IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

Siap-siap! Ada Rilis Data Inflasi dan Neraca Dagang RI Hari Ini

By Aurelia 3 hours ago Ekonomi
Image source: AP/ idtesis.com
SHARE

[Medan | 1 Oktober 2026] Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (1/10/2026) akan banyak dipengaruhi oleh rilis data inflasi September dan neraca perdagangan Agustus 2026. Kedua data tersebut menjadi perhatian pasar di tengah tekanan terhadap rupiah, tingginya yield US Treasury, serta arus keluar dana asing yang masih membebani IHSG.

Inflasi September Diperkirakan Naik

Inflasi Indonesia pada September 2026 diproyeksikan meningkat menjadi 3,30% secara tahunan atau year on year (YoY), dari 3,19% pada Agustus. Secara bulanan, inflasi diperkirakan mencapai 0,33% month to month (MtM), lebih tinggi dari 0,21% pada bulan sebelumnya. Proyeksi tersebut merupakan median survei Reuters terhadap 20 ekonom.

Kenaikan inflasi diperkirakan terutama berasal dari tekanan harga pangan dan energi. Dalam materi yang disampaikan ekonom, kenaikan harga beras, cabai, daging dan telur ayam menjadi salah satu faktor pendorong, sementara kenaikan harga minyak dunia turut memberikan tekanan melalui kelompok harga yang diatur pemerintah atau administered prices.

Di sisi lain, inflasi inti diperkirakan relatif stabil. Median proyeksi Reuters menempatkan inflasi inti September di 2,91%, dibandingkan 2,92% pada Agustus. Dengan begitu, perhatian pasar bukan hanya tertuju pada angka inflasi umum, tetapi juga apakah kenaikan tersebut berasal dari komponen pangan dan energi atau mulai meluas ke inflasi inti.

Neraca Dagang Diperkirakan Tetap Surplus

Data neraca perdagangan Agustus 2026 juga akan dirilis hari ini. Konsensus Reuters memperkirakan Indonesia kembali mencatat surplus sekitar US$630 juta, setelah pada Juli mencatat surplus sekitar US$130 juta. Dari sisi ekspor, pertumbuhan diperkirakan melambat menjadi 4,30% YoY pada Agustus dari 6,05% pada Juli. Sebaliknya, pertumbuhan impor diproyeksikan meningkat menjadi 31,14% YoY dari 27,02%.

Perbedaan arah tersebut menjadi perhatian karena kenaikan impor yang lebih cepat dapat mempersempit surplus perdagangan. Namun, ekspor masih berpotensi ditopang oleh harga komoditas, terutama di tengah tingginya harga energi global. Data resmi BPS menunjukkan neraca perdagangan Juli 2026 masih mencatat surplus US$121,9 juta.

IHSG Masih Berada dalam Tekanan

Sementara itu, IHSG mengawali Oktober dari posisi yang masih tertekan. Pada perdagangan Rabu (30/9/2026), IHSG turun 0,83% menjadi 6.071,14. Tekanan tersebut terjadi di tengah berlanjutnya aksi jual investor asing. Selain arus modal asing, pasar masih mencermati tekanan dari rupiah dan tingginya yield US Treasury. Di sisi lain, koreksi harga minyak ke bawah US$96 per barel memberikan sedikit ruang bagi sentimen pasar.

Secara teknikal, IHSG masih berada dalam fase tekanan. Area 6.000–6.200 menjadi rentang yang perlu diperhatikan pada perdagangan Kamis, sementara level 6.019 menjadi salah satu support penting. Analis juga mencermati level 6.185–6.240 sebagai area yang perlu ditembus untuk membuka ruang rebound teknikal lebih lanjut.

Data Hari Ini Jadi Penentu Sentimen Jangka Pendek

Dengan posisi IHSG yang masih berada di bawah tekanan, data inflasi dan neraca perdagangan hari ini menjadi katalis penting bagi pergerakan pasar. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat menjadi perhatian terhadap daya beli dan ruang kebijakan moneter, sementara data perdagangan akan memberikan gambaran mengenai kekuatan ekspor, impor, dan kondisi eksternal Indonesia.

Pasar juga akan melihat komposisi di balik kedua data tersebut. Bukan hanya besarannya, tetapi apakah kenaikan inflasi terutama berasal dari pangan dan energi serta apakah surplus perdagangan mampu bertahan ketika pertumbuhan impor meningkat lebih cepat dibandingkan ekspor.

 

You Might Also Like

Xi Jinping Sebut Ekonomi China Kuat, Optimis Capai Target 2026

Imbal Hasil Obligasi AS 10 Tahun Tembus 5.30%, Pertama Kalinya dalam 24 Tahun

Inflasi PCE AS di Bawah Perkiraan, Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Mereda

Lelang Surat Utang Sepi, Permintaan Turun Hampir 30%

HSBC Proyeksi Rupiah Akan Ada di Kisaran Rp 18.000 Hingga Akhir 2026

TAGGED: Inflasi, neraca dagang
Aurelia October 1, 2026 October 1, 2026
Previous Article Short Selling Mulai Berlaku Besok, Apa yang Perlu Diketahui?
Next Article Inflasi PCE AS di Bawah Perkiraan, Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Mereda
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Mentari Greenwich B7-8, Jl. Letda Sujono No.64, Bandar Selamat, Kec. Medan Tembung, Kota Medan, Sumatera Utara 20223
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?