IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

Pekan Ini: Pasar Menanti Inflasi AS dan Paket Stimulus Ekonomi Indonesia

By Aurelia 2 months ago Ekonomi
SHARE

[Medan | 22 Juni 2026] Pasar global pada pekan ini diperkirakan akan bergerak hati-hati menjelang rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) Inflation di Amerika Serikat, yang menjadi salah satu indikator utama inflasi acuan The Fed. Data ini akan menjadi penentu ekspektasi arah suku bunga ke depan, terutama terkait potensi timing pelonggaran kebijakan moneter AS.

Di sisi lain, perhatian investor juga tertuju pada dinamika geopolitik Timur Tengah, khususnya lanjutan negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran di Swiss. Mengutip Bloombergtechnoz, proses negosiasi sempat mengalami gangguan setelah adanya eskalasi retorika politik dan ancaman serangan terkait kelompok Hezbollah, namun pembahasan mengenai program nuklir Iran serta isu strategis Selat Hormuz dilaporkan masih berlanjut.

Agenda Global: WEF Dalian dan Kinerja Sektor Teknologi

Dari sisi event global, pasar juga mencermati pertemuan tahunan World Economic Forum (WEF) di Dalian, China, yang menjadi forum penting dalam membaca arah kebijakan ekonomi global, terutama terkait transformasi industri dan rantai pasok.

Selain itu, rilis laporan keuangan Micron Technology menjadi fokus pelaku pasar, seiring meningkatnya ekspektasi siklus pemulihan sektor semikonduktor dan permintaan chip memori yang terkait erat dengan perkembangan industri kecerdasan buatan (AI).

Asia: China Tahan Suku Bunga, Ruang Pelonggaran Masih Terbuka

Di Asia, perhatian tertuju pada keputusan People’s Bank of China (PBoC) yang diperkirakan akan mempertahankan Loan Prime Rate (LPR) di level saat ini, sejalan dengan pandangan Bloomberg Economics.

Stabilnya suku bunga ini ditopang oleh ketahanan ekonomi China, terutama dari sektor ekspor serta pertumbuhan industri berbasis AI yang masih solid. Namun demikian, tekanan perlambatan ekonomi yang mulai terlihat membuka peluang pelonggaran kebijakan moneter pada paruh akhir kuartal III-2026 apabila momentum ekonomi terus melemah.

ASEAN: Kebijakan Moneter Cenderung Stabil, Tekanan Inflasi Terjaga

Di kawasan Asia Tenggara, Bank of Thailand diperkirakan kembali mempertahankan suku bunga acuan di level 1%, mencerminkan pendekatan hati-hati dalam menghadapi tantangan struktural seperti penuaan populasi tenaga kerja serta tingginya beban utang rumah tangga.

Sementara itu, Singapura diproyeksikan mencatat kenaikan inflasi tahunan dari 1,8% (April) menjadi 1,9% (Mei), terutama dipicu oleh kenaikan biaya energi. Namun, penguatan dolar Singapura diperkirakan masih menjadi faktor penahan tekanan inflasi lebih lanjut.

Jepang: Inflasi Menguat, Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Naik

Di Jepang, tekanan inflasi kembali menunjukkan tren peningkatan dengan inflasi inti Tokyo diperkirakan naik ke 1,7%. Kondisi ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa Bank of Japan (BoJ) berpotensi menaikkan suku bunga hingga 1,25% pada Desember 2026, seiring normalisasi kebijakan moneter yang berjalan gradual.

Indonesia: Paket Stimulus Dorong Momentum Ekonomi Semester II

Dari dalam negeri, Pemerintah Indonesia dijadwalkan meluncurkan paket stimulus ekonomi semester II-2026 yang mencakup berbagai insentif fiskal dan bantuan langsung untuk menjaga daya beli masyarakat.

Stimulus tersebut meliputi relaksasi PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar 100% untuk tiket pesawat domestik kelas ekonomi dengan alokasi anggaran sekitar Rp472,2 miliar, serta diskon tarif transportasi darat dan laut senilai Rp190,5 miliar.

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan program magang bagi kelompok masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah sebagai bagian dari bantuan non-tunai untuk mendukung peningkatan keterampilan dan partisipasi tenaga kerja.

 

You Might Also Like

Ekonomi Indonesia Lampaui Ekspektasi, Rupiah Menguat ke Bawah 18.000

Purbaya Tunda Pungut Pajak Marketplace, Baru Berlaku 1 November 2026

Iran dan Oman Dikabarkan Capai Kesepakatan Soal Selat Hormuz

Purbaya Tambah Dana SAL ke Himbara Rp 70 T hingga Juli 2027

Ekonomi Indonesia Tumbuh di Atas Ekspektasi, IHSG Bakal Kemana?

TAGGED: data pekan ini, pekan ini
Aurelia June 22, 2026 June 22, 2026
Previous Article BEI Optimis Indonesia Akan Tetap di Kategori Emerging Market
Next Article BI Sudah Naikkan Suku Bunga 100 Bps, Harga Obligasi Sudah Murah?
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Mentari Greenwich B7-8, Jl. Letda Sujono No.64, Bandar Selamat, Kec. Medan Tembung, Kota Medan, Sumatera Utara 20223
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?