[Medan | 24 April 2026] Rupiah melemah tajam hingga sempat menyentuh Rp 17.300 per dolar AS pada perdagangan Kamis (23/4), sebelum ditutup di sekitar Rp 17.286. Ini menjadi level terlemah sepanjang sejarah, dengan pelemahan harian sekitar 0,6%–0,7% dan penurunan hampir 2% sepanjang April 2026.
Tekanan Utama dari Harga Minyak dan Dolar AS
Pelemahan rupiah terjadi di tengah lonjakan harga minyak global serta penguatan dolar AS akibat ketidakpastian geopolitik, khususnya konflik Iran–AS. Kondisi ini mendorong arus keluar modal dari emerging market, termasuk Indonesia, sehingga menekan kurs lebih dalam dibanding mata uang Asia lainnya.
BI Perkuat Intervensi di Tengah Volatilitas Tinggi
Bank Indonesia menyatakan telah meningkatkan intensitas intervensi di pasar valas, baik melalui spot, DNDF, hingga pembelian SBN di pasar sekunder untuk menahan volatilitas. Namun tekanan eksternal yang kuat membuat stabilisasi nilai tukar menjadi lebih menantang.
Risiko ke APBN 2026 Makin Nyata
Pelemahan rupiah yang menjauh dari asumsi APBN 2026 di level Rp 16.500 per dolar AS mulai menimbulkan tekanan fiskal. Dengan sensitivitas anggaran yang cukup tinggi, setiap pelemahan nilai tukar berpotensi memperlebar defisit melalui kenaikan biaya impor dan subsidi energi.
Kesimpulan: Tekanan Bukan Hanya Kurs, Tapi Spillover ke Fiskal & Market
Pelemahan rupiah saat ini tidak berdiri sendiri, tetapi sudah mulai terhubung ke risiko fiskal APBN, stabilitas inflasi, dan aliran modal asing. Selama harga minyak dan ketidakpastian global belum mereda, tekanan terhadap rupiah dan pasar obligasi diperkirakan masih akan berlanjut.

