[Medan | 24 Juni 2026] Oman dan Iran sepakat melanjutkan pembahasan mengenai pengelolaan navigasi dan layanan maritim di Selat Hormuz, sebuah perkembangan yang dipandang positif oleh pasar energi global di tengah upaya pemulihan stabilitas kawasan Timur Tengah pasca konflik antara Iran dan koalisi Amerika Serikat-Israel.
Kesepakatan tersebut diumumkan dalam pernyataan bersama setelah pertemuan bilateral di Muscat, Oman, Selasa (23/6/2026). Kedua negara juga akan membentuk kelompok kerja bersama yang melibatkan kementerian luar negeri masing-masing untuk membahas mekanisme pengelolaan jalur pelayaran strategis tersebut, termasuk kemungkinan pengaturan biaya dan layanan maritim di masa mendatang.
Langkah ini menjadi sinyal penting bahwa negara-negara di kawasan mulai bergerak dari fase konflik menuju fase normalisasi aktivitas ekonomi dan perdagangan, khususnya di salah satu jalur energi terpenting dunia.
Selat Hormuz Kembali Menjadi Fokus Utama
Pembahasan tersebut merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman yang ditandatangani pekan lalu sebagai bagian dari proses deeskalasi konflik di kawasan. Dalam kesepakatan tersebut, Iran diminta untuk berkoordinasi dengan Oman dan negara-negara pesisir Teluk lainnya guna merumuskan tata kelola jangka panjang bagi Selat Hormuz. Jalur pelayaran tersebut memiliki peran vital karena menjadi rute utama sekitar 20% perdagangan minyak dunia dan sebagian besar ekspor energi dari Timur Tengah menuju Asia, Eropa, dan Amerika Utara.
Kunjungan Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi ke Oman mempertegas komitmen kedua negara untuk menjaga stabilitas kawasan. Dalam pertemuan dengan Sultan Oman Haitham bin Tariq dan Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr Albusaidi, kedua pihak menegaskan pentingnya menjaga keselamatan pelayaran sesuai hukum internasional. Pernyataan tersebut menjadi perhatian pasar karena selama beberapa bulan terakhir Selat Hormuz menjadi salah satu sumber utama ketidakpastian global.
Dari Konflik Menuju Normalisasi
Sejak pecahnya konflik antara Iran dan koalisi Amerika Serikat-Israel pada Februari 2026, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mengalami gangguan yang signifikan. Iran sempat melakukan pembatasan akses pelayaran sebagai respons terhadap tekanan militer dan ekonomi dari Barat. Sebagai balasan, Amerika Serikat memperketat blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran yang menyebabkan terganggunya arus perdagangan energi regional.
Kondisi tersebut sempat memicu lonjakan harga minyak dunia karena investor mengkhawatirkan terputusnya sebagian pasokan energi global. Risiko geopolitik yang meningkat juga mendorong kenaikan premi risiko pada berbagai aset keuangan global.
Namun, serangkaian perkembangan diplomatik dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan bahwa kedua pihak mulai bergerak menuju penyelesaian yang lebih konstruktif. Kesepakatan terkait Selat Hormuz menjadi salah satu indikator bahwa proses normalisasi mulai berlangsung.

