[Medan | 10 Juni 2026] Harga minyak dunia kembali naik setelah Amerika Serikat melancarkan serangan baru terhadap Iran sebagai respons atas jatuhnya helikopter Apache milik militer AS di dekat Selat Hormuz. Presiden Donald Trump menuding Iran bertanggung jawab atas insiden tersebut dan menegaskan bahwa Washington akan memberikan respons yang “sangat kuat”.
Pasca serangan tersebut, harga minyak Brent naik 0,9% ke US$92,29 per barel, sementara WTI menguat 0,8% menjadi US$88,97 per barel. Kenaikan ini terjadi setelah sehari sebelumnya pasar sempat berharap konflik mulai mereda menyusul kesepakatan Iran dan Israel untuk menahan diri dari serangan langsung.
Kenapa Pasar Kembali Khawatir?
Serangan terbaru AS memperlihatkan bahwa konflik Timur Tengah masih jauh dari selesai.
Meski Iran dan Israel sempat meredakan ketegangan, hubungan AS-Iran justru kembali memanas setelah insiden helikopter Apache. Kondisi ini meningkatkan risiko terganggunya pasokan energi global, terutama karena Selat Hormuz masih menjadi titik krusial dalam konflik.
Saat ini sekitar 20% perdagangan minyak dunia dan LNG global melewati Selat Hormuz. Gangguan sekecil apa pun terhadap jalur tersebut langsung memicu kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi.
Selain itu, Iran masih membatasi sebagian lalu lintas kapal di kawasan tersebut, sementara AS tetap mempertahankan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran.
Penurunan Stok Minyak AS Tambah Sentimen Bullish
Selain faktor geopolitik, kenaikan harga minyak juga didukung oleh data persediaan energi Amerika Serikat.
Data American Petroleum Institute (API) menunjukkan stok minyak mentah AS turun sekitar 9,1 juta barel dalam sepekan terakhir, jauh lebih besar dari perkiraan pasar.
Persediaan bensin juga turun sekitar 1,2 juta barel.
Penurunan stok selama delapan minggu berturut-turut mengindikasikan pasokan energi global masih cukup ketat di tengah meningkatnya risiko gangguan distribusi akibat konflik Timur Tengah.
Dampak ke Inflasi Global
Kenaikan harga minyak menjadi perhatian utama bank sentral dunia karena berpotensi menghidupkan kembali tekanan inflasi.
Kondisi ini menjadi semakin sensitif mengingat:
- Malam ini pasar menunggu data CPI Amerika Serikat.
- Pekan depan The Fed akan menggelar rapat FOMC.
- BOJ diperkirakan menaikkan suku bunga 25 bps.
- ECB juga mulai bergerak lebih hawkish akibat tekanan inflasi energi.
Jika harga minyak terus bertahan di atas US$90 per barel, maka risiko inflasi global kembali meningkat dan dapat membuat bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Dampak ke Indonesia
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak membawa konsekuensi yang cukup kompleks.
Di satu sisi, sektor energi dan komoditas dapat memperoleh manfaat dari harga minyak yang lebih tinggi.
Namun di sisi lain:
- Tekanan inflasi domestik berpotensi meningkat.
- Biaya impor energi naik.
- Defisit transaksi berjalan berisiko melebar.
- Tekanan terhadap Rupiah dapat bertambah.
Risiko tersebut semakin relevan setelah Pertamina resmi menaikkan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter mulai 10 Juni 2026 sebagai respons terhadap lonjakan harga minyak global.

