[Medan | 30 Oktober 2026] Bank Sentral Jepang atau Bank of Japan (BOJ) mempertahankan suku bunga acuan di level 1,25% setelah menyelesaikan rapat kebijakan moneter selama dua hari pada Jumat (30/10/2026). Meski tidak mengubah suku bunga, BOJ untuk pertama kalinya mengindikasikan bahwa inflasi yang mendasari perekonomian Jepang telah mencapai target 2%. Perkembangan ini membuka peluang kenaikan suku bunga pada rapat Desember mendatang.
Keputusan tersebut sesuai dengan perkiraan seluruh ekonom yang disurvei Bloomberg. Hasil pemungutan suara menunjukkan delapan anggota mendukung keputusan mempertahankan suku bunga, sementara satu anggota, Hajime Takata, menyatakan perbedaan pendapat. Pernyataan mengenai pencapaian target inflasi menjadi perhatian utama pasar karena dapat memperkuat alasan BOJ untuk melanjutkan normalisasi kebijakan moneter.
Sinyal Kenaikan Suku Bunga pada Desember
Fokus investor kini beralih ke konferensi pers Gubernur BOJ Kazuo Ueda yang dijadwalkan sekitar pukul 15.30 waktu setempat. Pasar akan mencermati penjelasan Ueda mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga berikutnya, termasuk seberapa tinggi suku bunga dapat bergerak dalam siklus pengetatan moneter saat ini.
BOJ perlu menyeimbangkan upaya menjaga inflasi tetap berada di sekitar target dengan mempertimbangkan dampak kenaikan biaya pinjaman terhadap aktivitas ekonomi Jepang. Suku bunga acuan Jepang saat ini sudah berada di level tertinggi dalam 31 tahun. Namun, tingkat tersebut masih relatif rendah dibandingkan negara-negara anggota G7 lainnya.
Kenaikan suku bunga secara beruntun juga akan menjadi langkah yang belum pernah terjadi pada abad ini. Karena itu, keputusan BOJ untuk menahan suku bunga kali ini dinilai memberi ruang bagi pasar untuk mencerna arah kebijakan selanjutnya.
BOJ Atur Ulang Penjualan ETF
Selain keputusan suku bunga, BOJ mengumumkan perubahan dalam laju penjualan kepemilikan exchange-traded fund (ETF). Bank sentral Jepang akan menetapkan penjualan ETF sekitar 860 miliar yen atau setara US$5,5 miliar per tahun.
Kebijakan ini menjadi bagian dari penyesuaian pengelolaan aset BOJ. Perubahan laju penjualan ETF juga perlu diperhatikan investor karena dapat memengaruhi pasokan saham di pasar Jepang dan sentimen terhadap ekuitas domestik.
Yen Menguat Tipis, Pasar Menunggu Pernyataan Ueda
Yen menguat tipis terhadap dolar AS setelah pengumuman keputusan suku bunga. Namun, perhatian pasar masih tertuju pada konferensi pers Ueda untuk memperoleh petunjuk lebih jelas mengenai langkah kebijakan berikutnya. BOJ menjadi bank sentral besar terakhir yang menggelar rapat kebijakan moneter pada pekan ini. Sebelumnya, Federal Reserve AS dan Bank Sentral Eropa (ECB) juga mempertahankan suku bunga. Pada bulan sebelumnya, ketiga bank sentral tersebut untuk pertama kalinya menaikkan suku bunga secara bersamaan.
Dampak bagi Pasar Global dan Indonesia
Keputusan BOJ mempertahankan suku bunga belum langsung mengubah arah pasar global. Namun, sinyal kemungkinan kenaikan pada Desember dapat memengaruhi pergerakan yen dan arus modal internasional.
Jika BOJ melanjutkan kenaikan suku bunga, selisih imbal hasil antara aset Jepang dan negara lain berpotensi menyempit. Kondisi ini dapat mendorong sebagian investor Jepang mengalihkan dana kembali ke pasar domestik, terutama jika imbal hasil aset Jepang menjadi lebih menarik.
Bagi Indonesia, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
- Arus modal asing: Perubahan preferensi investor Jepang dapat memengaruhi aliran dana ke pasar negara berkembang, termasuk saham dan obligasi Indonesia.
- Nilai tukar rupiah: Penguatan yen dan perubahan posisi dolar AS dapat memengaruhi dinamika pasar valuta asing. Namun, dampaknya terhadap rupiah juga bergantung pada kondisi dolar AS dan faktor domestik.
- Yield SBN: Jika investor global mengurangi eksposur pada obligasi negara berkembang, yield SBN berpotensi mendapat tekanan. Sebaliknya, dampaknya dapat terbatas apabila permintaan terhadap aset Indonesia tetap kuat.
- Yang perlu dipantau investor: Pernyataan Kazuo Ueda pada Jumat sore, perkembangan inflasi Jepang, serta sinyal kebijakan BOJ menjelang rapat Desember. Keputusan kali ini memang belum menaikkan suku bunga, tetapi memberi indikasi bahwa era kebijakan moneter Jepang yang sangat longgar semakin mendekati akhir.

