[Medan | 8 Oktober 2026] Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) tengah menyiapkan sejumlah perusahaan BUMN untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO). Aksi korporasi tersebut ditargetkan berlangsung pada 2027.
Chief Executive Officer BPI Danantara Rosan Roeslani mengatakan pihaknya telah mengidentifikasi sejumlah perusahaan pelat merah yang dinilai memiliki potensi untuk menawarkan saham kepada masyarakat. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan transparansi dan akuntabilitas perusahaan BUMN.
“Tahun berikutnya di 2027 ini kita sudah mengidentifikasi beberapa perusahaan untuk kita melantai ke bursa. Ini juga sebagai salah satu bentuk dari transparansi kita dalam rangka kita meningkatkan juga akuntabilitas,” ujar Rosan, dikutip Rabu (7/10/2026).
BUMN Akan Diawasi Lebih Luas
Menurut Rosan, perusahaan BUMN yang tercatat di bursa akan menghadapi pengawasan yang lebih luas. Selain otoritas bursa dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perusahaan juga akan mendapat perhatian dari berbagai pemangku kepentingan yang berkaitan dengan kinerja keuangan hingga masyarakat secara umum.
Menurutnya, pencatatan saham di bursa juga dapat memberikan manfaat secara langsung kepada masyarakat, baik dari sisi nilai perusahaan, operasional, maupun keberadaan perusahaan negara tersebut. Dengan menjadi perusahaan terbuka, informasi dan kinerja perusahaan juga akan lebih banyak menjadi perhatian publik dan pelaku pasar.
Danantara Masih Identifikasi Perusahaan
Meski sejumlah kandidat telah diidentifikasi, proses penentuan perusahaan yang akan dibawa ke bursa masih berlangsung. Danantara juga masih melakukan komunikasi dengan berbagai pihak sebelum menentukan perusahaan yang dinilai paling siap untuk melakukan IPO. Rosan mengatakan pihaknya berencana mengomunikasikan sejumlah perusahaan yang memiliki potensi serta appetite pasar sebelum akhir 2026.
“Mungkin nanti di sebelum akhir tahun ini kita akan komunikasikan beberapa perusahaan yang kita sudah lihat mempunyai potensi, mempunyai appetite, dan juga mempunyai respon yang akan positif dari masyarakat, dari dunia usaha dan juga baik dalam maupun luar negeri,” jelasnya. Dengan demikian, nama perusahaan yang berpotensi IPO pada 2027 belum disebutkan secara spesifik.
Kandidat Berasal dari Berbagai Sektor
Rosan menyebut rencana IPO tersebut tidak hanya akan berasal dari satu sektor. Sejumlah perusahaan yang sedang diidentifikasi berasal dari sektor keuangan, infrastruktur, hingga pertambangan. “Ada di sektor finansial itu ada, ada di sektor infrastruktur juga pasti ada, di sektor pertambangan juga,” ucapnya. Diversifikasi sektor tersebut membuka kemungkinan masuknya sejumlah perusahaan dengan karakter bisnis yang berbeda ke pasar saham Indonesia.
Dampak ke Market: Tambah Pilihan Investasi
Dari sisi pasar modal, rencana IPO sejumlah BUMN pada 2027 berpotensi menambah supply saham berkualitas dan pilihan investasi bagi investor domestik maupun asing. Jika perusahaan yang dipilih memiliki fundamental dan prospek bisnis yang menarik, aksi tersebut juga dapat memperdalam kapitalisasi serta likuiditas pasar saham Indonesia.
Namun, dari sisi market, bertambahnya pasokan saham melalui IPO juga berarti investor akan memiliki lebih banyak pilihan untuk mengalokasikan dana. Karena itu, respons pasar nantinya akan sangat bergantung pada valuasi IPO, ukuran penawaran, fundamental perusahaan, serta kondisi likuiditas dan sentimen pasar ketika IPO dilakukan.
Bagi BUMN sendiri, pencatatan di bursa dapat menjadi katalis untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas sekaligus membuka akses pendanaan dari pasar modal. Sementara bagi Danantara, langkah tersebut dapat menjadi bagian dari upaya mendorong perusahaan negara menjadi lebih terbuka dan memiliki standar tata kelola yang lebih tinggi.

