[Medan | 16 Juli 2026] Pertumbuhan ekonomi China melambat lebih besar dari ekspektasi pada kuartal II-2026. Produk Domestik Bruto (PDB) hanya tumbuh 4,3% secara tahunan (YoY), lebih rendah dibandingkan proyeksi pasar sebesar 4,5% maupun realisasi kuartal sebelumnya yang mencapai 5,0%. Capaian tersebut sekaligus menjadi laju pertumbuhan paling lambat dalam lebih dari tiga tahun terakhir dan berada di bawah target resmi pemerintah China yang berada di kisaran 4,5%–5,0%.
Data ini memperkuat sinyal bahwa pemulihan ekonomi China masih menghadapi tekanan, terutama akibat lemahnya permintaan domestik dan perlambatan investasi, meskipun sektor manufaktur dan ekspor masih mampu memberikan dukungan.
Investasi Masih Menjadi Titik Lemah
Salah satu penyebab utama perlambatan ekonomi berasal dari melemahnya investasi. Data menunjukkan Fixed Asset Investment (FAI) pada semester I-2026 terkontraksi 5,7%, lebih dalam dibandingkan penurunan 4,1% pada periode Januari–Mei. Angka tersebut juga jauh lebih buruk dibandingkan perkiraan pasar.
Kontraksi investasi ini mencerminkan masih rendahnya minat dunia usaha untuk melakukan ekspansi di tengah ketidakpastian ekonomi. Sejumlah ekonom bahkan menyebut pelemahan investasi kali ini sebagai salah satu yang terdalam dalam sejarah modern China di luar periode krisis besar.
Menurut Raymond Yeung, Chief Economist Greater China ANZ, pelemahan investasi menjadi faktor terbesar yang menahan pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua. Oleh karena itu, pemerintah diperkirakan perlu kembali memberikan stimulus fiskal pada paruh kedua tahun ini.
Konsumsi Mulai Membaik, Manufaktur Tetap Bertahan
Di tengah lemahnya investasi, beberapa indikator menunjukkan perbaikan. Penjualan ritel secara tak terduga tumbuh 1% setelah sebelumnya terkontraksi 0,6% pada Mei, mengindikasikan konsumsi masyarakat mulai pulih meski masih terbatas. Sementara itu, produksi industri meningkat 5,3%, lebih tinggi dari ekspektasi pasar, didukung kuatnya aktivitas manufaktur berorientasi ekspor. Tingkat pengangguran perkotaan juga turun tipis menjadi 5,0% dari sebelumnya 5,1%, memberikan sinyal bahwa kondisi pasar tenaga kerja relatif stabil.
Ekspor Masih Menjadi Penopang Utama
Kinerja ekspor tetap menjadi penyangga utama ekonomi China. Permintaan global terhadap produk teknologi, terutama yang berkaitan dengan pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), masih menopang aktivitas manufaktur.
Namun demikian, ketergantungan terhadap ekspor juga meningkatkan risiko ke depan. Ketegangan perdagangan global dan perlambatan ekonomi di sejumlah negara berpotensi mengurangi permintaan terhadap produk-produk China.
Di sisi lain, manfaat pertumbuhan ekspor dinilai belum menyebar secara merata ke seluruh sektor ekonomi, sehingga belum mampu mengangkat konsumsi maupun investasi domestik secara signifikan.
Politbiro Diperkirakan Siapkan Stimulus Baru
Perlambatan ekonomi ini diperkirakan akan menjadi fokus utama dalam pertemuan Politbiro Partai Komunis China pada akhir Juli.
Pelaku pasar memperkirakan pemerintah akan mempertimbangkan percepatan belanja fiskal, peningkatan investasi infrastruktur, hingga tambahan stimulus guna menjaga pertumbuhan ekonomi tetap mendekati target tahunan.
Meski demikian, respons pasar terhadap data ini relatif terbatas. Yuan offshore hanya menguat tipis sekitar 0,1%, sementara imbal hasil obligasi pemerintah China tenor 10 tahun bertahan di kisaran 1,73%, menunjukkan investor masih menunggu arah kebijakan pemerintah selanjutnya.
Dampak ke Pasar Keuangan
Perlambatan ekonomi China menjadi sinyal bahwa pemulihan ekonomi global masih belum merata. Bagi Indonesia, kondisi ini berpotensi menahan permintaan terhadap sejumlah komoditas ekspor seperti batu bara, nikel, dan crude palm oil (CPO), mengingat China merupakan mitra dagang terbesar Indonesia.
Di sisi lain, meningkatnya peluang stimulus dari pemerintah China dapat menjadi sentimen positif bagi pasar komoditas apabila mampu kembali mendorong aktivitas konstruksi, manufaktur, dan konsumsi domestik pada paruh kedua tahun 2026.

