[Medan | 14 Juli 2026] Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan Selasa (14/7/2026) setelah memperoleh sentimen positif dari keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil. Meski demikian, optimisme tersebut berpotensi dibatasi oleh kembali melonjaknya harga minyak dunia akibat eskalasi konflik Amerika Serikat (AS)-Iran, serta kehati-hatian investor menjelang rilis data inflasi AS dan kesaksian Ketua Federal Reserve Kevin Warsh.
Pada perdagangan Senin (13/7/2026), IHSG ditutup menguat 1,92% ke level 6.037,84. Penguatan bahkan terjadi secara signifikan menjelang penutupan perdagangan setelah S&P mengumumkan keputusan mempertahankan sovereign rating Indonesia. Di sisi lain, rupiah justru kembali tertekan dan ditutup melemah 0,30% ke level Rp18.100 per dolar AS, mencerminkan masih tingginya tekanan eksternal terhadap pasar domestik.
S&P Pertahankan Rating Indonesia, Jadi Sentimen Positif IHSG
Keputusan S&P mempertahankan peringkat kredit Indonesia menjadi katalis positif bagi pasar keuangan domestik. Dalam laporannya, S&P menilai pelemahan sejumlah indikator ekonomi Indonesia masih bersifat sementara dan fundamental ekonomi tetap cukup kuat untuk menopang pertumbuhan dalam beberapa tahun ke depan.
Lembaga pemeringkat tersebut memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,1% pada 2026 dan rata-rata 4,9% hingga 2029, didukung oleh perbaikan penerimaan negara, disiplin fiskal, program hilirisasi, optimalisasi Danantara, serta independensi Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas moneter.
S&P juga menilai pemerintah masih mampu menjaga defisit fiskal di bawah 3% PDB serta mempertahankan stabilitas kebijakan ekonomi. Sentimen tersebut diperkirakan dapat meningkatkan kembali kepercayaan investor asing terhadap aset-aset Indonesia.
Secara teknikal, Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan penguatan menuju area 6.080–6.120, sedangkan MNC Sekuritas melihat ruang kenaikan hingga kisaran 6.083–6.254 setelah indeks berhasil menembus level psikologis 6.000.
Harga Minyak Kembali Melonjak
Meski demikian, pasar juga dihadapkan pada sentimen negatif dari meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump kembali memberlakukan blokade terhadap pelayaran Iran melalui Selat Hormuz serta mengenakan tarif 20% terhadap seluruh kargo yang melintasi jalur tersebut.
Kebijakan tersebut muncul setelah AS dan Iran kembali saling melancarkan serangan sepanjang akhir pekan. Iran juga kembali menyatakan menutup Selat Hormuz, meskipun AS menegaskan jalur pelayaran internasional tetap dibuka.
Eskalasi tersebut langsung mendorong harga minyak melonjak. Minyak Brent diperdagangkan di kisaran US$84,65 per barel, setelah sehari sebelumnya mencatat kenaikan hampir 10%, sementara WTI kembali menembus kisaran US$78 per barel.
Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak menjadi faktor yang perlu diwaspadai mengingat Indonesia masih merupakan net importir minyak. Harga energi yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi domestik, memperlebar defisit transaksi berjalan, serta memberikan tekanan lanjutan terhadap nilai tukar rupiah.
Pasar Menanti Data Inflasi AS dan Kesaksian Kevin Warsh
Selain perkembangan geopolitik, perhatian investor malam ini akan tertuju pada rilis Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat periode Juni serta kesaksian Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di hadapan House Financial Services Committee. Konsensus pasar memperkirakan inflasi AS melambat menjadi 3,8% secara tahunan, dibandingkan 4,2% pada bulan sebelumnya. Namun pelaku pasar masih menunggu apakah inflasi inti tetap menunjukkan tekanan yang tinggi.
Kesaksian Warsh juga menjadi perhatian utama setelah sejumlah pejabat Federal Reserve mulai membuka peluang kenaikan suku bunga apabila tekanan inflasi kembali meningkat. Jika data inflasi lebih tinggi dari ekspektasi atau Warsh memberikan sinyal kebijakan yang lebih hawkish, maka ekspektasi penurunan suku bunga The Fed berpotensi kembali tertunda. Kondisi tersebut dapat memperkuat dolar AS sekaligus meningkatkan volatilitas di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Rupiah Masih Tertekan, Obligasi Mulai Diburu
Di pasar valuta asing, rupiah kembali melemah ke level Rp18.100 per dolar AS, seiring meningkatnya permintaan dolar AS sebagai aset safe haven di tengah memanasnya konflik Timur Tengah.
Sementara itu, pasar obligasi menunjukkan kondisi yang lebih baik. Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun turun menjadi 7,184% dari 7,221% pada perdagangan sebelumnya. Penurunan yield tersebut mengindikasikan mulai meningkatnya minat investor terhadap obligasi pemerintah Indonesia di tengah sentimen positif dari keputusan S&P.
Prospek Pasar
Secara keseluruhan, afirmasi peringkat kredit Indonesia dari S&P menjadi katalis positif yang berpotensi menopang penguatan lanjutan IHSG dalam jangka pendek. Namun, kenaikan harga minyak dunia, pelemahan rupiah, perkembangan konflik AS-Iran, serta rilis data inflasi AS dan kesaksian Kevin Warsh diperkirakan akan menjadi faktor utama yang menentukan arah pergerakan pasar pada perdagangan hari ini.
Selama sentimen positif dari S&P mampu mengimbangi tekanan eksternal, IHSG masih memiliki peluang melanjutkan rebound. Namun apabila harga minyak terus bergerak naik dan data inflasi AS kembali memicu ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat, volatilitas pasar diperkirakan akan kembali meningkat.

