[Medan | 5 Juni 2026] Pemerintah Amerika Serikat kembali meningkatkan tekanan terhadap Kuba dengan menjatuhkan sanksi baru kepada Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel, sejumlah anggota keluarganya, serta beberapa figur yang terkait dengan keluarga Castro. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintahan Presiden Donald Trump untuk memperketat isolasi ekonomi dan politik terhadap pemerintahan komunis di Havana.
Díaz-Canel dan Keluarga Castro Jadi Target Baru
Sanksi terbaru AS menyasar Presiden Miguel Díaz-Canel, istrinya Lis Cuesta Peraza, anak tirinya, serta sejumlah anggota keluarga mantan Presiden Raúl Castro, termasuk putra dan cucunya yang dinilai masih memiliki pengaruh besar dalam struktur kekuasaan Kuba. Pemerintah AS juga memasukkan Kementerian Angkatan Bersenjata Revolusioner Kuba dan beberapa entitas lain ke dalam daftar sanksi.
Langkah ini memperlihatkan bahwa Washington tidak hanya menargetkan institusi negara Kuba, tetapi juga memperluas tekanan langsung terhadap lingkaran elite politik dan militer yang dianggap menopang rezim komunis di negara tersebut.
Trump Perketat Tekanan terhadap Havana
Kebijakan terbaru ini muncul di tengah pendekatan yang semakin agresif dari Presiden Donald Trump terhadap Kuba dalam beberapa bulan terakhir. Meski embargo perdagangan AS terhadap Kuba telah berlangsung sejak 1962, pemerintahan Trump kini mengambil langkah yang jauh lebih keras dibandingkan periode sebelumnya.
Washington diketahui telah memperluas sanksi terhadap sektor energi, pertahanan, jasa keuangan, hingga perusahaan-perusahaan yang memiliki hubungan bisnis dengan pemerintah Kuba. Pemerintah AS juga memperketat pembatasan transaksi internasional dan akses pembiayaan asing terhadap Havana.
Dalam beberapa pekan terakhir, tekanan tersebut mulai berdampak langsung terhadap perekonomian Kuba. Sejumlah perusahaan asing, maskapai penerbangan, perusahaan pelayaran, hingga operator hotel internasional mulai mengurangi atau menghentikan aktivitas bisnis mereka di Kuba akibat kekhawatiran terkena sanksi sekunder dari AS. (Reuters)
Trump Kaitkan Kuba dengan Konflik Geopolitik Global
Presiden Trump juga kembali mengaitkan Kuba dengan agenda geopolitik yang lebih luas, termasuk konflik Iran dan perubahan rezim di Venezuela.
Dalam pernyataannya kepada wartawan pada Kamis (4/6/2026), Trump menyebut Kuba sebagai salah satu negara yang menjadi fokus berikutnya setelah konflik Iran mereda.
“Kami akan menangani Republik Islam Iran, dan segera setelah itu selesai, dalam perjalanan pulang, kami hanya akan singgah sebentar,” ujar Trump, merujuk pada Kuba.
Meski demikian, Trump membantah bahwa sanksi terbaru bertujuan menjatuhkan pemerintahan Kuba secara langsung. Ia menyatakan Washington hanya ingin melihat Kuba menjadi negara yang “dikelola dengan baik” dan mampu memperbaiki kondisi ekonomi domestiknya.
Trump juga menggambarkan kondisi ekonomi Kuba saat ini berada dalam tekanan berat akibat kekurangan energi, minyak, dan pembiayaan.
Kuba Tuduh AS Perkuat Blokade
Pemerintah Kuba langsung mengecam langkah terbaru Washington. Dalam unggahan di platform X, Presiden Díaz-Canel menuduh pemerintahan Trump berupaya memperkuat blokade ekonomi dan memperbesar potensi konflik antara kedua negara.
Ia menegaskan rakyat Kuba tidak akan menyerah menghadapi tekanan AS dan berjanji akan terus “melawan gempuran imperialis.”
Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodríguez juga menyebut sanksi terbaru AS sebagai tindakan “keji” dan menegaskan Kuba akan merespons dengan “persatuan dan tekad yang lebih besar.”
Ekonomi Kuba Semakin Tertekan
Tekanan ekonomi terhadap Kuba diperkirakan akan semakin berat setelah AS memperluas pembatasan perdagangan dan sistem pembayaran internasional.
Bank sentral Kuba bahkan mengumumkan penghentian transaksi Visa dan Mastercard mulai Juni 2026 akibat dampak sanksi AS terhadap sistem keuangan negara tersebut. Langkah itu memperbesar tekanan terhadap sektor pariwisata dan perdagangan internasional Kuba yang selama ini sudah terpukul oleh krisis energi dan keterbatasan devisa. (Reuters)
Selain itu, berbagai perusahaan asing mulai menarik diri dari Kuba setelah pemerintahan Trump memberlakukan ancaman sanksi terhadap entitas internasional yang masih berbisnis dengan perusahaan militer Kuba seperti GAESA, konglomerasi yang menguasai sebagian besar sektor ekonomi strategis negara tersebut.
Risiko Geopolitik Regional Meningkat
Meningkatnya tekanan AS terhadap Kuba memperlihatkan bahwa ketegangan geopolitik global kini tidak hanya terfokus di Timur Tengah, tetapi juga mulai meluas ke kawasan Amerika Latin.
Bagi pasar global, eskalasi tekanan terhadap Kuba dapat memperbesar ketidakpastian geopolitik regional dan meningkatkan sensitivitas investor terhadap aset berisiko, terutama di emerging markets.
Meski dampak langsung terhadap pasar keuangan global relatif terbatas dibanding konflik Timur Tengah, kebijakan agresif AS terhadap Kuba memperlihatkan bahwa pendekatan geopolitik pemerintahan Trump masih akan menjadi salah satu sumber utama volatilitas pasar internasional pada semester II 2026.

