[Medan | 30 Oktober 2026] Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde mengumumkan akan mengakhiri masa jabatannya lebih awal pada 7 Februari 2027. Keputusan ini membuka persaingan untuk menentukan pemimpin baru salah satu bank sentral paling berpengaruh di dunia.
Menurut pernyataan resmi ECB pada Kamis (29/10), Lagarde akan mundur sekitar delapan bulan sebelum masa jabatannya berakhir pada Oktober 2027. Ia merupakan presiden keempat ECB sekaligus tokoh kedua asal Prancis yang memimpin lembaga tersebut. Lagarde mulai menjabat pada 2019, menggantikan Mario Draghi.
Sejumlah pihak yang mengetahui pembicaraan Lagarde dengan Dewan Gubernur ECB menyebutkan bahwa keputusan mundur lebih awal diambil agar ia dapat lebih terlibat dalam berbagai urusan lain, termasuk perkembangan politik di Prancis.
Persaingan mencari pengganti Lagarde dimulai
Pengunduran diri Lagarde memicu proses pemilihan pemimpin baru ECB. Jabatan tersebut memiliki pengaruh besar karena presiden ECB ikut menentukan arah kebijakan moneter bagi 21 negara anggota zona euro yang dihuni lebih dari 350 juta penduduk. Presiden Dewan Eropa Antonio Costa mengatakan proses penunjukan pengganti akan segera dimulai untuk memastikan transisi kepemimpinan berjalan lancar.
Ketua Eurogroup Kyriakos Pierrakakis juga menyatakan akan segera menyusun rekomendasi kandidat. Sementara itu, Kanselir Jerman Friedrich Merz berharap keputusan mengenai pengganti Lagarde dapat dicapai sebelum akhir 2026. Dua nama yang mulai mencuat dalam persaingan tersebut adalah Pablo Hernandez de Cos dari Spanyol dan Klaas Knot dari Belanda. De Cos, mantan Gubernur Bank Spanyol yang kini memimpin Bank for International Settlements (BIS), disebut sebagai kandidat favorit dalam survei Bloomberg terhadap para ekonom pada Oktober.
Pengunduran diri terjadi di tengah tekanan ekonomi Eropa
Pergantian kepemimpinan ini berlangsung ketika ECB menghadapi tantangan ekonomi yang cukup kompleks. Bank sentral tersebut sedang berupaya mengendalikan inflasi yang meningkat akibat perang di Iran, di tengah ketidakpastian geopolitik, kenaikan imbal hasil obligasi global, serta meningkatnya belanja Eropa untuk pertahanan dan infrastruktur.
ECB telah menaikkan suku bunga pada Juni dan September. Pasar juga memperkirakan kemungkinan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut, terutama jika tekanan inflasi masih bertahan. Di sisi lain, pasar obligasi Eropa menunjukkan kegelisahan. Yield obligasi pemerintah Jerman tenor 10 tahun turun satu basis poin menjadi 3,36%, sementara selisih yield obligasi Prancis terhadap Jerman bertahan di 154 basis poin.
Sebelumnya, selisih yield obligasi 10 tahun Prancis dan Jerman sempat mencapai level tertinggi sejak 2011. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Prancis dan memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan intervensi ECB.
Spekulasi mengenai alasan Lagarde mundur
Isu pengunduran diri Lagarde sebenarnya telah beredar cukup lama. Ia beberapa kali tidak memberikan kepastian bahwa dirinya akan menyelesaikan masa jabatan selama delapan tahun. Selain kemungkinan keterlibatannya dalam perkembangan politik Prancis menjelang pemilihan presiden pada musim semi mendatang, Lagarde juga dikaitkan dengan spekulasi mengenai posisi pimpinan World Economic Forum (WEF), organisasi penyelenggara pertemuan tahunan di Davos. Namun, ia sebelumnya menegaskan tidak berniat mencalonkan diri sebagai Presiden Prancis.
Ketidakjelasan mengenai rencana tersebut dilaporkan menimbulkan frustrasi di kalangan sejumlah koleganya di ECB. Beberapa pihak khawatir situasi ini dapat memengaruhi persepsi publik terhadap lembaga tersebut. Dalam memo kepada staf, Lagarde menegaskan bahwa ECB memiliki pengalaman mengelola pergantian kepemimpinan tanpa mengganggu pelaksanaan mandatnya.
Apa dampaknya bagi pasar?
Pengunduran diri Lagarde tidak serta-merta mengubah kebijakan moneter ECB. Namun, proses pemilihan penggantinya menjadi perhatian investor karena sosok presiden berikutnya akan berperan penting dalam menentukan arah suku bunga dan respons ECB terhadap inflasi.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pasar:
- Arah suku bunga zona euro. Investor akan mencermati pandangan kandidat pengganti mengenai inflasi dan kebijakan suku bunga. Perbedaan pendekatan dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan ECB pada 2027.
- Yield obligasi Eropa. Ketidakpastian pergantian kepemimpinan, ditambah persoalan fiskal Prancis, berpotensi memengaruhi permintaan investor terhadap obligasi negara-negara zona euro.
- Pergerakan euro. Ekspektasi suku bunga dan persepsi terhadap stabilitas kebijakan ECB dapat memengaruhi nilai tukar euro terhadap dolar AS.
- Arus modal global. Perubahan ekspektasi kebijakan moneter Eropa dapat memengaruhi pergerakan imbal hasil global dan keputusan investor dalam mengalokasikan dana ke berbagai pasar.
Para pemimpin Eropa dijadwalkan mengadakan pertemuan tingkat tinggi pada November dan Desember untuk membahas penunjukan pengganti Lagarde. Hingga keputusan resmi diumumkan, investor akan terus mencermati perkembangan proses tersebut serta sinyal kebijakan dari ECB.

