IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

Iran Ancam Serang Pusat AI AS Jika Terjadi Perang Lagi

By Aurelia 5 hours ago Ekonomi
Image source: AP/ news.detik.com
SHARE

[Medan | 12 Oktober 2026] Iran mengancam akan menargetkan infrastruktur digital strategis milik Amerika Serikat (AS) di kawasan Asia Barat apabila konflik militer kembali pecah. Target yang disebut mencakup jaringan kabel, pusat data (data center), hingga pusat kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dengan nilai gabungan yang diklaim melampaui US$2 triliun atau sekitar Rp35.751 triliun.

Ancaman tersebut disampaikan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, dalam wawancara dengan Press TV. Ia menyatakan bahwa infrastruktur tersebut belum dimasukkan ke dalam daftar target Iran, tetapi dapat menjadi sasaran apabila perang kembali terjadi.

Infrastruktur Digital AS Masuk dalam Ancaman Iran

“Kami belum memasukkan aset-aset tersebut ke dalam daftar target. Namun, jika perang pecah, banyak kabel, pusat data, dan pusat kecerdasan buatan (AI) yang memiliki nilai finansial sangat besar akan berada dalam jangkauan tembakan kami,” ujar Rezaei. 

Ia mengklaim nilai gabungan jaringan kabel, pusat data, dan pusat AI tersebut melampaui US$2 triliun. Menurutnya, kawasan Asia Barat menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi AS karena Washington menempatkan berbagai infrastruktur bernilai tinggi di wilayah tersebut. Pernyataan tersebut memperluas cakupan ancaman Iran dari sasaran militer konvensional ke infrastruktur digital yang menopang aktivitas ekonomi dan teknologi AS di kawasan tersebut.

Iran Klaim Siapkan Strategi Perang Berbeda

Rezaei mengatakan Teheran telah melakukan perhitungan sejak awal perang dan menyesuaikan strategi militernya dengan perkembangan konflik. Ia membandingkan pendekatan Iran dalam perang selama 12 hari dengan konflik selama 40 hari. Menurutnya, Iran hanya menunjukkan sebagian kecil kemampuannya pada 12 hari pertama dan tidak mengerahkan banyak aset militer dalam periode tersebut.

“Kami berupaya meningkatkan intensitas serangan seiring dengan meningkatnya intensitas perang dari pihak Amerika Serikat,” ujarnya. Rezaei mengatakan pendekatan Iran berubah dalam perang selama 40 hari, ketika lebih banyak aset dikerahkan dan digunakan di medan pertempuran.

Teheran Nyatakan Siap Kerahkan Kemampuan Baru

Rezaei menegaskan bahwa Iran telah mempersiapkan kemampuan tambahan yang dapat digunakan apabila konflik kembali berlangsung. “Hari ini, kami sepenuhnya siap untuk mengerahkan kemampuan baru jika perang kembali pecah,” katanya.

Ia juga menyinggung apa yang disebutnya sebagai kegagalan berulang pihak lawan dalam beberapa bulan terakhir, baik dalam operasi militer maupun upaya menerapkan blokade laut terhadap Iran. Pernyataan tersebut merupakan penilaian dari pihak Iran dan tidak disertai perincian lebih lanjut dalam laporan yang tersedia.

Dampaknya ke Market

Ancaman terhadap pusat data, jaringan kabel, dan infrastruktur AI menambah dimensi risiko geopolitik karena aset-aset tersebut menopang aktivitas teknologi dan ekonomi. Namun, pernyataan Rezaei masih berupa ancaman bersyarat apabila perang kembali pecah, bukan konfirmasi bahwa serangan terhadap infrastruktur tersebut telah dilakukan.

Bagi pasar global, eskalasi konflik berpotensi meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven, sekaligus menambah volatilitas saham teknologi jika investor menilai infrastruktur digital dan operasional perusahaan berisiko terganggu. Besarnya dampak akan bergantung pada apakah ancaman tersebut berkembang menjadi tindakan nyata.

Untuk Indonesia, peningkatan ketegangan AS-Iran dapat memengaruhi harga minyak, arus modal, dan nilai tukar rupiah. Jika konflik mendorong kenaikan harga energi serta memperkuat dolar AS, tekanan terhadap rupiah dan inflasi dapat meningkat. Kondisi tersebut juga berpotensi membatasi ruang penurunan yield SUN apabila investor meminta kompensasi lebih tinggi atas risiko eksternal.

 

You Might Also Like

Trump Sebut Rusia dan Ukraina Sepakati Gencatan Senjatan Energi

Pemerintah Bakal Tarik Pinjaman LN US$1,8 M dan Pertimbangkan Penerbitan Global Bond

Prabowo-Mesir Sepakat Kerjasama, Ini Sektor Prioritasnya

Danantara Siap Gandeng SWF Mesir, Mau Bangun Kilang Minyak Sawit di Mesir

CEO Danantara Sebut Sejumlah BUMN Bakal IPO di Tahun 2027

Aurelia October 12, 2026 October 12, 2026
Previous Article Pemerintah Bakal Tarik Pinjaman LN US$1,8 M dan Pertimbangkan Penerbitan Global Bond
Next Article Trump Sebut Rusia dan Ukraina Sepakati Gencatan Senjatan Energi
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Mentari Greenwich B7-8, Jl. Letda Sujono No.64, Bandar Selamat, Kec. Medan Tembung, Kota Medan, Sumatera Utara 20223
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?