[Medan | 29 Juli 2026] PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp29,5 triliun pada semester I-2026, tumbuh 1,8% secara tahunan (year-on-year/yoy). Kinerja tersebut ditopang oleh pertumbuhan penyaluran kredit, peningkatan dana murah (CASA), serta kenaikan pendapatan berbasis komisi (fee based income).
Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, pendapatan operasional BCA meningkat 2,2% yoy menjadi Rp55,8 triliun. Di tengah tekanan suku bunga yang masih tinggi, pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) turun tipis 0,6% yoy menjadi Rp42,4 triliun. Namun, pelemahan tersebut berhasil diimbangi oleh kenaikan pendapatan nonbunga sebesar 11% yoy menjadi Rp13,2 triliun.
Pertumbuhan Kredit Tetap Solid
Penyaluran kredit BCA mencapai Rp1.036 triliun hingga akhir Juni 2026 atau tumbuh 8% yoy. Pertumbuhan tersebut didukung oleh kondisi likuiditas yang masih kuat. Dana pihak ketiga (DPK) meningkat 7,9% yoy menjadi Rp1.284 triliun, sementara dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) tumbuh lebih tinggi, yakni 10,2% yoy menjadi Rp1.082 triliun.
Presiden Direktur BCA Hendra Lembong mengatakan pertumbuhan bisnis perseroan didukung oleh berbagai program pemasaran, termasuk BCA Expoversary 2026, serta ekspansi pembiayaan ke berbagai sektor produktif. “Kami memastikan penyaluran kredit tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dengan mempertimbangkan kondisi likuiditas perusahaan,” ujar Hendra.
Kredit Korporasi dan Green Financing Tumbuh Pesat
Segmen kredit produktif menjadi kontributor utama pertumbuhan pembiayaan BCA. Total kredit produktif tercatat mencapai Rp802 triliun, naik 11% yoy. Kredit korporasi tumbuh 13,6% yoy menjadi Rp513,4 triliun, sedangkan kredit komersial dan UKM meningkat 6,6% yoy menjadi Rp288,5 triliun.
BCA juga terus memperluas pembiayaan berkelanjutan (green financing). Hingga Juni 2026, total pembiayaan hijau mencapai Rp123 triliun, meningkat 19% yoy. Di dalamnya, pembiayaan sektor energi baru terbarukan melonjak 82% yoy menjadi Rp7,7 triliun, sementara kredit kendaraan listrik naik 25% yoy menjadi Rp4 triliun.
Kualitas Aset Tetap Terjaga
Di tengah kondisi suku bunga yang masih relatif tinggi, kualitas aset BCA tetap menunjukkan kondisi yang sehat. Rasio Loan at Risk (LAR) tercatat 4,9%, sedangkan rasio Non-Performing Loan (NPL) berada di level 1,9%, mencerminkan kemampuan perseroan menjaga kualitas kredit sekaligus mengendalikan risiko pembiayaan.
Dampaknya
Kinerja semester I-2026 menunjukkan fundamental BBCA masih sangat solid meskipun pertumbuhan laba mulai melambat dibanding beberapa tahun sebelumnya. Pertumbuhan kredit yang tetap kuat, peningkatan dana murah (CASA), serta kualitas aset yang terjaga menjadi faktor positif yang menunjukkan kemampuan BCA menjaga profitabilitas di tengah lingkungan suku bunga tinggi.
Bagi pasar saham, hasil ini berpotensi menjadi sentimen positif bagi saham BBCA dan sektor perbankan secara umum karena menunjukkan permintaan kredit domestik masih bertumbuh dan likuiditas perbankan tetap kuat. Namun, perlambatan pendapatan bunga bersih (NII) mengindikasikan margin bunga mulai tertekan sehingga investor kemungkinan akan lebih mencermati prospek penurunan suku bunga Bank Indonesia maupun The Fed ke depan.
Di pasar obligasi dan rupiah, kinerja BCA memperkuat persepsi bahwa kondisi sektor perbankan Indonesia masih sehat. Hal tersebut dapat membantu menjaga kepercayaan investor terhadap aset keuangan domestik, meski arah pergerakan pasar secara keseluruhan tetap akan lebih dipengaruhi oleh perkembangan kebijakan moneter global dan kondisi geopolitik.

