IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

S&P Jadi Good News, Tapi Waspada Harga Minyak Naik dan Rilis Data Inflasi AS

By Aurelia 2 hours ago Ekonomi
Image source: AP/ bloombergtechnoz.com
SHARE

[Medan | 14 Juli 2026] Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan Selasa (14/7/2026) setelah memperoleh sentimen positif dari keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil. Meski demikian, optimisme tersebut berpotensi dibatasi oleh kembali melonjaknya harga minyak dunia akibat eskalasi konflik Amerika Serikat (AS)-Iran, serta kehati-hatian investor menjelang rilis data inflasi AS dan kesaksian Ketua Federal Reserve Kevin Warsh.

Contents
S&P Pertahankan Rating Indonesia, Jadi Sentimen Positif IHSGHarga Minyak Kembali MelonjakPasar Menanti Data Inflasi AS dan Kesaksian Kevin WarshRupiah Masih Tertekan, Obligasi Mulai DiburuProspek Pasar

Pada perdagangan Senin (13/7/2026), IHSG ditutup menguat 1,92% ke level 6.037,84. Penguatan bahkan terjadi secara signifikan menjelang penutupan perdagangan setelah S&P mengumumkan keputusan mempertahankan sovereign rating Indonesia. Di sisi lain, rupiah justru kembali tertekan dan ditutup melemah 0,30% ke level Rp18.100 per dolar AS, mencerminkan masih tingginya tekanan eksternal terhadap pasar domestik.

S&P Pertahankan Rating Indonesia, Jadi Sentimen Positif IHSG

Keputusan S&P mempertahankan peringkat kredit Indonesia menjadi katalis positif bagi pasar keuangan domestik. Dalam laporannya, S&P menilai pelemahan sejumlah indikator ekonomi Indonesia masih bersifat sementara dan fundamental ekonomi tetap cukup kuat untuk menopang pertumbuhan dalam beberapa tahun ke depan.

Lembaga pemeringkat tersebut memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,1% pada 2026 dan rata-rata 4,9% hingga 2029, didukung oleh perbaikan penerimaan negara, disiplin fiskal, program hilirisasi, optimalisasi Danantara, serta independensi Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas moneter.

S&P juga menilai pemerintah masih mampu menjaga defisit fiskal di bawah 3% PDB serta mempertahankan stabilitas kebijakan ekonomi. Sentimen tersebut diperkirakan dapat meningkatkan kembali kepercayaan investor asing terhadap aset-aset Indonesia.

Secara teknikal, Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan penguatan menuju area 6.080–6.120, sedangkan MNC Sekuritas melihat ruang kenaikan hingga kisaran 6.083–6.254 setelah indeks berhasil menembus level psikologis 6.000.

Harga Minyak Kembali Melonjak

Meski demikian, pasar juga dihadapkan pada sentimen negatif dari meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump kembali memberlakukan blokade terhadap pelayaran Iran melalui Selat Hormuz serta mengenakan tarif 20% terhadap seluruh kargo yang melintasi jalur tersebut.

Kebijakan tersebut muncul setelah AS dan Iran kembali saling melancarkan serangan sepanjang akhir pekan. Iran juga kembali menyatakan menutup Selat Hormuz, meskipun AS menegaskan jalur pelayaran internasional tetap dibuka.

Eskalasi tersebut langsung mendorong harga minyak melonjak. Minyak Brent diperdagangkan di kisaran US$84,65 per barel, setelah sehari sebelumnya mencatat kenaikan hampir 10%, sementara WTI kembali menembus kisaran US$78 per barel.

Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak menjadi faktor yang perlu diwaspadai mengingat Indonesia masih merupakan net importir minyak. Harga energi yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi domestik, memperlebar defisit transaksi berjalan, serta memberikan tekanan lanjutan terhadap nilai tukar rupiah.

Pasar Menanti Data Inflasi AS dan Kesaksian Kevin Warsh

Selain perkembangan geopolitik, perhatian investor malam ini akan tertuju pada rilis Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat periode Juni serta kesaksian Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di hadapan House Financial Services Committee. Konsensus pasar memperkirakan inflasi AS melambat menjadi 3,8% secara tahunan, dibandingkan 4,2% pada bulan sebelumnya. Namun pelaku pasar masih menunggu apakah inflasi inti tetap menunjukkan tekanan yang tinggi.

Kesaksian Warsh juga menjadi perhatian utama setelah sejumlah pejabat Federal Reserve mulai membuka peluang kenaikan suku bunga apabila tekanan inflasi kembali meningkat. Jika data inflasi lebih tinggi dari ekspektasi atau Warsh memberikan sinyal kebijakan yang lebih hawkish, maka ekspektasi penurunan suku bunga The Fed berpotensi kembali tertunda. Kondisi tersebut dapat memperkuat dolar AS sekaligus meningkatkan volatilitas di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Rupiah Masih Tertekan, Obligasi Mulai Diburu

Di pasar valuta asing, rupiah kembali melemah ke level Rp18.100 per dolar AS, seiring meningkatnya permintaan dolar AS sebagai aset safe haven di tengah memanasnya konflik Timur Tengah.

Sementara itu, pasar obligasi menunjukkan kondisi yang lebih baik. Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun turun menjadi 7,184% dari 7,221% pada perdagangan sebelumnya. Penurunan yield tersebut mengindikasikan mulai meningkatnya minat investor terhadap obligasi pemerintah Indonesia di tengah sentimen positif dari keputusan S&P.

Prospek Pasar

Secara keseluruhan, afirmasi peringkat kredit Indonesia dari S&P menjadi katalis positif yang berpotensi menopang penguatan lanjutan IHSG dalam jangka pendek. Namun, kenaikan harga minyak dunia, pelemahan rupiah, perkembangan konflik AS-Iran, serta rilis data inflasi AS dan kesaksian Kevin Warsh diperkirakan akan menjadi faktor utama yang menentukan arah pergerakan pasar pada perdagangan hari ini.

Selama sentimen positif dari S&P mampu mengimbangi tekanan eksternal, IHSG masih memiliki peluang melanjutkan rebound. Namun apabila harga minyak terus bergerak naik dan data inflasi AS kembali memicu ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat, volatilitas pasar diperkirakan akan kembali meningkat.

 

You Might Also Like

Kas Tak Memadai, Pos Indonesia Tunda Bayar Imbal Hasil Sukuk Rp 24,12 Miliar

S&P Proyeksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,1% di 2026

DPR Prioritaskan Pembahasan RUU Perampasan Aset

Trump Blokade Iran dan Pasang Tarif Kargo 20% di Selat Hormuz, Harga Minyak Tembus US$80!

Trump Sebut Selat Hormuz Tetap Buka di Tengah Serangan AS-Iran

TAGGED: harga minyak, IHSG hari ini, inflasi AS, Iran-AS, S&P
Aurelia July 14, 2026 July 14, 2026
Previous Article IHSG Tiba-tiba Terbang Hampir 2% Jelang Closing, Ada Apa?
Next Article Trump Blokade Iran dan Pasang Tarif Kargo 20% di Selat Hormuz, Harga Minyak Tembus US$80!
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Komplek CitraLand Gama City, Madison Avenue, Blok R6 No. 90, Deli Serdang, Sumatera Utara, Indonesia
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?