IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

Bursa Korea dan Jepang Terjun Bebas Hari Ini, Ada Apa?

By Aurelia 2 hours ago Ekonomi
Image source: AP/ beritasatu.com
SHARE

[Medan | 28 Juli 2026] Bursa saham Asia mengalami tekanan pada perdagangan Selasa (28/7/2026), dipimpin oleh pelemahan tajam pasar Jepang dan Korea Selatan. Aksi jual terutama terjadi pada saham-saham sektor semikonduktor (chip) setelah saham teknologi Amerika Serikat kembali terkoreksi menjelang musim laporan keuangan perusahaan-perusahaan teknologi raksasa.

Mengutip Reuters, indeks Nikkei 225 Jepang anjlok 3,59% ke level 62.599,14, sementara indeks Topix turun 2,44% menjadi 3.966,87. Di Korea Selatan, indeks KOSPI juga merosot sekitar 7% pada awal perdagangan, dipicu aksi jual besar-besaran pada saham-saham teknologi.

Saham Teknologi Global Masih Tertekan

Tekanan di pasar Asia berawal dari pelemahan saham teknologi di Wall Street. Saham Nvidia ditutup turun 4,9%, sementara Philadelphia Semiconductor Index (SOX) kembali melemah 2,2%.

Meski indeks semikonduktor AS tersebut masih mencatat kenaikan sekitar 63% sepanjang 2026, indeks kini telah terkoreksi sekitar 21% dari rekor tertinggi yang dicapai pada akhir Juni. Kondisi tersebut mendorong investor mengambil keuntungan (profit taking) pada saham-saham teknologi yang sebelumnya telah mengalami reli cukup panjang.

Analis Senior Daiwa Securities, Daisuke Hashizume, mengatakan pelemahan kali ini bukan mencerminkan kepanikan pasar, melainkan sikap hati-hati investor menjelang rilis laporan keuangan perusahaan-perusahaan teknologi besar di Amerika Serikat dan Jepang. Menurutnya, investor memilih mengurangi eksposur pada saham teknologi karena masih tingginya ketidakpastian mengenai prospek pertumbuhan laba sektor tersebut, terutama setelah valuasi saham AI meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir.

Saham Chip Jepang Jadi Korban Utama

Di Jepang, saham-saham yang memiliki keterkaitan erat dengan industri semikonduktor mengalami penurunan paling dalam. Saham Advantest merosot 7,52%, sedangkan Tokyo Electron turun 8,84%, mengikuti pelemahan sektor chip global.

Sementara itu, saham-saham perbankan yang sebelumnya sempat menguat karena ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ) juga ikut terkoreksi. Saham Mitsubishi UFJ Financial Group dan Sumitomo Mitsui Financial Group masing-masing turun hampir 3%. Secara keseluruhan, sekitar 64% saham di Bursa Efek Tokyo ditutup melemah, sementara hanya sekitar 31% yang berhasil menguat.

Apa Dampaknya ke Pasar?

Koreksi tajam di Jepang dan Korea Selatan menunjukkan bahwa investor global mulai mengurangi aset berisiko, terutama saham-saham teknologi yang sebelumnya memimpin kenaikan pasar sepanjang tahun.

Bagi IHSG, sentimen ini berpotensi memicu tekanan jangka pendek, terutama pada saham-saham teknologi dan sektor yang sensitif terhadap pergerakan pasar global. Meski demikian, pelemahan tersebut belum tentu berubah menjadi tren turun berkepanjangan apabila laporan keuangan emiten teknologi Amerika Serikat mampu melampaui ekspektasi pasar.

Di pasar obligasi, meningkatnya kehati-hatian investor dapat mendorong sebagian dana beralih ke aset yang lebih aman seperti obligasi pemerintah, sehingga berpotensi menopang permintaan Surat Berharga Negara (SBN), terutama jika sentimen global tidak semakin memburuk.

Sementara itu, rupiah juga berpotensi menghadapi tekanan apabila aksi jual aset berisiko mendorong penguatan dolar AS dan memicu arus keluar modal (capital outflow) dari pasar negara berkembang. Namun, apabila koreksi pasar hanya bersifat sementara menjelang musim laporan keuangan, dampaknya terhadap rupiah diperkirakan relatif terbatas.

 

You Might Also Like

The Fed Diperkirakan Tahan Suku Bunga, Tapi Potensi Naik Masih Terbuka

AS-Iran Mulai Negosiasi Lagi, Harga Minyak Turun ke Bawah US$ 90 per Barel

BEI Rombak Indeks LQ45, IDX30 dan IDX80, Ini Daftar Terbarunya!

Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar Usai Gubernur BI Perry Warjiyo Mundur

Ketegangan AS-Iran Mereda, Bursa Asia Siap Menguat Lagi?

TAGGED: Bursa Jepang, bursa Korea
Aurelia July 28, 2026 July 28, 2026
Previous Article Direksi RANS Mundur Dua Minggu Setelah IPO, Ada Apa?
Next Article Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar Usai Gubernur BI Perry Warjiyo Mundur
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Komplek CitraLand Gama City, Madison Avenue, Blok R6 No. 90, Deli Serdang, Sumatera Utara, Indonesia
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?