[Medan | 28 September 2026] Harga minyak kembali menguat setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari. Penolakan tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa gangguan arus energi melalui jalur strategis tersebut akan berlangsung lebih lama.
Harga minyak Brent kembali menembus US$106 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) bergerak mendekati US$94 per barel. Pada Senin (28/9), Brent untuk kontrak November naik sekitar 1,8% menjadi US$106,06 per barel, sedangkan WTI naik 1,3% menjadi US$93,46 per barel pada pukul 06.02 waktu Singapura.
Trump Tolak Proposal Pembukaan Hormuz
Iran sebelumnya menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari dengan sejumlah persyaratan, termasuk pengurangan tekanan militer AS dan pencabutan blokade terhadap pelabuhan Iran. Proposal tersebut disampaikan melalui mediator dalam rangkaian pertemuan diplomatik di sela-sela Sidang Umum PBB.
Namun, Trump menilai proposal tersebut belum dapat diterima. Dalam wawancara dengan Axios pada Minggu, Trump mengatakan tuntutan Iran merupakan sesuatu yang mungkin disepakati Washington sekitar setahun lalu, tetapi menurutnya Teheran telah mengajukan tuntutan terlalu jauh. Meski demikian, Trump mengatakan perundingan dengan Iran diperkirakan kembali berlangsung pekan ini. Iran sendiri masih mempertahankan proposalnya dan menyatakan menunggu respons definitif dari Washington.
Hormuz Kembali Jadi Fokus Pasar Minyak
Ketidakpastian mengenai pembukaan Selat Hormuz menjadi perhatian utama pasar karena jalur tersebut merupakan salah satu rute energi paling penting di dunia. Sebelum konflik berlangsung, sekitar seperlima perdagangan minyak mentah dan LNG global melewati kawasan tersebut.
Trump mengatakan volume minyak yang keluar melalui selat telah mencapai rekor pada Sabtu malam. Namun, laporan dari media Iran menyebut pasukan Iran menargetkan kapal-kapal yang menggunakan jalur tidak resmi untuk melintasi perairan tersebut, menambah ketidakpastian terhadap kelancaran pelayaran.
Data Kpler juga menunjukkan ekspor minyak dari produsen utama Timur Tengah mulai pulih pada September, mencapai sekitar 12,8 juta barel per hari, tertinggi sejak konflik dimulai. Namun, pemulihan tersebut masih sangat bergantung pada perkembangan arus pengiriman melalui Hormuz.
Harga Minyak Kembali Naik di Tengah Ketegangan Kawasan
Kenaikan minyak juga terjadi ketika ketegangan di Timur Tengah masih tinggi. Koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman melaporkan telah mencegat serangan drone dan rudal Houthi yang mengarah ke wilayah Saudi, termasuk kawasan sekitar fasilitas energi.
Situasi tersebut membuat pasar kembali memperhitungkan risiko gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah. Pada saat yang sama, Brent telah mencatat kenaikan lebih dari 70% sepanjang tahun ini dan berada dalam jalur mencatat kenaikan bulanan selama tiga bulan berturut-turut.
Risiko Solar Global Ikut Jadi Perhatian
Selain minyak mentah, pasar juga memantau harga solar yang telah mencapai level tinggi. Pemerintah AS disebut mempertimbangkan pembatasan ekspor diesel sebagai salah satu opsi untuk mengatasi tingginya harga bahan bakar domestik.
Kebijakan tersebut berpotensi memiliki dampak berbeda terhadap pasar global. Di satu sisi, pembatasan ekspor dapat menambah pasokan diesel di AS. Namun di sisi lain, berkurangnya ekspor dari AS dapat memperketat pasokan di pasar internasional, terutama ketika pasokan dari Timur Tengah masih terganggu.
Minyak Jadi Risiko Inflasi bagi Pasar
Kembali naiknya harga minyak menjadi perhatian bagi pasar keuangan karena dapat memperbesar tekanan inflasi. Jika harga energi bertahan tinggi, bank sentral akan menghadapi ruang yang lebih terbatas untuk melonggarkan kebijakan moneter. Dampaknya tidak hanya dirasakan di pasar komoditas. Kenaikan harga energi dapat mendorong imbal hasil obligasi pemerintah lebih tinggi melalui ekspektasi inflasi, sekaligus meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara importir minyak.
Bagi Indonesia, perkembangan harga minyak perlu diperhatikan melalui dampaknya terhadap inflasi, neraca perdagangan, rupiah, kebutuhan subsidi energi, serta pasar SBN. Apabila Brent bertahan di atas US$100 dalam periode panjang, pasar akan kembali mencermati bagaimana tekanan eksternal tersebut memengaruhi ekspektasi kebijakan Bank Indonesia.
Dengan demikian, arah harga minyak dalam beberapa hari ke depan akan sangat bergantung pada dua perkembangan utama: apakah perundingan AS-Iran kembali menghasilkan kemajuan dan seberapa cepat arus energi melalui Selat Hormuz dapat dipulihkan. Selama kedua faktor tersebut belum memberikan kepastian, volatilitas harga minyak masih berpotensi tetap tinggi.

