[Medan | 8 Juli 2026] Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan menghadapi tekanan pada perdagangan Rabu (8/7/2026) setelah dibayangi dua sentimen negatif sekaligus, yakni meningkatnya kembali ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan peringatan dari S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) terkait status pasar modal Indonesia.
Serangan militer Amerika Serikat ke wilayah Iran kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik di Timur Tengah. Di saat yang sama, S&P DJI memasukkan Indonesia ke dalam daftar pemantauan yang berpotensi mengarah pada reklasifikasi ke kategori frontier market apabila persoalan transparansi dan likuiditas pasar tidak kunjung membaik.
Mengutip komentar Sinarmas Sekuritas, meningkatnya ketegangan geopolitik setelah serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap konflik yang lebih luas antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga minyak dunia dan imbal hasil obligasi pemerintah AS, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kembali naik di atas level US$72 per barel, sementara sentimen negatif juga menyeret pergerakan bursa saham global. Kontrak berjangka indeks saham Jepang, Korea Selatan, dan Australia mengindikasikan pembukaan perdagangan yang melemah setelah Wall Street ditutup di zona merah. Indeks S&P 500 terkoreksi sekitar 0,4%, sedangkan Nasdaq 100 turun hingga 1,8% dipimpin pelemahan saham-saham semikonduktor.
S&P Dow Jones Buka Peluang Indonesia Turun ke Frontier
Di tengah sentimen global tersebut, perhatian investor juga tertuju pada keputusan terbaru S&P Dow Jones Indices yang memasukkan Indonesia ke dalam daftar negara yang berpotensi mengalami perubahan klasifikasi pasar pada 2027.
Dalam pengumuman resminya, S&P DJI menyatakan Indonesia dapat dikenakan special measures apabila persoalan transparansi kepemilikan saham dan likuiditas pasar tidak mengalami perbaikan.
Bahkan, apabila berbagai permasalahan tersebut belum terselesaikan dalam satu tahun setelah penerapan special measures, Indonesia berpotensi dievaluasi untuk dipindahkan dari kategori Emerging Market ke Frontier Market pada tinjauan berikutnya.
Meski demikian, S&P DJI menegaskan masih akan memantau implementasi kebijakan transparansi terbaru yang diterbitkan Bursa Efek Indonesia sebelum mengambil keputusan lebih lanjut. Indonesia saat ini berada dalam daftar pemantauan bersama Turki dan Nigeria.
Apa Dampaknya bagi IHSG?
Kombinasi sentimen geopolitik dan kekhawatiran terhadap status pasar modal Indonesia berpotensi meningkatkan volatilitas IHSG dalam jangka pendek. Ancaman perpindahan ke kategori frontier market berpotensi menurunkan minat investor asing, khususnya dana investasi global yang menggunakan indeks sebagai acuan investasi. Selama ketidakpastian tersebut belum mereda, arus modal asing diperkirakan masih cenderung terbatas.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia juga berpotensi memperburuk sentimen terhadap negara pengimpor energi seperti Indonesia karena dapat meningkatkan tekanan inflasi, memperlebar defisit transaksi berjalan, dan menekan nilai tukar rupiah. Meskioun begitu, dampak langsung terhadap IHSG diperkirakan masih terbatas mengingat proses evaluasi S&P DJI masih berlangsung hingga 2027 dan belum ada perubahan klasifikasi pasar saat ini.
Secara Teknikal Masih Berpeluang Rebound
Terlepas dari berbagai sentimen negatif tersebut, sejumlah analis menilai peluang penguatan IHSG masih terbuka secara teknikal. Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda mengatakan IHSG masih memiliki peluang melanjutkan rebound dengan syarat mampu menembus area psikologis 6.000.
Sementara itu, Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai momentum penguatan masih didukung meningkatnya volume pembelian dan keberhasilan indeks menembus rata-rata pergerakan MA20. Menurutnya, IHSG masih berpeluang menguji area 6.083 hingga 6.203 apabila sentimen eksternal tidak memburuk lebih jauh.
Likuiditas Masih Menjadi Tantangan
Di sisi lain, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai ruang penguatan IHSG masih terbatas karena investor asing berbasis indeks belum memiliki alasan kuat untuk kembali meningkatkan eksposur di Indonesia. Menurutnya, pembekuan indeks oleh MSCI pada Agustus lalu, ditambah peringatan terbaru dari S&P DJI, membuat proses rerating pasar Indonesia masih sulit terjadi dalam waktu dekat.
Liza juga menyoroti nilai transaksi harian yang terus menyusut sebagai indikasi bahwa keyakinan pelaku pasar masih rendah. Artinya, penguatan IHSG belakangan ini belum didukung oleh partisipasi investor yang kuat sehingga masih rentan terhadap aksi ambil untung maupun sentimen negatif dari global.
Dengan begitu, arah pergerakan IHSG dalam jangka pendek diperkirakan masih akan ditentukan oleh perkembangan konflik di Timur Tengah, pergerakan harga minyak dunia, arus dana asing, serta respons investor terhadap isu klasifikasi pasar Indonesia. Selama indeks mampu bertahan di atas area support dan likuiditas mulai membaik, peluang melanjutkan rebound menuju area 6.000 masih tetap terbuka.

