IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

Cadangan Devisa RI Juni 2026 Diproyeksi Turun

By Aurelia 2 hours ago Ekonomi
Image source: AP/ bloombergtechnoz.com
SHARE

[Medan | 7 Juli 2026] Posisi cadangan devisa Indonesia pada Juni 2026 diperkirakan kembali mengalami tekanan seiring masih besarnya kebutuhan valuta asing, berlanjutnya arus modal keluar (capital outflow), serta melemahnya kinerja sektor eksternal. Kondisi tersebut dinilai dapat membatasi ruang Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.

Sejumlah ekonom memperkirakan cadangan devisa masih akan berada di bawah tekanan setelah pada akhir Mei 2026 tercatat sebesar US$144,9 miliar, level terendah sejak Juni 2024. Ekonom Bank Tabungan Negara (BTN) Myrdal Gunarto memproyeksikan cadangan devisa turun menjadi sekitar US$141,2 miliar pada Juni. Menurutnya, penurunan tersebut dipicu oleh kombinasi keluarnya modal asing, khususnya dari pasar saham, berlanjutnya defisit neraca perdagangan, serta tingginya pembayaran dividen kepada investor asing. 

Myrdal juga memperkirakan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal II-2026 masih mencatat defisit sekitar US$4,3 miliar. Ia menjelaskan pelebaran defisit transaksi berjalan terutama dipengaruhi oleh menyusutnya surplus perdagangan, meningkatnya pembayaran dividen dalam komponen pendapatan primer (primary income), serta arus keluar pada pos investasi lainnya (other investment).

Menurutnya, surplus dari remitansi pekerja migran maupun investasi langsung (Foreign Direct Investment/FDI) belum mampu mengimbangi besarnya arus keluar dari kedua komponen tersebut.

Selain faktor domestik, tekanan juga berasal dari kondisi eksternal yang masih kurang kondusif, mulai dari penguatan dolar Amerika Serikat, harga minyak dunia yang masih relatif tinggi, hingga perpindahan dana investor ke negara-negara maju yang menawarkan imbal hasil lebih menarik. Kondisi tersebut dinilai turut memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah sekaligus meningkatkan risiko imported inflation.

BI Diperkirakan Masih Terus Melakukan Intervensi

Pandangan serupa disampaikan Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual. Ia memperkirakan posisi cadangan devisa pada Juni masih berada dalam tekanan atau setidaknya stagnan karena belum terdapat indikasi pemulihan yang berarti. Menurut David, tekanan berasal dari defisit neraca perdagangan yang diperkirakan masih berlanjut, pelemahan rupiah, pembayaran utang luar negeri, serta kebutuhan intervensi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas pasar valuta asing.

Selain itu, ketidakpastian global juga membuat investor asing masih cenderung bersikap wait and see sehingga arus modal masuk belum mampu menopang cadangan devisa secara signifikan. David memperkirakan Neraca Pembayaran Indonesia pada kuartal II-2026 masih akan berada dalam kondisi defisit akibat pelebaran defisit transaksi berjalan yang dipicu memburuknya neraca perdagangan.

Kondisi tersebut dinilai mempersempit ruang Bank Indonesia untuk terus melakukan stabilisasi nilai tukar apabila tekanan terhadap rupiah kembali meningkat.

Capital Inflow Berpotensi Menahan Penurunan

Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Syariah Indonesia (BSI) Banjaran Surya Indrastomo memiliki proyeksi yang lebih moderat. Ia memperkirakan cadangan devisa relatif stabil di kisaran US$145 miliar.

Menurutnya, arus modal asing yang masuk sekitar US$3,9 miliar hingga pertengahan Juni, terutama ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN), membantu mengimbangi kebutuhan devisa domestik, pembayaran utang luar negeri, serta tekanan akibat defisit perdagangan.

Meski demikian, Banjaran menilai ruang peningkatan cadangan devisa masih terbatas karena Bank Indonesia tetap harus melakukan intervensi secara aktif melalui pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), maupun Non Deliverable Forward (NDF) offshore untuk menjaga stabilitas rupiah.

Ia memperkirakan Neraca Pembayaran Indonesia pada kuartal II-2026 masih mengalami defisit sekitar US$3 miliar hingga US$5 miliar. Meski lebih baik dibandingkan defisit kuartal I-2026 sebesar US$9,15 miliar, perbaikan tersebut lebih banyak ditopang oleh masuknya modal asing dibandingkan penguatan fundamental transaksi berjalan.

Dampak terhadap Rupiah dan Pasar Keuangan

Cadangan devisa merupakan salah satu indikator penting yang mencerminkan kemampuan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan memenuhi kewajiban pembayaran luar negeri. Apabila realisasi cadangan devisa kembali turun signifikan, pasar berpotensi menilai ruang intervensi BI semakin terbatas sehingga tekanan terhadap rupiah dapat berlanjut, terutama di tengah masih tingginya suku bunga Amerika Serikat dan kuatnya dolar AS.

Sebaliknya, apabila posisi cadangan devisa mampu bertahan mendekati level Mei atau bahkan lebih tinggi dari ekspektasi, sentimen pasar terhadap rupiah berpotensi membaik karena menunjukkan ketahanan eksternal Indonesia masih relatif terjaga.

Meski demikian, selama defisit transaksi berjalan, arus modal keluar, serta ketidakpastian global masih berlangsung, tekanan terhadap rupiah diperkirakan belum sepenuhnya mereda. Investor juga akan mencermati rilis risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC Minutes) pekan ini untuk memperoleh petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed yang akan menjadi salah satu penentu utama pergerakan pasar keuangan global.

 

 

You Might Also Like

Cadangan Devisa Juni Naik Jadi US$ 145,6M, Apa Artinya Bagi Rupiah?

Indonesia-Singapura Teken 26 Kesepakatan, Apa Saja?

Jelang Rilis Cadangan Devisa Hari Ini, Rupiah Bakal Kemana?

Trump Akan Bertemu Zelensky di KTT NATO, Bahas Apa?

Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Fed Mereda, Harga Emas Menguat

TAGGED: cadangan devisa, Rupiah
Aurelia July 7, 2026 July 7, 2026
Previous Article IHSG Hijau, Tapi Likuiditas Masih Tipis
Next Article Siap-siap! Dua Saham IPO Listing di Bursa Hari Ini
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Komplek CitraLand Gama City, Madison Avenue, Blok R6 No. 90, Deli Serdang, Sumatera Utara, Indonesia
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?