[Medan | 11 Juni 2026] IHSG berpotensi memasuki fase konsolidasi atau koreksi sehat setelah mencatat lonjakan luar biasa dalam dua hari terakhir. Setelah melonjak 7,57% pada Selasa, indeks kembali menguat 2,71% pada Rabu dan ditutup di level 5.902,38. Secara akumulatif, IHSG telah naik lebih dari 10% hanya dalam dua sesi perdagangan.
Penguatan tersebut didorong kombinasi sejumlah sentimen domestik positif, mulai dari kenaikan suku bunga Bank Indonesia sebesar 25 bps menjadi 5,50%, klarifikasi pemerintah terkait Dana Stabilitas Indonesia (DSI), batalnya wacana perubahan skema bagi hasil sektor minerba, hingga ekspektasi buyback saham oleh sejumlah emiten dan BUMN.
Meski demikian, reli yang terlalu cepat biasanya diikuti aksi profit taking, terutama ketika investor asing masih belum menunjukkan minat kembali masuk secara agresif ke pasar Indonesia.
Asing Masih Net Sell
Salah satu catatan penting dari penguatan IHSG dalam dua hari terakhir adalah masih terjadinya aksi jual bersih investor asing.
Pada perdagangan Rabu (10/6), investor asing tercatat membukukan net sell sekitar Rp2,9 triliun. Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan pasar saat ini masih lebih banyak ditopang oleh investor domestik dibandingkan aliran modal asing.
Hal ini menjadi sinyal bahwa kepercayaan investor global terhadap aset Indonesia belum sepenuhnya pulih meskipun beberapa risiko domestik mulai mereda.
Level 6.000 Jadi Ujian Penting
Secara teknikal, area 6.000 menjadi resistance psikologis yang cukup kuat bagi IHSG.
Apabila indeks gagal menembus dan bertahan di atas level tersebut, peluang koreksi menuju area support 5.700-5.750 menjadi cukup besar. Namun selama IHSG mampu bertahan di atas area tersebut, tren pemulihan jangka menengah masih relatif terjaga.
Dengan kata lain, koreksi yang terjadi dalam beberapa hari ke depan berpotensi menjadi koreksi sehat setelah reli tajam, bukan berarti tren rebound telah berakhir.
Risiko Global Masih Membayangi
Selain faktor teknikal, pasar juga masih menghadapi sejumlah risiko eksternal yang signifikan.
Pertama, investor global saat ini menunggu rilis data inflasi AS (CPI) yang akan menjadi salah satu penentu arah kebijakan Federal Reserve pada pertemuan pekan depan. Jika inflasi kembali lebih tinggi dari ekspektasi, peluang pemangkasan suku bunga akan semakin mengecil dan dapat menekan sentimen pasar global.
Kedua, pasar juga mulai memperhitungkan kemungkinan Bank of Japan (BoJ) menaikkan suku bunga sebesar 25 bps pada pertemuan pekan depan. Jika terjadi, langkah tersebut dapat memperketat likuiditas global dan memicu volatilitas di pasar emerging markets.
Ketiga, eskalasi konflik Timur Tengah kembali meningkat setelah Amerika Serikat melancarkan serangan baru ke Iran. Bahkan Iran kembali menutup Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia. Kondisi ini berpotensi mendorong harga minyak kembali naik dan meningkatkan risiko inflasi global.
Keempat, Pertamina resmi menaikkan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter mulai 10 Juni 2026. Kenaikan harga BBM non-subsidi ini berpotensi meningkatkan tekanan inflasi domestik dan mempengaruhi daya beli masyarakat dalam beberapa bulan ke depan.
Analisa
Kenaikan IHSG dalam dua hari terakhir memang memberikan sinyal bahwa kepanikan pasar mulai mereda. Namun, hal tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh risiko telah berlalu.
Sebagian besar katalis yang mendorong penguatan berasal dari faktor domestik dan perbaikan sentimen jangka pendek. Sementara itu, investor asing masih mencatatkan net sell, risiko geopolitik global masih tinggi, dan pasar masih menunggu arah kebijakan bank sentral utama dunia.
Dengan demikian, reli yang terjadi saat ini lebih tepat disebut sebagai technical rebound dibandingkan awal dari bull market baru. Investor masih perlu mencermati apakah penguatan ini mampu diikuti oleh kembalinya aliran dana asing dan membaiknya kondisi makro global.

