[Medan | 1 Oktober 2026] Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (1/10/2026) akan banyak dipengaruhi oleh rilis data inflasi September dan neraca perdagangan Agustus 2026. Kedua data tersebut menjadi perhatian pasar di tengah tekanan terhadap rupiah, tingginya yield US Treasury, serta arus keluar dana asing yang masih membebani IHSG.
Inflasi September Diperkirakan Naik
Inflasi Indonesia pada September 2026 diproyeksikan meningkat menjadi 3,30% secara tahunan atau year on year (YoY), dari 3,19% pada Agustus. Secara bulanan, inflasi diperkirakan mencapai 0,33% month to month (MtM), lebih tinggi dari 0,21% pada bulan sebelumnya. Proyeksi tersebut merupakan median survei Reuters terhadap 20 ekonom.
Kenaikan inflasi diperkirakan terutama berasal dari tekanan harga pangan dan energi. Dalam materi yang disampaikan ekonom, kenaikan harga beras, cabai, daging dan telur ayam menjadi salah satu faktor pendorong, sementara kenaikan harga minyak dunia turut memberikan tekanan melalui kelompok harga yang diatur pemerintah atau administered prices.
Di sisi lain, inflasi inti diperkirakan relatif stabil. Median proyeksi Reuters menempatkan inflasi inti September di 2,91%, dibandingkan 2,92% pada Agustus. Dengan begitu, perhatian pasar bukan hanya tertuju pada angka inflasi umum, tetapi juga apakah kenaikan tersebut berasal dari komponen pangan dan energi atau mulai meluas ke inflasi inti.
Neraca Dagang Diperkirakan Tetap Surplus
Data neraca perdagangan Agustus 2026 juga akan dirilis hari ini. Konsensus Reuters memperkirakan Indonesia kembali mencatat surplus sekitar US$630 juta, setelah pada Juli mencatat surplus sekitar US$130 juta. Dari sisi ekspor, pertumbuhan diperkirakan melambat menjadi 4,30% YoY pada Agustus dari 6,05% pada Juli. Sebaliknya, pertumbuhan impor diproyeksikan meningkat menjadi 31,14% YoY dari 27,02%.
Perbedaan arah tersebut menjadi perhatian karena kenaikan impor yang lebih cepat dapat mempersempit surplus perdagangan. Namun, ekspor masih berpotensi ditopang oleh harga komoditas, terutama di tengah tingginya harga energi global. Data resmi BPS menunjukkan neraca perdagangan Juli 2026 masih mencatat surplus US$121,9 juta.
IHSG Masih Berada dalam Tekanan
Sementara itu, IHSG mengawali Oktober dari posisi yang masih tertekan. Pada perdagangan Rabu (30/9/2026), IHSG turun 0,83% menjadi 6.071,14. Tekanan tersebut terjadi di tengah berlanjutnya aksi jual investor asing. Selain arus modal asing, pasar masih mencermati tekanan dari rupiah dan tingginya yield US Treasury. Di sisi lain, koreksi harga minyak ke bawah US$96 per barel memberikan sedikit ruang bagi sentimen pasar.
Secara teknikal, IHSG masih berada dalam fase tekanan. Area 6.000–6.200 menjadi rentang yang perlu diperhatikan pada perdagangan Kamis, sementara level 6.019 menjadi salah satu support penting. Analis juga mencermati level 6.185–6.240 sebagai area yang perlu ditembus untuk membuka ruang rebound teknikal lebih lanjut.
Data Hari Ini Jadi Penentu Sentimen Jangka Pendek
Dengan posisi IHSG yang masih berada di bawah tekanan, data inflasi dan neraca perdagangan hari ini menjadi katalis penting bagi pergerakan pasar. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat menjadi perhatian terhadap daya beli dan ruang kebijakan moneter, sementara data perdagangan akan memberikan gambaran mengenai kekuatan ekspor, impor, dan kondisi eksternal Indonesia.
Pasar juga akan melihat komposisi di balik kedua data tersebut. Bukan hanya besarannya, tetapi apakah kenaikan inflasi terutama berasal dari pangan dan energi serta apakah surplus perdagangan mampu bertahan ketika pertumbuhan impor meningkat lebih cepat dibandingkan ekspor.

