Dalam waktu kurang dari satu bulan, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin (bps). Dimulai dari kenaikan 50 bps pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 19-20 Mei 2026, dilanjutkan dengan kenaikan 25 bps melalui RDG Mingguan pada 9 Juni 2026, dan kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 bps pada pertemuan Juni 2026. Langkah tersebut menjadikan BI sebagai salah satu bank sentral yang paling agresif di kawasan Asia dalam merespons tekanan terhadap nilai tukar dan meningkatnya risiko eksternal.
| Tanggal | Perubahan Bps | BI Rate |
| Sebelum Pengetatan | – | 4,75% |
| 20 Mei 2026 | + 50 Bps | 5,25% |
| 9 Juni 2026 | + 25 Bps | 5,50% |
| 18 Juni 2026 | + 25 Bps | 5,75% |
Secara teori, kenaikan suku bunga merupakan salah satu sentimen paling negatif bagi pasar obligasi. Ketika bank sentral menaikkan suku bunga, investor akan meminta imbal hasil (yield) yang lebih tinggi untuk memegang obligasi. Akibatnya harga obligasi turun dan yield naik. Semakin besar kenaikan suku bunga, semakin besar pula tekanan terhadap harga obligasi, terutama pada obligasi tenor menengah-panjang.

Pada 10 Juni 2026, yield obligasi Indonesia 10 tahun sempat naik hingga menyentuh level 7,479%, level tertinggi sejak 2022. Padahal, hanya sekitar satu bulan sebelumnya yield masih berada di kisaran 6,6%. Artinya, pasar mengalami repricing hampir 90 basis poin dalam waktu yang relatif singkat. Jadi, dengan BI yang sudah menaikkan suku bunga sebesar 100 bps dan yield obligasi sudah naik hampir 90 bps, apakah pasar obligasi sudah cukup murah untuk kembali diakumulasi?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka pasar harus terlebih dahulu menilai apakah faktor-faktor yang mendorong kenaikan yield obligasi Indonesia dalam beberapa bulan terakhir masih akan berlanjut?
Jika faktor-faktor yang menyebabkan yield naik masih ada, maka yield berpotensi bergerak lebih tinggi dan harga obligasi masih dapat mengalami penurunan. Namun apabila faktor-faktor tersebut mulai mereda, maka yield berpotensi berbalik turun sehingga membuka peluang kenaikan harga obligasi. Karena itu, pertanyaan utama bagi investor saat ini bukanlah apakah yield sudah tinggi, melainkan apakah risiko yang mendorong kenaikan yield masih akan berlanjut atau justru mulai berkurang.
Apa yang Mendorong Yield Obligasi Indonesia Naik?
Kenaikan yield dalam beberapa waktu terakhir bukan hanya disebabkan oleh kenaikan suku bunga, melainkan pasar obligasi saat itu sedang menghadapi berbagai risiko secara bersamaan. Mulai dari konflik AS-Iran, lonjakan harga minyak dunia, pelemahan Rupiah, hingga ketidakpastian mengenai arah kebijakan fiskal domestik. Kombinasi berbagai faktor tersebut mendorong investor meminta premi risiko yang lebih tinggi untuk memegang aset Indonesia, sehingga yield obligasi naik secara signifikan.
1. Konflik AS-Iran dan Lonjakan Harga Minyak
Salah satu sumber tekanan terbesar berasal dari konflik AS-Iran, yang mengakibatkan harga minyak Brent sempat tembus diatas US$120 per barel. Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak berdampak cukup besar karena Indonesia masih merupakan net importer energi. Harga minyak yang lebih tinggi meningkatkan biaya impor, memperbesar kebutuhan dolar AS, dan meningkatkan risiko inflasi domestik. Kondisi tersebut pada akhirnya memberikan tekanan terhadap Rupiah dan memaksa pasar untuk meningkatkan ekspektasi bahwa Bank Indonesia perlu mengambil langkah pengetatan moneter yang lebih agresif.
2. Pelemahan Rupiah
Hampir seluruh tekanan yang terjadi pada pasar obligasi Indonesia bermuara pada satu faktor utama, yaitu pelemahan Rupiah. Ketika Rupiah melemah, investor asing menghadapi risiko tambahan di luar pergerakan harga obligasi itu sendiri. Akibatnya, investor meminta yield yang lebih tinggi sebagai kompensasi atas risiko nilai tukar. Semakin besar tekanan terhadap Rupiah, semakin besar pula tekanan terhadap pasar obligasi.
3. Ketidakpastian Fiskal Domestik
Selain faktor eksternal, pasar juga sempat mempertanyakan arah kebijakan fiskal pemerintah di tengah berbagai program prioritas yang membutuhkan pembiayaan besar. Pasar tidak hanya memperhatikan besarnya anggaran yang dibutuhkan, tetapi juga bagaimana program-program tersebut akan dibiayai tanpa mengganggu disiplin fiskal yang selama ini menjadi salah satu kekuatan utama Indonesia. Ketidakpastian tersebut meningkatkan premi risiko Indonesia dan turut mendorong kenaikan yield SBN.
Apakah Faktor-Faktor Tersebut Masih Ada Hari Ini?
Jawabannya masih ada, tetapi tidak lagi sekuat beberapa minggu lalu. The Fed masih mempertahankan sikap yang relatif hawkish. Rupiah masih membutuhkan stabilitas yang lebih kuat. Sementara itu, implementasi kebijakan fiskal pemerintah juga masih menjadi perhatian pasar. Namun dibandingkan kondisi pada Mei hingga awal Juni, sejumlah faktor risiko mulai menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan.
1. Harga Minyak Turun Signifikan
Setelah AS dan Iran menandatangani Nota Kesepakatan (MoU) sementara untuk mengakhiri perang, harga minyak brent terpantau turun signifikan menuju kisaran US$ 70-an per barel. Penurunan ini penting bagi Indonesia karena mengurangi tekanan inflasi, memperbaiki prospek transaksi berjalan, dan mengurangi tekanan terhadap Rupiah. Artinya, salah satu faktor eksternal terbesar yang mendorong kenaikan yield dalam beberapa bulan terakhir mulai berkurang secara material.
2. Rupiah Mulai Stabil, Tetapi Tekanan Belum Sepenuhnya Hilang
Pada awal Juni, Rupiah sempat melemah hingga menembus level Rp18.100 per dolar AS. Namun setelah kombinasi kenaikan suku bunga BI, intervensi pasar valas, Rupiah mulai menunjukkan penguatan. Namun, tekanan terhadap Rupiah belum sepenuhnya hilang. The Fed memang tahan suku bunga di pertemuan Juni, tapi proyeksi terbaru masih menunjukkan kemungkinan satu kali kenaikan suku bunga di tahun ini. Kalau The Fed kembali menaikkan suku bunga, maka dolar AS berpotensi tetap berada pada level yang kuat, sehingga memberikan tekanan terhadap mata uang emerging markets, termasuk Rupiah.
3. Perbaikan Tata Kelola MBG dan Kopdes
Faktor lain yang sebelumnya cukup membebani sentimen pasar adalah kekhawatiran mengenai pembiayaan berbagai program prioritas pemerintah, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes). Dalam beberapa pekan terakhir, pemerintah mulai memberikan sinyal yang lebih jelas terkait pelaksanaan kedua program tersebut.
Pemerintah menegaskan bahwa implementasi program akan dilakukan secara bertahap dengan tetap mempertimbangkan ruang fiskal yang tersedia. Di saat yang sama, komitmen untuk menjaga defisit APBN tetap terkendali juga terus disampaikan kepada pasar. Meski investor masih menunggu implementasi yang lebih konkret, arah komunikasi fiskal pemerintah saat ini relatif lebih jelas dibandingkan beberapa bulan lalu.
4. Kenaikan Suku Bunga BOJ Tidak Menimbulkan Gejolak Besar
Pasar sebelumnya mengkhawatirkan bahwa kenaikan suku bunga Jepang akan memicu pembalikan carry trade dan menyebabkan arus modal keluar dari emerging markets. Namun hingga saat ini dampaknya relatif terbatas. Tidak terlihat adanya tekanan sistemik ataupun capital outflow besar-besaran yang dapat mengganggu stabilitas pasar obligasi regional.
Sudah Naik 100 Bps, Apakah BI Masih Perlu Naik Lagi?
Dalam waktu kurang dari satu bulan, BI telah menaikkan suku bunga dengan total 100 bps, menunjukkan komitmen kuat untuk menjaga stabilitas Rupiah dan mengendalikan inflasi. Di sisi lain, dengan harga minyak turun signifikan, tekanan inflasi berpotensi mereda, maka kebutuhan untuk melanjutkan pengetatan moneter secara agresif terlihat semakin terbatas dibandingkan sebelumnya. Meski memang belum dapat disimpulkan bahwa siklus kenaikan suku bunga telah berakhir, pasar mulai melihat bahwa sebagian besar penyesuaian kebijakan yang diperlukan kemungkinan sudah dilakukan.
Jadi, Apakah Obligasi Sudah Murah dan Saatnya Akumulasi?
Dari sisi valuasi, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun yang sempat menyentuh 7,479% jelas menawarkan tingkat imbal hasil yang lebih menarik dibandingkan beberapa bulan lalu. Namun, tingginya yield bukanlah satu-satunya pertimbangan. Yang lebih penting adalah apakah faktor-faktor yang mendorong kenaikan yield tersebut masih akan berlanjut atau sudah mulai mereda.
Untuk saat ini, sebagian risiko memang masih ada. The Fed masih mempertahankan sikap yang cukup hawkish dan masih membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan, sehingga dolar AS yang tetap kuat masih berpotensi menekan Rupiah. Di sisi domestik, pasar juga masih akan mencermati implementasi berbagai program prioritas pemerintah serta dampaknya terhadap kondisi fiskal ke depan.
Meskipun begitu, dibandingkan beberapa bulan lalu, sejumlah faktor yang sebelumnya menjadi sumber tekanan utama mulai menunjukkan perbaikan. Konflik AS-Iran sudah mereda, harga minyak turun signifikan, kekhawatiran terhadap normalisasi kebijakan Bank of Japan tidak berkembang menjadi gejolak besar, dan Bank Indonesia telah merespons tekanan pasar melalui kenaikan suku bunga sebesar total 100 basis poin.
Dengan kata lain, risiko yang dihadapi pasar saat ini belum sepenuhnya hilang, tetapi intensitasnya mulai berkurang. Jadi, strategi akumulasi secara bertahap mulai layak dipertimbangkan, khususnya pada obligasi tenor menengah-panjang. Level yield saat ini sudah menawarkan margin yang jauh lebih baik dibandingkan ketika yield masih berada di kisaran 6,5%-6,6% beberapa bulan lalu. Bagi investor jangka menengah hingga panjang, kondisi saat ini mulai membuka peluang untuk meningkatkan eksposur pada pasar obligasi Indonesia, terutama apabila tren perbaikan sentimen global dan stabilisasi Rupiah terus berlanjut dalam beberapa kuartal mendatang.

