[Medan | 30 Oktober 2026] Inflasi Amerika Serikat kembali menunjukkan tekanan, sementara pertumbuhan ekonomi tercatat lebih kuat dari perkiraan. Kombinasi ini memperkuat alasan bagi Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga kembali pada Desember 2026.
Indeks Personal Consumption Expenditures (PCE), yang mengukur perubahan harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat, naik 0,5% secara bulanan (month-on-month/MoM) pada September 2026. Angka ini meningkat dari 0,3% pada Agustus. Secara tahunan (year-on-year/YoY), inflasi PCE naik menjadi 3,6% dari 3,4%. Kedua angka tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar.
Sementara itu, PCE inti atau core PCE, yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi serta menjadi salah satu indikator inflasi utama yang diperhatikan The Fed, naik 0,3% MoM. Angka tersebut sama dengan prakiraan pasar dan pembacaan Agustus yang direvisi naik dari 0,2%. Secara tahunan, inflasi PCE inti meningkat tipis menjadi 3,1% dari 3,0%. Artinya, tekanan inflasi masih bertahan dan belum menunjukkan penurunan yang cukup kuat menuju target The Fed sebesar 2%.
Ekonomi AS tumbuh lebih kuat dari perkiraan
Tekanan inflasi juga diikuti oleh aktivitas ekonomi yang masih solid. Estimasi awal menunjukkan Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat tumbuh 3,4% secara tahunan pada kuartal III 2026. Pertumbuhan tersebut melampaui ekspektasi pasar sebesar 3,2% dan meningkat dibandingkan pertumbuhan 2,2% pada kuartal sebelumnya.
Namun, tidak seluruh indikator menunjukkan penguatan. Pendapatan pribadi dan belanja konsumen pada September justru meningkat lebih rendah dari perkiraan. Kondisi ini menunjukkan bahwa perekonomian AS masih tumbuh cukup kuat, sementara tekanan harga belum sepenuhnya mereda.
Peluang kenaikan suku bunga Desember kembali terbuka
Data inflasi dan pertumbuhan ekonomi tersebut muncul setelah The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di level 3,75%–4,00% pada pertemuan Rabu, dengan hasil pemungutan suara 10-2. Dalam konferensi pers setelah pertemuan, Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan bahwa inflasi masih tinggi dan stabilitas harga tetap menjadi prioritas utama bank sentral AS.
Warsh juga menyampaikan bahwa meskipun kondisi keuangan secara keseluruhan telah menjadi lebih ketat, ia belum dapat menyebut kondisi tersebut benar-benar ketat. Pernyataan tersebut, ditambah inflasi yang masih tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang melampaui ekspektasi, membuat peluang kenaikan suku bunga pada Desember tetap diperhitungkan pasar. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Desember mencapai 83%.
Apa artinya bagi pasar?
Kombinasi inflasi yang bertahan tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang kuat memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Kondisi ini dikenal sebagai higher for longer.
Bagi pasar keuangan, beberapa dampak yang perlu diperhatikan adalah:
- US Treasury yield: Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi dapat mendorong yield obligasi pemerintah AS tetap tinggi, terutama pada tenor pendek yang sensitif terhadap kebijakan The Fed.
- Dolar AS: Suku bunga AS yang relatif tinggi dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara lain.
- Obligasi Indonesia: Yield US Treasury yang tinggi dapat membuat investor meminta imbal hasil lebih besar untuk memegang obligasi negara berkembang, termasuk SBN Indonesia.
- Arus modal asing: Perbedaan imbal hasil antara AS dan negara berkembang dapat memengaruhi keputusan investor dalam mengalokasikan dana.
- Harga obligasi: Jika ekspektasi kenaikan suku bunga meningkat, harga obligasi yang sudah beredar berpotensi tertekan karena investor meminta yield yang lebih tinggi.
Kesimpulan: Pasar perlu bersiap menghadapi suku bunga tinggi lebih lama
Data September memperlihatkan bahwa ekonomi AS masih cukup kuat, tetapi inflasi belum kembali terkendali. Kombinasi ini membuat The Fed memiliki alasan untuk berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneter. Dengan peluang kenaikan suku bunga Desember yang mencapai 83% menurut CME FedWatch, investor perlu mencermati perkembangan inflasi, data tenaga kerja, serta komunikasi pejabat The Fed berikutnya.
Namun, peluang tersebut masih merupakan ekspektasi pasar, bukan keputusan resmi. Arah kebijakan Desember tetap bergantung pada data ekonomi yang akan dirilis sebelum pertemuan berikutnya.

