[Medan | 15 September 2026] PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mengumumkan kondisi kahar atau force majeure setelah tiga anak usahanya belum memperoleh persetujuan perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. Pengumuman tersebut muncul di tengah pembicaraan mengenai rencana akuisisi saham mayoritas BYAN oleh pengusaha Haji Isam.
Tiga Anak Usaha BYAN Belum Dapat Persetujuan RKAB
Manajemen BYAN menyebut kondisi force majeure terjadi karena persetujuan perubahan RKAB 2026 belum diterbitkan kepada PT Tiwa Abadi, PT Tanur Jaya, dan PT Fajar Sakti Prima. Perseroan mengatakan permohonan perubahan RKAB telah diajukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Namun, hingga saat ini persetujuan tersebut belum diterbitkan sehingga ketiga anak usaha belum dapat menjalankan kegiatan produksi secara sah.
Kemampuan Memenuhi Kontrak Batu Bara Terdampak
Belum terbitnya persetujuan RKAB membuat BYAN dan anak usahanya menghadapi keterbatasan dalam memenuhi kewajiban suplai batu bara kepada pelanggan sesuai perjanjian. Manajemen menilai kondisi tersebut dapat memberikan dampak material terhadap kelangsungan usaha perseroan. Dengan menyampaikan pemberitahuan force majeure, BYAN berharap dapat meminimalkan risiko maupun konsekuensi yang mungkin timbul akibat ketidakmampuan memenuhi kewajiban tersebut.
Muncul di Tengah Isu Akuisisi Haji Isam
Pengumuman tersebut terjadi ketika pembicaraan antara pengendali BYAN, Low Tuck Kwong, dan pengusaha Jhonlin Group, Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam, terkait pengambilalihan saham mayoritas Bayan Resources masih berlangsung. Mengutip Bloomberg News, Haji Isam disebut menawarkan sekitar US$3 miliar secara tunai untuk membeli 62% saham Bayan Resources. Sebagian pembayaran kemungkinan dilakukan secara bertahap.
Nilai Tawaran Jauh di Bawah Harga Pasar
Jika transaksi tersebut terealisasi pada nilai sekitar US$3 miliar, harga penawaran akan mencerminkan diskon sekitar 80% dibandingkan nilai pasar saat ini. Bayan Resources memiliki kapitalisasi pasar sekitar US$26 miliar. Dengan nilai tersebut, Low Tuck Kwong masih tercatat sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia.
Pasar Menanti Kejelasan Dua Isu Utama
Dua perkembangan kini menjadi perhatian investor BYAN, yakni penyelesaian persoalan RKAB dan kelanjutan pembicaraan akuisisi dengan Haji Isam. Persetujuan RKAB akan menentukan kembali kemampuan produksi dan pemenuhan kontrak batu bara, sementara perkembangan transaksi akan menjadi faktor penting bagi struktur kepemilikan serta prospek perseroan ke depan.

