[Medan | 27 April 2026] Penerapan mandatori biodiesel 50% (B50) mulai 1 Juli 2026 diperkirakan akan menjadi katalis kuat bagi sektor kelapa sawit. Kebijakan ini berpotensi meningkatkan serapan domestik CPO secara signifikan dan mengurangi ketergantungan pada ekspor.
Emiten Sawit Berpeluang Tingkatkan Kinerja
Analis melihat peningkatan demand domestik akan menopang ASP emiten seperti PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), dan PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP). Emiten dengan efisiensi tinggi dan profil tanaman muda seperti TAPG dan DSNG dinilai paling diuntungkan.
Katalis Tambahan dari Harga Energi
Selain B50, tingginya harga minyak dunia serta permintaan dari India dan China turut menjadi penopang harga CPO. Kondisi ini berpotensi menjaga margin emiten tetap solid dalam jangka menengah.
Risiko Masih Perlu Dicermati
Sejumlah risiko tetap membayangi, mulai dari normalisasi cuaca, regulasi ekspor Uni Eropa (EUDR), volatilitas rupiah, hingga potensi kenaikan pungutan sektor sawit. Dari sisi fundamental, stagnasi produksi dan isu aging trees tanpa replanting juga dapat membatasi pertumbuhan.
Tantangan Implementasi B50
Implementasi penuh B50 membutuhkan pasokan metanol besar yang saat ini masih bergantung pada impor. Pemerintah tengah mengkaji pengembangan produksi domestik untuk mendukung keberlanjutan program.
Outlook & Rekomendasi
Secara keseluruhan, kebijakan B50 memperkuat outlook sektor sawit. Analis merekomendasikan strategi selektif, dengan fokus pada DSNG dan TAPG untuk akumulasi, serta LSIP sebagai opsi buy, seiring potensi kinerja yang tetap solid di tengah dukungan harga komoditas.

