[Medan | 14 September 2026] Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak volatil dengan kecenderungan tertekan pada perdagangan pekan ini, 14-18 September 2026. Perhatian investor akan tertuju pada keputusan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) dan Bank of Japan (BoJ) yang berpotensi menentukan arah likuiditas global dan minat terhadap aset berisiko.
IHSG Terkoreksi 1,43% Pekan Lalu
IHSG ditutup melemah 47,96 poin atau 0,73% ke level 6.541,38 pada perdagangan Jumat (11/9/2026). Dengan demikian, sepanjang pekan lalu IHSG terkoreksi 1,43% setelah sebelumnya sempat mendekati area resistansi 6.705. Nilai transaksi pada perdagangan terakhir mencapai Rp14,68 triliun dengan volume 30,44 miliar saham. Sebanyak 183 saham menguat, 453 saham melemah, dan 153 saham stagnan.
Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai tekanan jual masih berpotensi membawa IHSG menguji area 6.370-6.451. Sementara itu, level support berada di 6.448 dan 6.318, dengan resistansi 6.633 dan 6.705.
IHSG Masih Punya Ruang untuk Rebound
Berbeda dengan pandangan tersebut, Analis Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova melihat peluang pemantulan setelah IHSG membentuk pola candle hammer pada akhir pekan lalu. Menurutnya, IHSG berpeluang menguat menuju area 6.752-6.835, meski kenaikan tersebut tetap berpotensi diikuti koreksi. Ivan memperkirakan support berada di 6.448, 6.368, dan 6.288, sementara resistansi berada di 6.752, 6.835, 6.916, hingga 7.071.
Pandangan yang lebih konstruktif juga datang dari Mirae Asset Sekuritas. Senior Technical Analyst M. Nafan Aji Gusta menilai struktur IHSG masih bullish meskipun indeks mengalami koreksi dan telah menguji MA20 serta wave (iv).
Yield US Treasury Hampir 5%
Tekanan terhadap IHSG tidak terlepas dari pergerakan pasar obligasi global. Setelah rilis data inflasi AS Agustus sebesar 0,4% secara bulanan, ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Fed menjadi perhatian investor.
Spekulasi kebijakan yang lebih hawkish mendorong aksi jual di pasar US Treasury. Yield Treasury tenor 10 tahun bahkan naik hingga 4,975%, sementara tenor 2 tahun mencapai 4,644%. Kenaikan yield AS dapat meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar dan membuat investor lebih selektif terhadap aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang.
Harga Minyak Ikut Menekan Sentimen
Selain yield obligasi AS, kenaikan harga minyak menjadi risiko lain bagi pasar saham. Gangguan pasokan akibat konflik di kawasan Timur Tengah dan risiko terhadap arus minyak melalui Selat Hormuz membuat harga energi kembali meningkat.
Menurut Indo Premier Sekuritas, pelemahan IHSG pekan lalu dipengaruhi kombinasi aksi profit taking dan lonjakan harga minyak. Kondisi tersebut membuat investor cenderung lebih defensif di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter global. Sementara itu, Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG memasuki fase konsolidasi dengan resistansi 6.700, pivot 6.550, dan support 6.450. Secara mingguan, IHSG diperkirakan bergerak dalam kisaran 6.450-6.700.
Keyakinan Konsumen Naik, Tapi Belum Sepenuhnya Kuat
Dari dalam negeri, penguatan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menjadi salah satu penopang sentimen. IKK Agustus 2026 meningkat menjadi 118,5, sementara rupiah menguat 0,21% ke level Rp17.641 per dolar AS.
Namun, Indo Premier menilai kenaikan keyakinan konsumen belum otomatis menunjukkan perbaikan pendapatan riil masyarakat. Porsi tabungan konsumen disebut turun dari 16,8% menjadi 15,8%, sementara peningkatan IKK juga belum merata karena hanya terjadi di enam dari 18 kota yang disurvei BI. Artinya, konsumsi domestik masih perlu mendapat konfirmasi dari data penjualan dan aktivitas ekonomi riil sebelum dapat menjadi katalis yang lebih kuat bagi IHSG.
The Fed dan BoJ Jadi Penentu Utama
Fokus utama pasar pekan ini adalah keputusan suku bunga The Fed pada Kamis (17/9/2026) dini hari dan BoJ pada Jumat (18/9/2026). Pasar saat ini memperkirakan BoJ menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 1,25%, sementara probabilitas kenaikan 25 basis poin oleh The Fed berdasarkan CME FedWatch berada di sekitar 87%.
Keputusan kedua bank sentral tersebut berpotensi memengaruhi arus modal dan posisi investor di aset berisiko. Kenaikan suku bunga BoJ dapat mendorong perubahan posisi pada yen carry trade, sedangkan keputusan dan komunikasi The Fed akan menjadi faktor utama bagi arah likuiditas global.
Jika kedua bank sentral memberikan sinyal yang lebih hawkish dari ekspektasi, tekanan terhadap aset berisiko berpotensi meningkat. Sebaliknya, apabila keputusan dan komunikasi The Fed maupun BoJ relatif sesuai ekspektasi, IHSG masih memiliki ruang untuk melakukan rebound dari area support.
Untuk saat ini, area 6.450 menjadi level penting yang perlu diperhatikan. Bertahan di atas level tersebut membuka peluang rebound, sedangkan penembusan ke bawah dapat meningkatkan risiko koreksi lebih lanjut.

