[Medan | 6 Juli 2026] Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih memiliki peluang melanjutkan penguatan dan menguji level psikologis 6.000 pada pekan ini. Optimisme tersebut didorong oleh meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS), penurunan harga minyak dunia, serta sejumlah sentimen positif dari dalam negeri.
Meski demikian, sejumlah analis mengingatkan bahwa keberlanjutan reli IHSG masih bergantung pada kembalinya aliran dana asing ke pasar saham domestik. Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta, menilai secara teknikal IHSG telah berhasil keluar dari fase tekanan dan membentuk pola three advancing soldiers, yang umumnya mengindikasikan potensi kelanjutan tren naik.
Namun, ia menilai investor asing masih cenderung berhati-hati sehingga ruang penguatan indeks masih sangat dipengaruhi oleh besarnya arus beli (net buy) asing dalam beberapa hari ke depan.
Hingga saat ini, investor asing masih membukukan net foreign sell sekitar Rp88,89 triliun secara year-to-date, sejalan dengan koreksi IHSG yang masih mencapai sekitar 32% sejak awal tahun. Secara teknikal, Nafan memperkirakan area support IHSG berada di kisaran 5.723-5.568, sedangkan resistance berada pada level 5.972-6.127.
Peluang Tembus 6.000 Masih Terbuka
Phintraco Sekuritas menilai peluang IHSG menembus level 6.000 semakin besar setelah pasar global merespons positif perlambatan pasar tenaga kerja Amerika Serikat. Data Nonfarm Payrolls (NFP) Juni yang lebih rendah dari ekspektasi memperkuat keyakinan investor bahwa Federal Reserve berpotensi menunda kenaikan suku bunga, sehingga meningkatkan minat terhadap aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang.
Di sisi lain, penurunan harga minyak dunia turut meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global, sementara harga emas mencatat kenaikan sekitar 2,3% sepanjang pekan lalu seiring meningkatnya permintaan aset lindung nilai. “Kombinasi koreksi harga minyak dan rebound harga emas memberikan ruang bagi IHSG untuk menguji level psikologis 6.000 pada pekan ini,” tulis Phintraco dalam risetnya.
Pasar Menanti Sejumlah Data Penting
Pergerakan IHSG sepanjang pekan ini juga diperkirakan dipengaruhi sejumlah agenda ekonomi global. Investor akan mencermati risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC Minutes), data ISM Services PMI, penjualan rumah eksisting, serta neraca perdagangan Amerika Serikat guna memperoleh petunjuk mengenai arah kebijakan moneter The Fed.
Dari kawasan Eropa, perhatian tertuju pada publikasi risalah kebijakan European Central Bank (ECB), sementara dari Asia pasar menunggu sejumlah data ekonomi Jepang dan China, serta perkembangan pertemuan OPEC.
Di dalam negeri, pelaku pasar akan mencermati rilis data cadangan devisa, Indeks Keyakinan Konsumen, penjualan ritel, hingga penjualan kendaraan bermotor, yang dinilai dapat memberikan gambaran mengenai kekuatan konsumsi domestik.
Selain itu, rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk mengevaluasi sejumlah kebijakan perdagangan juga dipandang sebagai sentimen positif. Evaluasi tersebut mencakup penyederhanaan kriteria papan pemantauan khusus serta perubahan mekanisme auto rejection menjadi sistem bertingkat guna meningkatkan efisiensi dan transparansi perdagangan.
Risiko Koreksi Masih Perlu Diwaspadai
Sementara itu, Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengingatkan bahwa secara teknikal IHSG masih berpotensi mengalami koreksi jangka pendek sebelum melanjutkan penguatan. Menurutnya, indeks masih berada dalam fase wave (b) dari wave [iv], sehingga berpeluang menguji area 5.472-5.540.
Meski demikian, ia juga membuka kemungkinan skenario yang lebih positif apabila IHSG ternyata sedang membentuk awal wave [v] dari wave 3, yang dapat membuka ruang penguatan lebih lanjut dalam beberapa waktu ke depan.
Implikasi ke Pasar
Selama ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed terus mereda dan harga minyak tetap bergerak stabil, sentimen global berpotensi tetap mendukung aset berisiko, termasuk pasar saham Indonesia. Namun, keberlanjutan penguatan IHSG masih akan sangat bergantung pada kembalinya arus dana asing ke pasar domestik. Tanpa dukungan foreign inflow, penguatan indeks berpotensi terbatas dan rentan mengalami aksi ambil untung di area psikologis 6.000.

