[Medan | 22 April 2026] Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk kembali menahan suku bunga acuan ke level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 21-22 April 2026. Selain itu, BI juga memutuskan untuk menahan suku bunga deposit facility di level 3,75% dan lending facility di level 5,50%.
Inflasi Melandai, Tapi Belum Longgar
Dari sisi domestik, inflasi menunjukkan tren penurunan dari 4,76% (yoy) pada Februari menjadi 3,48% (yoy) pada Maret 2026. Meski telah kembali ke dalam target BI, posisinya masih berada di batas atas sehingga ruang pelonggaran moneter dinilai belum memadai. Penurunan ini juga tercermin pada inflasi inti yang turun ke 2,52% (yoy), menandakan tekanan permintaan relatif terkendali, sementara inflasi bulanan melambat menjadi 0,41% didorong oleh normalisasi harga di beberapa komponen, meski tekanan pangan masih terlihat akibat faktor musiman.
Tekanan Eksternal Masih Tinggi
Di sisi eksternal, tekanan terhadap stabilitas rupiah masih berlanjut. Nilai tukar tercatat bertahan di atas Rp17.000 per dolar AS, seiring meningkatnya ketidakpastian global dan tingginya permintaan aset safe haven. Arus keluar modal mencapai US$1,47 miliar, sementara cadangan devisa turun menjadi US$148,2 miliar, meskipun masih berada pada level yang aman. Kenaikan harga minyak dunia juga memperbesar risiko inflasi impor.
Pandangan Ekonom: BI Masih Wait and See
Sejumlah ekonom menilai langkah BI sudah tepat. Myrdal Gunarto dari Maybank Indonesia menyebut belum ada urgensi bagi BI untuk mengubah arah kebijakan, terutama selama inflasi masih dapat dijaga di bawah 3,5% dan tidak ada penyesuaian harga energi bersubsidi. Sementara itu, David Sumual dari BCA menilai tekanan eksternal seperti kenaikan harga minyak dan inflasi menjadi alasan utama BI tetap berhati-hati. LPEM FEB UI juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas eksternal di tengah meningkatnya risiko global.
Fundamental Domestik Masih Solid
Dari sisi fundamental, ekonomi domestik masih menunjukkan ketahanan. Surplus neraca perdagangan Februari 2026 tercatat sebesar US$1,27 miliar, meskipun mengalami penurunan secara tahunan akibat perlambatan ekspor. Di sisi lain, peningkatan impor barang modal dan bahan baku mencerminkan aktivitas industri yang tetap kuat, sejalan dengan PMI manufaktur yang berada di level ekspansif 53,8.
Dilema Kebijakan BI
Dalam kondisi saat ini, BI menghadapi dilema antara menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan. Pelonggaran suku bunga terlalu cepat berisiko memperlemah rupiah dan mendorong capital outflow, sementara kebijakan yang terlalu ketat dapat menahan laju pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, pendekatan wait and see menjadi strategi yang paling rasional.
Outlook Rupiah dan Risiko ke Depan
Ke depan, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp17.100–Rp17.250 per dolar AS dengan kecenderungan melemah. Tekanan utama berasal dari penguatan dolar AS, suku bunga tinggi di Amerika Serikat, serta harga minyak yang bertahan tinggi. Dari domestik, risiko fiskal, potensi perubahan outlook rating, serta tekanan inflasi energi juga menjadi perhatian pasar. Memasuki kuartal II-2026, risiko stagflasi mulai meningkat, di mana tekanan inflasi dari harga energi berpotensi terjadi di tengah pertumbuhan ekonomi yang belum sepenuhnya kuat. Kondisi ini membuat ruang kebijakan moneter semakin terbatas dan menjaga volatilitas pasar tetap tinggi.

