperkirakan akan meningkat signifikan.

Dalam kondisi tersebut, apabila intervensi BI tidak lagi efektif menahan pelemahan rupiah, peluang kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin pada pertemuan Juli akan semakin besar. Karena itu, perhatian pasar kini tertuju pada perkembangan konflik AS-Iran, pergerakan harga minyak dunia, arah imbal hasil obligasi AS, serta kemampuan Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi. Faktor-faktor tersebut diperkirakan akan menjadi penentu utama arah kebijakan moneter BI dalam waktu dekat.

 

 

You Might Also Like

Selat Hormuz Jadi Perhatian, Sanksi Ekonomi Baru AS Untuk Iran Segera Diumumkan

Siap-siap, Menanti Pidato Kevin Warsh di Jackson Hole Simposium

BI Imbau Bank Tak Pasarkan SRBI ke Nasabah Ritel dan Non-Bank

Peringatkan Krisis Utang AS, Ray Dalio Sarankan Beli Emas dan Bitcoin

Rupiah Akhirnya Menguat di Bawah Level 17.700, Apa Pendorongnya?

TAGGED: Rupiah, rupiah 18.000
Aurelia July 9, 2026 July 9, 2026
Previous Article AS Lanjut Serang Iran dan Sebut Gencatan Senjata Berakhir, Harga Minyak Naik Lagi!
Next Article Risalah Terbaru: Pejabat The Fed Terpecah Soal Arah Suku Bunga
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Mentari Greenwich B7-8, Jl. Letda Sujono No.64, Bandar Selamat, Kec. Medan Tembung, Kota Medan, Sumatera Utara 20223
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?