[Medan | 2 September 2026] Investor asing kembali menunjukkan minat kuat terhadap pasar saham Indonesia. Pada perdagangan Selasa (1/9/2026), investor asing mencatatkan pembelian bersih atau net buy sebesar Rp2,03 triliun, dengan saham perbankan menjadi salah satu target utama.
Aksi beli tersebut berlangsung bersamaan dengan penguatan signifikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup naik 1,14% atau 74,46 poin ke level 6.599,94. Derasnya aliran dana asing dan penguatan saham-saham berkapitalisasi besar menjadi salah satu pendorong utama kenaikan indeks.
BBRI dan BBCA Jadi Sasaran Utama Asing
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi saham yang paling banyak diborong investor asing dengan net buy mencapai Rp841 miliar. Nilai pembelian asing di BBRI mencapai Rp1,15 triliun, sedangkan penjualan berada di Rp305,9 miliar.
Di posisi berikutnya, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat net buy asing sebesar Rp435,4 miliar. Investor asing membukukan pembelian Rp646,8 miliar dan penjualan Rp211,5 miliar di saham BBCA. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga masuk dalam daftar saham yang banyak dikoleksi dengan net buy Rp172,3 miliar.
Besarnya aliran dana asing ke tiga bank jumbo tersebut menunjukkan bahwa investor global kembali meningkatkan eksposur terhadap sektor perbankan Indonesia. Selain memiliki kapitalisasi pasar besar dan likuiditas tinggi, saham bank besar biasanya menjadi pilihan utama investor institusi ketika ingin meningkatkan posisi di pasar Indonesia tanpa mengambil risiko likuiditas yang terlalu besar.
Saham Komoditas dan Energi Ikut Dilirik
Selain perbankan, investor asing juga memburu sejumlah saham yang memiliki eksposur terhadap komoditas dan sektor energi. PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mencatat net buy asing Rp183,2 miliar, disusul PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) sebesar Rp179,5 miliar. Sementara itu, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) membukukan net buy Rp172,3 miliar.
Aksi beli juga terlihat pada PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dengan net buy Rp132,2 miliar, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) Rp131,1 miliar, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) Rp74,3 miliar, dan PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) Rp68,2 miliar.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa minat asing tidak hanya terkonsentrasi pada bank besar, tetapi juga menyebar ke saham komoditas, energi, material dasar dan industri. Hal ini menjadi semakin menarik di tengah kenaikan harga komoditas dan meningkatnya perhatian investor terhadap sektor yang memiliki potensi mendapatkan manfaat dari kondisi harga global.
Bank Jumbo Jadi Motor Penguatan IHSG
Kuatnya aksi beli asing turut tercermin dari kontribusi saham perbankan terhadap IHSG. BBRI menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 13,98 poin, diikuti BBCA sebesar 9,39 poin dan BMRI sebesar 7,82 poin. Dengan demikian, ketiga bank jumbo tersebut secara kumulatif menyumbang sekitar 31,19 poin terhadap kenaikan IHSG.
Penguatan juga terlihat pada harga sahamnya. BBRI ditutup naik 4% menjadi Rp3.380, BBCA menguat ke Rp6.600, sementara BMRI berakhir di Rp4.320. Dominasi bank besar dalam penguatan indeks menunjukkan bahwa kenaikan IHSG kali ini mendapatkan dukungan dari saham-saham berkapitalisasi besar. Kondisi tersebut cenderung lebih sehat dibandingkan penguatan yang hanya ditopang saham-saham berkapitalisasi kecil karena bank jumbo memiliki bobot besar terhadap pergerakan indeks.
Apa Artinya bagi Pasar dan Investor?
Net buy asing sebesar Rp2,03 triliun memberikan sinyal positif terhadap sentimen pasar saham Indonesia. Setelah sebelumnya pasar menghadapi berbagai tekanan dari faktor global, masuknya dana asing dalam jumlah besar menunjukkan mulai adanya peningkatan appetite terhadap aset domestik. Namun, investor tetap perlu melihat apakah arus masuk tersebut dapat berlanjut atau hanya bersifat sementara. Pergerakan IHSG berikutnya masih akan dipengaruhi oleh arah yield obligasi global, kebijakan The Fed, harga minyak, nilai tukar rupiah, serta kondisi ekonomi domestik.
Untuk investor saham, saham perbankan besar seperti BBRI, BBCA dan BMRI dapat menjadi perhatian karena memiliki likuiditas tinggi dan menjadi sasaran utama investor institusi. Namun, setelah kenaikan harga yang cukup cepat, investor sebaiknya tidak mengejar harga dan lebih mempertimbangkan akumulasi saat terjadi koreksi.
Sementara itu, saham komoditas dan energi dapat menjadi alternatif diversifikasi di tengah harga komoditas yang masih tinggi. Investor tetap perlu memperhatikan volatilitas sektor tersebut karena pergerakannya sangat sensitif terhadap harga komoditas global dan perkembangan geopolitik.
Jika net buy asing terus berlanjut dan mulai diikuti oleh penguatan saham-saham unggulan secara lebih luas, peluang IHSG untuk melanjutkan penguatan akan semakin terbuka. Sebaliknya, apabila aliran dana asing kembali berbalik menjadi net sell, kenaikan IHSG perlu diwaspadai karena penguatan saat ini masih sangat ditopang oleh saham-saham berkapitalisasi besar.

