[Medan | 14 September 2026] Harga minyak mentah dunia kembali melonjak setelah Arab Saudi menghentikan operasi pipa minyak utama menyusul serangan. Gangguan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global, terutama karena pipa tersebut selama ini menjadi jalur alternatif untuk menghindari Selat Hormuz di tengah konflik AS-Iran.
Brent Mendekati US$108 per Barel
Harga minyak Brent naik mendekati US$108 per barel pada perdagangan awal pekan, setelah sebelumnya melonjak hampir 9% sepanjang pekan lalu. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar US$103 per barel. Kenaikan juga terjadi pada pasar gas alam Eropa yang sempat melonjak hingga 3,8%. Pergerakan tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Arab Saudi Hentikan Operasi Pipa Timur-Barat
Arab Saudi pada Jumat malam menyatakan telah menghentikan operasi Pipa Timur-Barat sebagai langkah pencegahan setelah terjadi serangan sehari sebelumnya. Hingga kini belum ada kepastian kapan jalur tersebut akan kembali beroperasi. Pipa yang memiliki kapasitas sekitar 7 juta barel per hari tersebut mengangkut minyak dari wilayah timur Arab Saudi menuju pelabuhan di Laut Merah. Jalur ini menjadi semakin penting karena memungkinkan ekspor minyak tetap berjalan tanpa harus melewati Selat Hormuz.
Analis pasar minyak senior Sparta Commodities June Goh mengatakan dampak gangguan sangat bergantung pada berapa lama penghentian berlangsung. Jika operasi segera kembali normal, dampaknya diperkirakan terbatas karena persediaan minyak di Yanbu masih dapat digunakan. Namun, penghentian berkepanjangan berpotensi memaksa Arab Saudi memangkas produksi.
Jalur Hormuz Kembali Jadi Perhatian
Gangguan terhadap pipa Arab Saudi terjadi ketika pasar juga masih menghadapi ketidakpastian terkait Selat Hormuz. Pertemuan yang direncanakan antara Iran dan sejumlah negara Teluk untuk membahas pembentukan jalur pelayaran sementara melalui Hormuz ditunda. Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi mengonfirmasi penundaan tersebut. Bahrain sebelumnya menyatakan tidak akan menghadiri pertemuan, sementara Arab Saudi juga dilaporkan masih memiliki keraguan terhadap rencana tersebut.
Di saat yang sama, serangan kelompok Houthi yang didukung Iran di sepanjang pantai Laut Merah meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur Bab el-Mandeb, salah satu jalur perdagangan maritim penting lainnya.
Konflik AS-Iran Ganggu Pasokan Energi
Harga minyak mentah telah melonjak sekitar 77% sepanjang tahun ini seiring konflik AS-Iran yang semakin meluas. Gangguan ekspor dan meningkatnya risiko terhadap jalur pelayaran membuat pasar energi harus menghadapi pasokan yang semakin terbatas.
Dengan Iran dan AS masih memperebutkan kendali atas Selat Hormuz, keberadaan Pipa Timur-Barat menjadi semakin strategis untuk menjaga kelancaran ekspor minyak Arab Saudi. Di Irak, pemerintah juga mengambil langkah untuk merespons serangan tersebut setelah diketahui bahwa serangan terhadap pipa vital Arab Saudi diduga dilancarkan dari wilayah Irak.
AS Perketat Tekanan terhadap Iran
Tekanan terhadap Iran juga terus meningkat dari sisi ekonomi dan militer. Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya mengatakan Washington akan mengumumkan sanksi terhadap sebuah bank besar sebagai bagian dari upaya meningkatkan tekanan terhadap Teheran.
Sementara itu, Angkatan Laut AS disebut masih memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran untuk membatasi ekspor energi negara tersebut. Kombinasi gangguan produksi, ekspor, dan jalur pelayaran membuat risiko pasokan minyak dalam jangka pendek semakin tinggi.
Backwardation Brent Makin Dalam
Kekhawatiran pasar juga terlihat dari struktur harga kontrak minyak Brent. Selisih antara kontrak terdekat dan kontrak berikutnya melebar menjadi US$5,53 per barel, dari US$3,84 sepekan sebelumnya. Kondisi tersebut menunjukkan pasar berada dalam backwardation, ketika harga kontrak jangka pendek lebih tinggi dibandingkan kontrak berikutnya. Pola ini umumnya mencerminkan ketatnya pasokan fisik dalam jangka pendek.
Jika penghentian Pipa Timur-Barat berlangsung lama dan jalur Hormuz maupun Bab el-Mandeb tetap terganggu, tekanan terhadap pasokan energi berpotensi semakin besar. Bagi ekonomi global, harga minyak di atas US$100 per barel juga meningkatkan risiko inflasi dan dapat semakin mempersulit bank sentral dalam menentukan arah suku bunga.

