IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

Purbaya Yakin Sinergi Fiskal-Moneter Makin Erat dengan Gubernur BI Destry

By Aurelia 2 hours ago Ekonomi
Image source: AP/ olenka.id
SHARE

[Medan | 3 September 2026] Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis koordinasi antara kebijakan fiskal pemerintah dan moneter Bank Indonesia (BI) akan semakin erat di bawah kepemimpinan Gubernur BI periode 2026–2031, Destry Damayanti. Kedekatan keduanya dinilai dapat menjadi modal untuk memperkuat sinkronisasi kebijakan ekonomi ke depan.

Purbaya Dorong Koordinasi Fiskal-Moneter Lebih Erat

Purbaya mengatakan dirinya telah cukup mengenal Destry sejak keduanya berada di Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Menurutnya, hubungan tersebut dapat membantu memperlancar komunikasi antara pemerintah dan bank sentral dalam merumuskan kebijakan. Selain melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), koordinasi pemerintah dan BI akan diperkuat dengan pengembangan instrumen untuk membaca kondisi perekonomian dan likuiditas pasar secara lebih akurat.

Purbaya menilai masih terdapat sejumlah kelemahan dalam membaca kondisi sistem keuangan, terutama karena beberapa indikator yang digunakan belum sepenuhnya mencerminkan kondisi likuiditas perbankan secara riil.

Pemerintah Ingin Instrumen Likuiditas Lebih Akurat

Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah penggunaan indikator terkait pengembalian deposit serta alat likuid terhadap non-core deposit (AL/NCD). Pemerintah menilai instrumen tersebut perlu disempurnakan agar keputusan kebijakan dapat lebih sesuai dengan kondisi yang benar-benar terjadi di sektor perbankan.

Penguatan instrumen tersebut diharapkan membuat koordinasi fiskal dan moneter tidak hanya bergantung pada indikator makro, tetapi juga mampu menangkap perubahan likuiditas dan kondisi sektor keuangan secara lebih cepat.

Destry Fokus Stabilitas di Tengah Higher for Longer

Sementara itu, setelah resmi dilantik sebagai Gubernur BI periode 2026–2031, Destry menegaskan bahwa stabilitas ekonomi menjadi prioritas utama pada awal masa kepemimpinannya.

Destry melihat ketidakpastian ekonomi global masih tinggi, terutama dalam kondisi suku bunga global yang berpotensi bertahan pada level tinggi dalam waktu lebih lama atau higher for longer. Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap perekonomian domestik melalui nilai tukar, arus modal, maupun kondisi pasar keuangan.

“Kita menghadapi situasi higher for longer, artinya ketidakpastian global itu masih sangat tinggi. Hal itu tentu sedikit banyak akan mempengaruhi kita, sehingga stance kita di awal ini memang tetap fokus kepada stabilitas,” kata Destry.

Kebijakan Makroprudensial Tetap Jadi Penopang Pertumbuhan

Meski stabilitas menjadi fokus utama, Destry memastikan BI tetap akan menggunakan seluruh bauran kebijakannya untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan mendukung sektor riil. Kerangka kebijakan BI mencakup tiga pilar utama, yakni kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran. Ketiganya juga diperkuat melalui kebijakan pengembangan UMKM, ekonomi dan keuangan syariah, serta pendalaman pasar keuangan.

Kebijakan makroprudensial akan tetap menjadi salah satu instrumen utama untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan. BI akan terus memberikan insentif kepada perbankan yang menyalurkan kredit ke sektor-sektor prioritas. Destry menegaskan bahwa bauran kebijakan akan diarahkan secara fleksibel untuk menentukan instrumen mana yang lebih berorientasi pada stabilitas dan mana yang dapat lebih agresif menopang pertumbuhan.

Sinergi Kebijakan Jadi Kunci di Tengah Ketidakpastian

Arah kebijakan BI juga akan diselaraskan dengan amanat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK), termasuk dalam mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, menciptakan iklim ekonomi yang kondusif, serta memperluas lapangan kerja.

Dengan kondisi global yang masih penuh ketidakpastian, semakin eratnya koordinasi antara pemerintah dan BI menjadi penting untuk menjaga stabilitas sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan. Bagi pasar keuangan, kombinasi kebijakan fiskal yang lebih terkoordinasi dengan stance moneter yang tetap menjaga stabilitas dapat menjadi faktor penting dalam menentukan arah likuiditas, rupiah, dan pasar obligasi domestik ke depan.

 

You Might Also Like

Harga Emas Dunia Bangkit dari Level Terendah Hampir Sebulan

Neraca Dagang Surplus, Tapi Ekonom Sebut Masih Rentan

AS-Iran Saling Serang Lagi, Harga Minyak Tembus US$95!

Yield Obligasi Global Naik Tajam, Apa Dampaknya ke Indonesia?

Inflasi Naik Tapi Neraca Dagang Kembali Surplus, Apa Artinya Bagi Ekonomi RI?

TAGGED: Destry Damayanti, fiskal-moneter, Gubernur BI
Aurelia September 3, 2026 September 3, 2026
Previous Article Harga Emas Dunia Bangkit dari Level Terendah Hampir Sebulan
Next Article Asing Banyak Borong Saham BBRI, Ada Sentimen Apa?
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Mentari Greenwich B7-8, Jl. Letda Sujono No.64, Bandar Selamat, Kec. Medan Tembung, Kota Medan, Sumatera Utara 20223
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?