[Medan | 6 Juli 2026] Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dijadwalkan bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dalam rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Turki pada Rabu (8/7/2026). Pertemuan tersebut diperkirakan akan berfokus pada perkembangan perang Rusia-Ukraina, dukungan militer Barat, hingga masa depan perundingan damai yang selama beberapa bulan terakhir berjalan stagnan.
Trump tiba di Turki pada Selasa untuk melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebelum menghadiri forum para pemimpin NATO. Pertemuan dengan Zelensky menjadi salah satu agenda yang paling dinantikan mengingat hubungan kedua pemimpin selama ini kerap mengalami pasang surut. Saat kampanye pemilihan presiden, Trump pernah berjanji mampu mengakhiri perang Rusia-Ukraina dalam waktu satu hari setelah kembali menjabat. Namun hingga kini konflik masih terus berlangsung tanpa tanda-tanda penyelesaian yang konkret.
Fokus pada Upaya Perdamaian Ukraina
Pemerintah Amerika Serikat diperkirakan akan kembali membahas peluang dimulainya negosiasi damai antara Ukraina dan Rusia. Selama beberapa bulan terakhir, upaya diplomasi Washington sempat tertunda karena perhatian Gedung Putih lebih banyak tersita oleh konflik di Timur Tengah, khususnya perang antara AS, Israel, dan Iran.
Sejumlah pemimpin Eropa juga mendesak Washington untuk kembali mengambil peran utama dalam memfasilitasi perundingan damai antara Kyiv dan Moskow. Menjelang KTT NATO, Trump diketahui telah berbicara melalui sambungan telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Menurut penasihat kebijakan luar negeri Kremlin Yuri Ushakov, kedua pemimpin membahas perkembangan perang Ukraina serta agenda KTT NATO.
Seorang pejabat pemerintah AS mengatakan Washington masih menilai konflik Rusia-Ukraina berada dalam situasi kebuntuan karena belum ada pihak yang berhasil memperoleh keunggulan militer secara signifikan. Meski Ukraina semakin intensif melancarkan serangan menggunakan drone dan rudal jarak jauh ke wilayah Rusia, kondisi tersebut dinilai belum cukup mengubah keseimbangan perang. Pejabat tersebut juga menyebut Trump diperkirakan akan membahas secara langsung berbagai opsi penyelesaian konflik bersama Zelensky dalam pertemuan nanti.
Belanja Pertahanan NATO Jadi Sorotan
Selain isu Ukraina, Trump diperkirakan kembali menekan negara-negara anggota NATO agar mempercepat peningkatan belanja pertahanan hingga mencapai 5% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Pemerintahan Trump selama ini menilai sebagian besar anggota NATO masih terlalu bergantung pada kekuatan militer Amerika Serikat.
Duta Besar AS untuk NATO, Matt Whitaker, mengatakan Presiden Trump menginginkan seluruh sekutu tidak hanya berkomitmen menuju target tersebut, tetapi juga merealisasikannya dalam waktu sesingkat mungkin. “Presiden Trump mengharapkan seluruh sekutu segera mengambil langkah nyata dan mencapai belanja pertahanan sebesar 5 persen secepat mungkin,” ujarnya.
Isu tersebut diperkirakan kembali menjadi pembahasan utama mengingat Washington beberapa bulan terakhir telah mengumumkan rencana pengurangan sekitar 5.000 personel militer AS di Eropa serta penyesuaian sejumlah komitmen pertahanan di kawasan.
Greenland dan Hubungan AS-Eropa
Hubungan Amerika Serikat dengan sejumlah negara Eropa juga masih dibayangi ketegangan akibat pernyataan Trump mengenai keinginannya mengambil alih Greenland, wilayah otonom milik Denmark yang juga merupakan anggota NATO. Meski mendapat penolakan keras dari negara-negara Eropa, sejumlah pejabat AS menyatakan Trump masih mempertimbangkan berbagai opsi terkait Greenland.
Di sisi lain, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte terus berupaya menjaga soliditas aliansi dengan menekankan pentingnya peningkatan belanja pertahanan sekaligus mempertahankan hubungan erat dengan Washington.
Perang Ukraina Masih Berpotensi Meluas
Kekhawatiran terhadap meluasnya konflik Rusia-Ukraina ke kawasan Eropa Timur tetap menjadi perhatian utama para pemimpin NATO. Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya menyatakan masih membuka peluang melanjutkan dialog dengan utusan Amerika Serikat. Namun Moskow tetap menolak usulan penghentian serangan jarak jauh dan mempertahankan tuntutan wilayah yang selama ini menjadi salah satu hambatan terbesar dalam proses negosiasi damai.
Di tengah belum tercapainya kesepakatan tersebut, pertemuan Trump dan Zelensky di KTT NATO diperkirakan akan menjadi momentum penting untuk menentukan arah dukungan Barat terhadap Ukraina sekaligus menghidupkan kembali upaya diplomasi yang sempat terhenti dalam beberapa bulan terakhir.

