[Medan | 7 Juli 2026] Nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan menjelang rilis data cadangan devisa Indonesia pada Selasa (7/7/2026). Setelah sempat menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (6/7), rupiah akhirnya ditutup sedikit menguat di level Rp17.995 per dolar AS.
Meski berhasil bertahan di bawah level Rp18.000, pergerakan tersebut menunjukkan tekanan terhadap mata uang Garuda masih cukup besar. Pelaku pasar kini menantikan data cadangan devisa Bank Indonesia (BI) yang dinilai menjadi salah satu indikator utama kemampuan bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Cadangan Devisa Diperkirakan Kembali Menurun
Sejumlah ekonom memperkirakan posisi cadangan devisa Indonesia pada Juni 2026 masih mengalami penurunan setelah pada akhir Mei tercatat sebesar US$144,9 miliar, level terendah sejak Juni 2024. Ekonom Bank Tabungan Negara (BTN) Myrdal Gunarto memproyeksikan cadangan devisa turun menjadi sekitar US$141,2 miliar.
Menurutnya, penurunan tersebut dipicu oleh kombinasi keluarnya modal asing dari pasar keuangan domestik, menyusutnya surplus perdagangan, pembayaran dividen kepada investor asing, serta intervensi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah.
Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memperkirakan cadangan devisa setidaknya masih stagnan di sekitar level Mei karena tekanan terhadap sektor eksternal belum menunjukkan perbaikan yang signifikan.
Di sisi lain, Kepala Ekonom Bank Syariah Indonesia (BSI) Banjaran Surya Indrastomo memiliki proyeksi yang lebih optimistis. Ia memperkirakan cadangan devisa relatif stabil di kisaran US$145 miliar berkat masuknya arus modal asing ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Meski demikian, Banjaran menilai Bank Indonesia masih harus mengeluarkan biaya intervensi yang besar melalui pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), maupun Non Deliverable Forward (NDF) offshore guna menjaga volatilitas rupiah.
Mengapa Cadangan Devisa Penting?
Cadangan devisa merupakan aset valuta asing yang dimiliki Bank Indonesia dan menjadi salah satu instrumen utama dalam menjaga stabilitas sektor eksternal. Semakin besar cadangan devisa, semakin kuat kemampuan BI melakukan intervensi di pasar valuta asing ketika terjadi tekanan terhadap rupiah maupun gejolak arus modal.
Sebaliknya, apabila cadangan devisa terus menyusut, ruang intervensi BI menjadi lebih terbatas sehingga pasar cenderung mempertanyakan kemampuan bank sentral mempertahankan stabilitas nilai tukar dalam jangka panjang.
Tekanan terhadap cadangan devisa kali ini juga muncul setelah Indonesia mencatat defisit neraca perdagangan pada Mei 2026 sebesar US$1,61 miliar, yang sekaligus mengakhiri tren surplus selama 72 bulan berturut-turut. Kondisi tersebut memperbesar kekhawatiran terhadap defisit Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal II-2026.
Tekanan Global Masih Membayangi Rupiah
Selain faktor domestik, rupiah juga masih dibebani sentimen global. Dollar Index (DXY) masih mencatat penguatan dalam sebulan terakhir seiring meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer). Proyeksi tersebut diperkuat oleh dot plot terbaru The Fed yang masih mengindikasikan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun.
Goldman Sachs sebelumnya juga memperingatkan bahwa kombinasi suku bunga AS yang tetap tinggi, minimnya risiko resesi Amerika Serikat, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal AS, serta kenaikan suku bunga Jepang berpotensi terus memberikan tekanan terhadap mata uang Asia, termasuk rupiah.
Pasar Menanti Risalah FOMC
Selain data cadangan devisa, perhatian investor pekan ini juga akan tertuju pada risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC Minutes) yang dijadwalkan dirilis pada 9 Juli waktu Amerika Serikat. Dokumen tersebut akan memberikan gambaran lebih rinci mengenai pandangan para pejabat Federal Reserve terhadap inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, serta arah suku bunga ke depan.
Apabila isi risalah menunjukkan mayoritas pejabat The Fed masih mendukung kenaikan suku bunga lanjutan, maka dolar AS berpotensi kembali menguat dan memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah maupun aset berisiko di negara berkembang.
Sebaliknya, apabila risalah memperlihatkan sikap yang lebih berhati-hati (dovish) setelah melambatnya data ketenagakerjaan AS pada Juni, peluang penguatan rupiah dapat kembali terbuka seiring meredanya ekspektasi pengetatan moneter.
Prospek Rupiah
Dalam jangka pendek, arah rupiah diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh kombinasi sentimen domestik dan global. Apabila cadangan devisa kembali turun tajam di bawah ekspektasi pasar, sentimen terhadap rupiah berpotensi memburuk karena pasar akan menilai ruang intervensi Bank Indonesia semakin terbatas.
Namun apabila penurunan relatif terbatas atau bahkan stabil, kekhawatiran pasar dapat sedikit mereda sehingga membantu menjaga rupiah tetap berada di bawah level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Meskipun begitu, selama defisit neraca perdagangan, tekanan Neraca Pembayaran Indonesia, dan ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat masih berlangsung, ruang penguatan rupiah diperkirakan tetap terbatas. Fokus pasar setelah rilis cadangan devisa akan segera beralih pada FOMC Minutes yang berpotensi menjadi penentu arah dolar AS dan pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan.

