[Medan | 28 September 2026] Bank of Japan (BOJ) berpeluang kembali menaikkan suku bunga pada Oktober, hanya satu bulan setelah kenaikan sebelumnya. Mantan direktur eksekutif BOJ Kazuo Momma menilai peluang kenaikan beruntun tersebut berada di kisaran 20%–30%, lebih cepat dibandingkan perkiraan mayoritas ekonom.
Pernyataan tersebut muncul setelah BOJ menaikkan suku bunga acuannya menjadi 1,25% pada September, sekaligus memberikan sinyal bahwa fokus kebijakan mulai bergeser dari mendorong inflasi menuju target 2% menjadi mencegah inflasi bergerak terlalu jauh di atas target.
Inflasi Jepang Mulai Jadi Alasan untuk Bergerak Lebih Cepat
Momma menilai risiko inflasi yang berada di atas target 2% belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Bahkan, menurutnya, risiko tersebut justru dapat meningkat dalam beberapa bulan mendatang. Data BOJ yang dirilis pekan lalu turut memperkuat perhatian terhadap tekanan harga. Indikator tren harga yang tidak memasukkan harga makanan segar dan faktor sementara meningkat menjadi 2,6% pada Agustus, dari 2,3% pada Juli.
Tekanan harga juga datang dari kenaikan biaya energi dan pelemahan yen yang membuat harga barang impor menjadi lebih mahal. Data sebelumnya menunjukkan harga impor berbasis yen masih mengalami kenaikan tinggi, sementara kenaikan biaya energi dari konflik Timur Tengah turut menambah tekanan terhadap inflasi Jepang.
BOJ Masih Punya Ruang untuk Naikkan Suku Bunga
Menurut Momma, suku bunga 1,25% masih tergolong rendah apabila dibandingkan dengan kondisi inflasi Jepang saat ini. Kombinasi antara inflasi yang berada di atas target dan tingkat suku bunga yang masih rendah menjadi alasan bagi BOJ untuk mempertimbangkan normalisasi kebijakan lebih cepat.
Dalam skenario yang disampaikannya, suku bunga BOJ dapat mencapai sekitar 2% pada Juni atau Juli 2027 melalui tiga kali kenaikan tambahan sebesar 25 basis poin. Pandangan tersebut lebih hawkish dibandingkan median proyeksi ekonom dalam survei Bloomberg yang menempatkan tingkat terminal BOJ di sekitar 1,75%.
Oktober Jadi Pertemuan yang Mulai Diperhatikan
Rapat kebijakan BOJ berikutnya dijadwalkan pada 29–30 Oktober 2026. Hingga Jumat lalu, pasar swap memperkirakan peluang kenaikan 25 basis poin pada pertemuan tersebut berada di sekitar 30%. Perkiraan tersebut masih menunjukkan bahwa kenaikan Oktober bukan skenario utama pasar. Namun, probabilitasnya meningkat dibandingkan pola ekspektasi sebelumnya.
Survei Bloomberg sebelum keputusan September menunjukkan 58% ekonom memperkirakan kenaikan berikutnya baru terjadi pada Januari, sementara sekitar 35% memperkirakan Desember. Dengan demikian, perdebatan pasar kini bukan lagi apakah BOJ akan melanjutkan normalisasi, melainkan seberapa cepat langkah tersebut dilakukan.
Yen dan JGB Ikut Jadi Perhatian
Menariknya, yen justru melemah setelah kenaikan suku bunga September. Pasar menilai sinyal BOJ belum cukup hawkish untuk mempersempit kesenjangan suku bunga Jepang dengan Amerika Serikat secara cepat. Dua anggota dewan juga menentang kenaikan tersebut. Bagi BOJ, pelemahan yen menjadi persoalan tambahan karena Jepang sangat bergantung pada impor energi dan pangan. Yen yang lebih lemah dapat meningkatkan biaya impor dan pada akhirnya menambah tekanan terhadap inflasi domestik. Karena itu, jika pelemahan yen kembali berlanjut dan data harga menunjukkan tekanan yang semakin kuat, peluang kenaikan suku bunga pada Oktober dapat kembali menjadi perhatian pasar.
Dampaknya ke Pasar Global
Perubahan kebijakan BOJ tidak hanya berdampak pada Jepang. Kenaikan suku bunga dapat memengaruhi yen carry trade, yaitu strategi investor meminjam dana dalam mata uang berbunga rendah seperti yen untuk kemudian ditempatkan pada aset dengan imbal hasil lebih tinggi di negara lain.
Semakin tinggi suku bunga Jepang, semakin kecil perbedaan imbal hasil dengan negara lain. Kondisi tersebut dapat mendorong investor menyesuaikan posisi carry trade dan berpotensi memengaruhi pasar obligasi, saham, serta mata uang global. Risiko tersebut menjadi lebih relevan karena carry trade berbasis yen telah menjadi sumber pendanaan penting bagi berbagai aset global.
Apa Artinya untuk Indonesia?
Bagi pasar Indonesia, arah kebijakan BOJ perlu diperhatikan bersamaan dengan kebijakan The Fed. Jika Jepang menaikkan suku bunga lebih cepat sementara suku bunga AS tetap tinggi, pergerakan yield global dan arus modal dapat menjadi lebih volatil. Untuk pasar obligasi, kenaikan yield JGB dapat meningkatkan daya tarik aset domestik Jepang dibandingkan aset luar negeri, meskipun dampaknya akan sangat bergantung pada pergerakan yen dan selisih yield antarnegara.
Sementara bagi SBN dan rupiah, investor perlu mencermati apakah perubahan posisi investor Jepang akan memengaruhi arus dana ke emerging markets. Dengan Treasury AS yang juga berada pada level yield tinggi, BOJ, The Fed, yen, Treasury, dan rupiah menjadi rangkaian indikator yang semakin penting untuk diperhatikan menjelang rapat BOJ Oktober.
Dengan demikian, kenaikan suku bunga pada Oktober masih merupakan salah satu kemungkinan, bukan keputusan yang telah ditetapkan. Data inflasi, perkembangan yen, kondisi ekonomi Jepang, serta komunikasi Gubernur BOJ Kazuo Ueda akan menjadi faktor utama yang menentukan apakah bank sentral memilih bergerak lebih cepat dari pola kenaikan setiap tiga bulan.

