[Medan | 5 Juni 2026] Bank Indonesia (BI) meningkatkan intensitas intervensi di pasar valuta asing setelah rupiah kembali mencetak rekor terendah baru dan menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Langkah tersebut dilakukan di tengah meningkatnya tekanan eksternal global dan tingginya kebutuhan valuta asing domestik.
Rupiah Cetak Rekor Terendah Baru
Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 11.53 WIB pada Kamis (4/6/2026), rupiah di pasar spot berada di level Rp18.044 per dolar AS atau melemah sekitar 0,43% dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pelemahan ini memperpanjang tren depresiasi rupiah dalam beberapa pekan terakhir dan memperlihatkan semakin kuatnya tekanan terhadap mata uang emerging markets di tengah kombinasi sentimen global dan domestik yang kurang kondusif. Level Rp18.000 per dolar AS sendiri menjadi titik psikologis penting bagi pasar karena mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap stabilitas eksternal Indonesia.
BI Tingkatkan Intervensi di Berbagai Instrumen
Wakil Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan bank sentral akan meningkatkan intervensi dengan intensitas yang lebih tinggi dan dilakukan secara konsisten di berbagai segmen pasar valuta asing.
Menurut Destry, intervensi dilakukan melalui pasar offshore, domestic non-deliverable forward (DNDF), serta pasar spot guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan meredam volatilitas yang berlebihan. Langkah ini menunjukkan BI mulai memperkuat respons stabilisasi setelah tekanan terhadap rupiah semakin meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Konflik Timur Tengah dan Permintaan Dolar Domestik Jadi Pemicu
Bank Indonesia menilai tekanan terhadap rupiah dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak dan memperkuat permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS. Sementara dari sisi domestik, tingginya kebutuhan pembayaran dividen perusahaan serta kewajiban utang luar negeri turut meningkatkan permintaan dolar di pasar domestik.
Kondisi tersebut terjadi di tengah meningkatnya arus keluar modal asing dari pasar emerging markets akibat ekspektasi suku bunga tinggi AS yang bertahan lebih lama atau higher for longer.
Tekanan terhadap Rupiah Persempit Ruang Kebijakan BI
Pelemahan rupiah hingga menembus level Rp18.000 diperkirakan akan semakin mempersempit ruang kebijakan moneter Bank Indonesia ke depan. Di satu sisi, BI perlu menjaga stabilitas nilai tukar dan kepercayaan investor asing terhadap aset domestik. Namun di sisi lain, pengetatan kebijakan yang terlalu agresif berisiko memperbesar tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi domestik yang mulai melambat.
Pasar saat ini juga mencermati apakah BI akan mengambil langkah lanjutan melalui kenaikan suku bunga acuan atau memperkuat instrumen stabilisasi likuiditas pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) mendatang.
Pasar Masih Dibayangi Sentimen Risk-Off
Tekanan terhadap rupiah terjadi bersamaan dengan pelemahan pasar saham dan meningkatnya aksi jual investor asing di pasar domestik. Sentimen risk-off global masih mendominasi pergerakan pasar seiring ketidakpastian geopolitik, kenaikan harga energi, dan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global.
Selain faktor eksternal, pasar juga masih mencermati berbagai isu domestik seperti penyempitan surplus perdagangan, ketidakpastian kebijakan ekspor melalui DSI, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap kredibilitas kebijakan fiskal dan kelembagaan.
Dalam jangka pendek, stabilisasi rupiah diperkirakan masih sangat bergantung pada efektivitas intervensi BI, arah kebijakan The Fed, perkembangan konflik Timur Tengah, serta kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi nasional.

