[Medan | 5 Juni 2026] Harga minyak dunia bergerak stabil setelah sebelumnya mencatat penurunan harian pertama dalam pekan ini, di tengah meningkatnya optimisme pasar terhadap peluang tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran yang dapat membuka kembali jalur pengiriman energi melalui Selat Hormuz.
Harga Minyak Tertahan di Tengah Harapan Diplomasi
Kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di bawah level US$93 per barel setelah anjlok lebih dari 3% pada perdagangan Kamis. Sementara itu, Brent ditutup di kisaran US$95 per barel.
Pergerakan tersebut mencerminkan perubahan sentimen pasar yang mulai kembali optimistis terhadap prospek stabilisasi pasokan energi global setelah Presiden AS Donald Trump menyebut pembicaraan dengan Iran berjalan cukup baik.
Optimisme tersebut muncul meskipun kelompok Hezbollah yang didukung Iran menolak kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon yang dimediasi Amerika Serikat.
Selat Hormuz Tetap Jadi Fokus Utama Pasar
Pasar minyak global saat ini masih sangat sensitif terhadap perkembangan di Selat Hormuz, jalur strategis yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia pada kondisi normal.
WTI sendiri masih mencatat kenaikan lebih dari 6% sepanjang pekan ini karena ketidakpastian negosiasi sebelumnya sempat memicu kekhawatiran bahwa distribusi energi global kembali terganggu.
Namun secara year-to-date sejak awal April, harga kontrak berjangka minyak masih terkoreksi sekitar 20% setelah AS dan Iran sempat menyepakati gencatan senjata yang mengakhiri lebih dari lima pekan konflik terbuka.
Pasar menilai meredanya risiko perang skala penuh menjadi faktor utama yang mendorong normalisasi harga minyak dalam beberapa bulan terakhir.
Pasar Menunggu Pemulihan Volume Pengiriman
Analis Raymond James, Pavel Molchanov, mengatakan penurunan harga minyak dari level di atas US$110 per barel sebelum gencatan senjata menuju kisaran US$90 saat ini mencerminkan meredanya kekhawatiran pasar terhadap risiko kerusakan infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah.
“Pergerakan WTI dari level di atas US$110 sebelum gencatan senjata ke kisaran US$90-an saat ini merupakan refleksi dari kelegaan pasar bahwa perang skala penuh telah berakhir dan infrastruktur minyak sebagian besar tidak mengalami kerusakan signifikan,” ujar Molchanov.
Meski demikian, menurutnya, potensi penurunan harga lebih lanjut masih akan sangat bergantung pada pemulihan signifikan volume pengiriman energi melalui Selat Hormuz.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun premi risiko geopolitik mulai berkurang, pasar masih belum sepenuhnya yakin pasokan energi global dapat kembali normal dalam waktu dekat.
Konflik Lebanon Masih Jadi Hambatan Diplomasi
Di sisi lain, proses negosiasi antara Washington dan Teheran masih menghadapi berbagai hambatan politik dan militer. Serangan militer Israel yang terus berlangsung di Lebanon dinilai menjadi salah satu faktor utama yang memperlambat kemajuan diplomasi.
Ketika ditanya mengenai penolakan Hezbollah terhadap proposal gencatan senjata Lebanon, Trump mengatakan kelompok tersebut tetap membuka jalur komunikasi dengan AS.
“Mereka tidak menolak saya. Mereka menghubungi kami untuk membahas penghentian permusuhan,” kata Trump kepada wartawan di Oval Office.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa komunikasi diplomatik masih terus berlangsung meskipun situasi keamanan di kawasan belum sepenuhnya stabil.
Dampak terhadap Inflasi dan Pasar Global
Stabilnya harga minyak di level tinggi tetap menjadi perhatian pasar global karena berpotensi mempertahankan tekanan inflasi, terutama bagi negara-negara importir energi.
Harga minyak yang bertahan di atas US$90 per barel dapat memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama di Amerika Serikat dan memperbesar tekanan terhadap emerging markets melalui jalur penguatan dolar AS serta kenaikan yield obligasi global.
Bagi Indonesia, pergerakan harga minyak menjadi faktor penting karena dapat memengaruhi inflasi domestik, subsidi energi, defisit transaksi berjalan, hingga tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Dalam jangka pendek, pasar diperkirakan masih akan bergerak sangat sensitif terhadap perkembangan negosiasi AS-Iran, kondisi keamanan di Timur Tengah, serta pemulihan arus pengiriman energi melalui Selat Hormuz.

