[Medan | 11 Juni 2026] Iran kembali menutup Selat Hormuz setelah Amerika Serikat melancarkan serangan militer ke sejumlah target di wilayah Iran selama dua hari berturut-turut. Penutupan ini menjadi perkembangan paling signifikan bagi pasar energi global karena Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang mengalirkan sekitar 20% perdagangan minyak dunia serta sebagian besar ekspor LNG dari kawasan Teluk.
Menurut laporan media Iran, Komando Gabungan Tertinggi Militer Iran telah memerintahkan penutupan total Selat Hormuz bagi seluruh kapal tanker maupun kapal komersial. Iran juga memperingatkan bahwa setiap kapal yang mencoba melintas berpotensi menjadi target serangan.
Langkah tersebut diambil setelah militer AS kembali menyerang target Iran pada Rabu waktu setempat. Pemerintah AS menyebut operasi tersebut sebagai tindakan pertahanan diri, sementara Presiden Donald Trump menuduh Iran memperlambat proses negosiasi perdamaian yang sedang berlangsung.
Mengapa Penutupan Selat Hormuz Sangat Penting?
Selat Hormuz merupakan salah satu choke point energi terpenting di dunia. Sebagian besar ekspor minyak dari Arab Saudi, Irak, Kuwait, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, hingga Iran sendiri harus melewati jalur ini sebelum mencapai pasar Asia, Eropa, maupun Amerika.
Jika penutupan berlangsung lebih lama:
- Pasokan minyak global akan semakin terganggu.
- Biaya pengiriman dan premi asuransi kapal melonjak.
- Harga minyak berpotensi kembali menembus US$100 per barel.
- Risiko gangguan pasokan LNG ke Asia meningkat.
- Tekanan inflasi global dapat kembali naik.
Pasar sebelumnya sempat berharap ketegangan mereda setelah Iran dan Israel menahan diri untuk tidak saling menyerang. Namun serangan terbaru AS membuat risiko geopolitik kembali meningkat secara signifikan.
Dampak Terhadap Indonesia
Bagi Indonesia, penutupan Selat Hormuz menjadi sentimen negatif karena:
- Indonesia masih mengimpor sebagian kebutuhan minyak mentah dan BBM.
- Kenaikan harga minyak berpotensi memperbesar tekanan terhadap neraca perdagangan migas.
- Kebutuhan devisa untuk impor energi meningkat.
- Rupiah berisiko kembali tertekan setelah sempat stabil pasca kenaikan suku bunga BI menjadi 5,50%.
- Risiko inflasi energi meningkat, terutama setelah Pertamina mulai menaikkan harga BBM non-subsidi.
Kondisi ini juga dapat memperbesar tekanan terhadap cadangan devisa yang saat ini telah turun menjadi US$144,9 miliar.

