[Medan | 3 September 2026] Pada perdagangan saham kemarin, Rabu (2/9/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 4,17 poin atau 0,06% ke posisi 6.595. Namun, di tengah pelemahan IHSG, perhatian justru tertuju pada pergerakan saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang menjadi salah satu sasaran pembelian investor asing.
Investor asing tercatat melakukan net buy terbesar pada saham BBRI dengan nilai mencapai Rp155,28 miliar. Seiring derasnya pembelian tersebut, saham BBRI berhasil menguat 0,3% ke level Rp3.390 per saham. Minat asing tersebut datang di tengah kinerja fundamental BBRI yang masih solid. Pada semester I 2026, BBRI membukukan laba bersih sebesar Rp30,9 triliun, tumbuh 17% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Laba BBRI Tumbuh 17% pada Semester I 2026
Pertumbuhan laba BBRI terutama ditopang oleh pre-provision operating profit (PPOP) yang meningkat 13% yoy. Pertumbuhan tersebut sejalan dengan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang naik 10% yoy. Sementara itu, pendapatan berbasis non-bunga tumbuh lebih terbatas sebesar 2% yoy. Dengan demikian, pertumbuhan laba masih terutama berasal dari penguatan bisnis inti perbankan dan peningkatan pendapatan bunga.
Kualitas Aset Mikro Mulai Membaik
Dalam riset terbarunya, Indopremier menilai perbaikan kualitas aset pada segmen mikro menjadi salah satu perkembangan paling positif bagi BBRI. Rata-rata net downgrade menjadi kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) turun menjadi Rp1,7 triliun pada kuartal II 2026, dari Rp2 triliun pada kuartal I 2026. Angka tersebut juga jauh lebih rendah dibandingkan puncaknya sebesar Rp3,5 triliun pada Januari 2025.
Perbaikan juga terlihat dari analisis vintage. Penurunan kualitas kredit menjadi Special Mention Loan (SML) dalam enam bulan setelah pencairan (six months on book) turun menjadi 2,4% untuk kredit kuartal IV 2025, dibandingkan 5% pada kredit kuartal I 2025. Sementara itu, Loan at Risk (LAR) BBRI turun menjadi 9,2% pada kuartal II 2026, dari 9,7% pada kuartal sebelumnya dan 10,8% pada periode yang sama tahun lalu.
Kredit Korporasi dan Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Di tengah perbaikan kualitas aset tersebut, penyaluran kredit BBRI tumbuh 16% yoy pada kuartal II 2026. Pertumbuhan terutama berasal dari segmen korporasi dan komersial yang masing-masing meningkat 47% dan 58% yoy. Sebaliknya, kredit mikro tumbuh lebih terbatas sebesar 6% yoy. Salah satu penyebabnya adalah penyaluran Kupedes yang masih mengalami kontraksi 21% yoy.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pemulihan kualitas aset mulai memberikan sentimen positif bagi BBRI, meskipun pertumbuhan kredit mikro belum sepenuhnya kembali kuat. Perkembangan tersebut menjadi penting karena segmen mikro merupakan salah satu bisnis utama BBRI dan kualitas kreditnya akan berpengaruh terhadap pencadangan serta profitabilitas bank ke depan.
Indopremier Pertahankan Rekomendasi BUY
Melihat kombinasi pertumbuhan laba dan perbaikan kualitas aset, Indopremier mempertahankan rekomendasi BUY untuk saham BBRI. “Kami mempertahankan rekomendasi Buy untuk BBRI, didukung oleh pemulihan kualitas aset segmen mikro dan valuasi yang menarik,” tulis Indopremier dalam risetnya, dikutip Rabu (2/9/2026).
Indopremier menetapkan target harga BBRI di level Rp4.600 per saham dengan mempertimbangkan kenaikan risk-free rate. Dengan harga penutupan terbaru di Rp3.390 per saham, target tersebut masih menunjukkan ruang kenaikan yang cukup besar.
Penguatan BBRI di tengah IHSG yang melemah menunjukkan bahwa saham bank jumbo tersebut masih mendapatkan perhatian investor, khususnya asing. Arus net buy asing, ditambah pertumbuhan laba dan membaiknya kualitas aset mikro, menjadi katalis positif bagi BBRI. Meski demikian, investor tetap perlu mencermati arah suku bunga dan risk-free rate, karena kenaikan imbal hasil dapat memengaruhi valuasi saham perbankan secara keseluruhan.

