[Medan | 27 Juli 2026] Sentimen pasar global mulai membaik setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran sama-sama menghentikan serangan militer selama akhir pekan. Meredanya ketegangan tersebut memicu penurunan harga minyak dunia, mengurangi kekhawatiran terhadap inflasi global, sekaligus mendorong penguatan pasar saham Asia pada awal perdagangan Senin (27/7/2026).
Pelaku pasar kini mulai mengalihkan fokus dari risiko geopolitik menuju agenda ekonomi penting pekan ini, terutama keputusan suku bunga The Federal Reserve (The Fed), Bank of Japan (BoJ), dan Bank of England (BoE), serta laporan keuangan perusahaan-perusahaan teknologi besar Amerika Serikat.
Harga Minyak Turun, Kekhawatiran Inflasi Mulai Mereda
Harga minyak menjadi aset yang paling cepat merespons meredanya konflik. Minyak mentah Brent sempat anjlok hingga 7,4% dan turun di bawah level US$90 per barel sebelum memangkas sebagian pelemahannya.
Penurunan harga minyak terjadi setelah Presiden Donald Trump menghentikan operasi militer AS terhadap Iran yang telah berlangsung selama hampir dua pekan. Di sisi lain, Iran juga menyatakan tidak akan melanjutkan serangan selama Washington tetap menahan diri.
Harapan terhadap solusi diplomatik semakin meningkat setelah pejabat Iran dan Oman kembali membuka pembicaraan mengenai keamanan pelayaran di Selat Hormuz, jalur distribusi sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Meredanya risiko gangguan pasokan energi membuat kekhawatiran inflasi global mulai berkurang. Sebelumnya, lonjakan harga minyak menjadi salah satu faktor utama yang memicu spekulasi bahwa bank-bank sentral harus mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Bursa Asia Menguat, Investor Kembali Berani Ambil Risiko
Membaiknya sentimen geopolitik langsung mendorong investor kembali masuk ke aset berisiko. Indeks MSCI Asia Pacific menguat sekitar 0,5%, dipimpin oleh kenaikan bursa Jepang dan Korea Selatan. Di Amerika Serikat, kontrak berjangka Nasdaq 100 juga melonjak sekitar 1,3%, mencerminkan optimisme bahwa tekanan terhadap sektor teknologi mulai mereda.
Sementara itu, dolar AS yang sebelumnya menguat sebagai aset safe haven justru melemah terhadap sebagian besar mata uang utama dunia. Obligasi pemerintah AS (US Treasury) juga menguat karena ekspektasi inflasi kembali menurun setelah harga minyak terkoreksi tajam. Kondisi tersebut menunjukkan investor mulai mengurangi posisi defensif dan kembali meningkatkan eksposur terhadap aset berisiko seiring menurunnya ketidakpastian geopolitik.
Fokus Pasar Beralih ke The Fed dan Bank Sentral Dunia
Meski konflik Timur Tengah mulai mereda, perhatian investor kini sepenuhnya tertuju pada rangkaian rapat bank sentral negara-negara maju pekan ini. The Fed akan mengumumkan keputusan suku bunga pada Rabu, kemudian disusul Bank of Japan (BoJ) dan Bank of England (BoE).
Mayoritas pelaku pasar memperkirakan ketiga bank sentral akan mempertahankan suku bunga. Namun, pernyataan para pejabat bank sentral tetap menjadi perhatian utama karena akan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter beberapa bulan ke depan.
Meredanya harga minyak diperkirakan mengurangi tekanan inflasi jangka pendek, sehingga memperkuat peluang The Fed untuk mempertahankan suku bunga tanpa perlu kembali melakukan pengetatan dalam waktu dekat.
Laporan Keuangan Big Tech Jadi Penentu Sentimen Berikutnya
Selain kebijakan moneter, pasar global juga akan dipengaruhi oleh laporan keuangan sejumlah perusahaan teknologi terbesar Amerika Serikat. Microsoft dan Meta dijadwalkan merilis kinerja pada pertengahan pekan, kemudian disusul Apple dan Amazon sehari setelahnya.
Laporan tersebut akan menjadi tolok ukur apakah investasi besar-besaran di sektor kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai menghasilkan pertumbuhan laba yang sepadan. Dalam beberapa pekan terakhir, saham-saham teknologi mengalami tekanan karena investor mulai mempertanyakan besarnya belanja modal AI dibandingkan keuntungan yang dihasilkan.
Dampak ke IHSG, Rupiah, dan Obligasi Indonesia
Bagi pasar keuangan domestik, meredanya konflik Timur Tengah menjadi sentimen positif karena menurunkan tekanan terhadap harga minyak dan inflasi global. Apabila harga minyak mampu bertahan di bawah level psikologis US$100 per barel, tekanan terhadap rupiah berpotensi berkurang karena risiko pelebaran defisit transaksi berjalan akibat impor energi menjadi lebih kecil.
Di pasar obligasi, ekspektasi bahwa The Fed tidak perlu kembali menaikkan suku bunga juga berpotensi mendorong penurunan imbal hasil (yield) obligasi global, sehingga membuka ruang bagi aliran dana asing kembali masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia.
Sementara itu, IHSG berpotensi melanjutkan pemulihan apabila sentimen positif global bertahan. Sektor yang sensitif terhadap suku bunga seperti perbankan, properti, dan konsumer berpeluang memperoleh sentimen positif dari berkurangnya kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga global. Namun demikian, arah pasar dalam beberapa hari ke depan masih akan sangat dipengaruhi oleh hasil rapat The Fed serta laporan keuangan perusahaan-perusahaan teknologi Amerika Serikat yang menjadi barometer utama sentimen investor global.

