[Medan | 15 Juli 2026] Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan mengancam akan menyerang Gunung Pickaxe, kawasan bawah tanah yang diyakini menjadi lokasi penyimpanan sekaligus pengembangan fasilitas nuklir Iran. Ancaman tersebut disampaikan di tengah eskalasi konflik militer kedua negara yang kembali memanas dalam beberapa hari terakhir.
Dalam wawancara di acara Hugh Hewitt Show, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan menghentikan serangan terhadap Iran selama ancaman terhadap kepentingan AS masih berlangsung. “Kami akan menghancurkan Gunung Pickaxe. Katakan kepada Iran untuk bersiap,” ujar Trump.
Trump mengatakan pemerintah AS terus memantau aktivitas di kawasan tersebut dan menilai program nuklir Iran berada dalam tekanan besar. “Kami mengawasi Gunung Pickaxe dengan sangat ketat. Kami tidak melihat banyak aktivitas di sana. Program nuklir mereka tidak berjalan baik. Setiap kali kami mendengar ada perkembangan, kami menghancurkannya,” katanya.
Gunung Pickaxe Jadi Target Strategis
Gunung Pickaxe berada di dekat kompleks pengayaan uranium Natanz, salah satu fasilitas nuklir terpenting milik Iran yang sebelumnya telah mengalami kerusakan akibat serangan udara. Kompleks tersebut dibangun jauh di bawah pegunungan dengan jaringan terowongan yang dijaga sangat ketat. Sejumlah analis militer menilai fasilitas itu bahkan berada di luar jangkauan sebagian besar bom penghancur bunker yang dimiliki Amerika Serikat.
Ancaman terhadap Pickaxe dinilai menunjukkan bahwa fokus Washington kini tidak hanya menekan infrastruktur militer Iran, tetapi juga berupaya melumpuhkan kemampuan nuklir Teheran secara permanen.
Serangan dan Blokade Terus Berlanjut
Ancaman terbaru Trump muncul setelah Amerika Serikat kembali memberlakukan blokade terhadap pelayaran Iran di Selat Hormuz serta melancarkan gelombang serangan udara baru ke sejumlah target militer Iran. Trump menegaskan operasi militer tersebut akan terus berlanjut.
“Kami akan menyerang mereka dengan sangat keras malam ini, dan kami akan menyerang mereka lagi besok. Tidak ada yang bisa menghentikannya,” ujarnya. Dalam wawancara terpisah dengan Fox News, Trump bahkan mengancam akan menyerang pembangkit listrik serta jembatan-jembatan strategis di Iran apabila Teheran menolak kembali ke meja perundingan.
Meski demikian, sehari sebelumnya Trump memutuskan membatalkan rencana penerapan tarif tambahan sebesar 20% bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz setelah mendapat tekanan dari negara-negara Teluk.
Harga Minyak Naik Tiga Hari Beruntun
Memanasnya konflik kembali mengangkat harga minyak dunia. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan mendekati US$80 per barel, setelah melonjak sekitar 11% dalam dua sesi perdagangan sebelumnya. Sementara itu, minyak mentah Brent ditutup di kisaran US$84,73 per barel, tertinggi dalam sekitar satu bulan terakhir.
Kenaikan tersebut dipicu meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global setelah AS memperketat blokade terhadap Iran dan memperluas operasi militernya di kawasan Teluk. Menurut spesialis energi TP ICAP Group, Scott Shelton, kondisi di Selat Hormuz masih dipenuhi ketidakpastian.
“Masih banyak ketidakpastian. Apakah kita sedang berada dalam kondisi perang? Apakah AS benar-benar mampu mengendalikan Selat Hormuz? Hingga saat ini belum ada kepastian kapal-kapal dapat melintas secara normal,” ujarnya.
Risiko Pasokan Energi Meningkat
Ketegangan juga semakin meluas setelah kelompok Houthi di Yaman kembali meluncurkan rudal balistik dan drone ke Arab Saudi. Serangan tersebut menjadi eskalasi terbesar sejak kedua pihak menyepakati gencatan senjata pada 2022.
Di sisi lain, laporan American Petroleum Institute (API) menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun sekitar 600 ribu barel pada pekan lalu. Jika dikonfirmasi oleh data resmi pemerintah AS, penurunan tersebut akan menjadi yang ke-11 dalam 12 pekan terakhir, memperkuat kekhawatiran pasar terhadap ketatnya pasokan minyak.
Kombinasi meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah dan menurunnya stok minyak AS membuat pasar kembali memberikan premi risiko terhadap harga minyak. Selama konflik belum mereda, volatilitas harga energi diperkirakan masih akan tetap tinggi dan menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi inflasi global serta arah kebijakan bank sentral dalam beberapa bulan ke depan.

