[Medan | 26 Oktober 2026] Pasar surat utang domestik menghadapi tekanan jual pada perdagangan Senin (26/10/2026), tercermin dari kenaikan imbal hasil atau yield di hampir seluruh tenor Surat Berharga Negara (SBN). Pelemahan rupiah dan kenaikan yield obligasi global turut membayangi pergerakan pasar.
Mengacu pada data Bloomberg per pukul 10.10 WIB, yield SBN tenor 1 tahun naik 1,6 basis poin (bps) menjadi 6,79%. Tenor 2 tahun meningkat 2,2 bps ke 6,92%, sedangkan tenor 3 tahun naik 2 bps menjadi 7,09%. Tekanan juga terjadi pada tenor menengah dan panjang. Yield tenor 5 tahun naik 1,6 bps menjadi 7,30%, sementara tenor 7 tahun meningkat 1,2 bps ke 7,42%. Adapun yield SBN acuan tenor 10 tahun naik tipis 0,3 bps menjadi 7,45%.
Kenaikan yield tersebut terjadi bersamaan dengan pelemahan rupiah sebesar 0,28% ke Rp18.105 per dolar AS. Kondisi ini menambah tekanan terhadap aset keuangan domestik di tengah meningkatnya yield di sejumlah pasar obligasi global.
Yield Global Naik, Pasar Menanti Keputusan The Fed
Di pasar global, yield US Treasury tenor 10 tahun tercatat berada di level 4,96%, naik 0,9 bps. Kenaikan juga terjadi pada tenor 2 tahun sebesar 2,1 bps menjadi 4,66% dan tenor 5 tahun sebesar 1,2 bps ke 4,78%.
Pergerakan serupa terlihat di sejumlah pasar obligasi negara lain. Yield obligasi pemerintah Jepang naik 1 bps menjadi 2,79%, sedangkan Inggris meningkat 3,1 bps menjadi 5,35%. Yield obligasi Korea Selatan berada di sekitar 4,10%, sementara China tercatat 1,62%.
Kenaikan yield global menjadi perhatian investor karena dapat memengaruhi daya tarik relatif obligasi negara berkembang. Ketika imbal hasil aset berdenominasi dolar AS meningkat, investor dapat menyesuaikan alokasi portofolio berdasarkan perbandingan imbal hasil dan risiko.
Pasar juga mencermati agenda ekonomi Amerika Serikat pekan ini, terutama keputusan suku bunga Federal Reserve melalui Federal Open Market Committee (FOMC) serta rilis indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) September. PCE merupakan salah satu indikator inflasi yang menjadi perhatian utama The Fed.
Yield INDON Justru Turun di Tengah Tekanan Global
Berbeda dengan SBN rupiah dan mayoritas obligasi global, yield obligasi pemerintah Indonesia berdenominasi dolar AS atau INDON justru mengalami penurunan. Berdasarkan data Bloomberg, yield INDON tenor 2 tahun turun 0,5 bps menjadi 5,13%. Tenor 3 tahun turun 0,8 bps ke 5,19%, sementara tenor 5 tahun merosot 1,1 bps menjadi 5,66%. Penurunan terdalam terjadi pada tenor 7 tahun, yakni sebesar 2,9 bps menjadi 5,92%.
Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas Lionel Priyadi menilai, aksi beli INDON didorong oleh sentimen flight to safety, yaitu perpindahan dana investor menuju aset yang dianggap lebih aman ketika risiko meningkat.
Salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah kekhawatiran terhadap risiko kredit pada sebagian perusahaan teknologi kecerdasan buatan (AI). Kekhawatiran mengenai kualitas kredit korporasi teknologi mendorong sebagian investor mengurangi eksposur terhadap obligasi korporasi dan beralih ke US Treasury. Meski demikian, Lionel menilai keberlanjutan sentimen tersebut berpotensi menghadapi tantangan pekan ini, seiring dengan agenda FOMC dan rilis data PCE AS.
Harga Minyak Jadi Risiko Tambahan bagi Obligasi
Menjelang kedua agenda tersebut, kenaikan harga minyak mentah Brent ke kisaran US$115 per barel turut mendorong perhatian investor terhadap risiko inflasi. Harga energi yang bertahan tinggi dapat meningkatkan biaya produksi dan transportasi, sehingga berpotensi memperlambat penurunan inflasi.
Jika tekanan inflasi kembali menguat, ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter dapat menjadi lebih terbatas. Ekspektasi suku bunga yang bertahan tinggi berpotensi mendorong yield US Treasury naik dan meningkatkan tekanan terhadap obligasi negara berkembang.
Lionel menilai, apabila harga minyak bertahan tinggi dalam waktu lebih lama, momentum pembelian INDON berpotensi tidak berlangsung lama. Kenaikan yield US Treasury dapat memicu penyesuaian portofolio investor global dan merambat ke pasar surat utang negara berkembang.
Bagi pasar obligasi Indonesia, perkembangan tersebut membuat arah yield tidak hanya ditentukan oleh kondisi domestik, tetapi juga oleh pergerakan rupiah, harga energi, dan ekspektasi kebijakan moneter AS. Investor perlu mencermati apakah kenaikan yield SBN berlanjut serta apakah permintaan terhadap INDON mampu bertahan di tengah volatilitas global.

